Tampilkan postingan dengan label Joke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Joke. Tampilkan semua postingan
Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman.
Siti menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Imam . Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri.
TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Imam tidak merasakan hal yang sama, takut kalau Imam tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Imam dan dengan harapan, bahwa Imam lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Siti.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Imam dan Siti pergi ke arah yang berlainan. Imam melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Siti mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Siti merindukan Imam akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Imam bagaimana perasaan cintanya, jika Imam kembali.
Dan tiba-tiba, surat dari Imam terhenti. Siti menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Siti tetap berharap bahwa Imam akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat.Dan doanya terkabul.
Dia menerima surat dari Imam , mengatakan.. .! ” Siti, aku punya kejutan untukmu…temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Imam”
Siti berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.
Ketika harinya telah tiba, Siti menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Imam kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Imam . Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Siti, “Hai! Aku Angie, temannya Imam.Kamu Siti?” tanyanya. Siti menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Imam tidak akan datang. Dia tidak akan pernah bisa datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Siti.
Siti tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Siti bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. “Dimana Imam ? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Siti memohon kepada si wanita.
Si wanita melihat dengan cermat ke Siti dan dia menepuk pundak Siti dan mengatakan,
“ALAMAK SITI… INI EYKE IMAM… APAKAH EYKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH….AIH.. ….YEY NGGAK BISA NGENALIN EYKE LAGI YAH??? IHHH… SEBEL DEH….. !!!”
………dan kemudian Siti-pun langsung terkapar tak sadarkan diri…..
Whuaaaakakakakkaaaa aakkkkk.. ….serius amat bacanya !!

Siti menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Imam . Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri.
TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Imam tidak merasakan hal yang sama, takut kalau Imam tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Imam dan dengan harapan, bahwa Imam lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Siti.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Imam dan Siti pergi ke arah yang berlainan. Imam melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Siti mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Siti merindukan Imam akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Imam bagaimana perasaan cintanya, jika Imam kembali.
Dan tiba-tiba, surat dari Imam terhenti. Siti menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Siti tetap berharap bahwa Imam akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat.Dan doanya terkabul.
Dia menerima surat dari Imam , mengatakan.. .! ” Siti, aku punya kejutan untukmu…temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Imam”
Siti berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.
Ketika harinya telah tiba, Siti menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Imam kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Imam . Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Siti, “Hai! Aku Angie, temannya Imam.Kamu Siti?” tanyanya. Siti menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Imam tidak akan datang. Dia tidak akan pernah bisa datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Siti.
Siti tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Siti bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. “Dimana Imam ? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Siti memohon kepada si wanita.
Si wanita melihat dengan cermat ke Siti dan dia menepuk pundak Siti dan mengatakan,
“ALAMAK SITI… INI EYKE IMAM… APAKAH EYKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH….AIH.. ….YEY NGGAK BISA NGENALIN EYKE LAGI YAH??? IHHH… SEBEL DEH….. !!!”
………dan kemudian Siti-pun langsung terkapar tak sadarkan diri…..
Whuaaaakakakakkaaaa aakkkkk.. ….serius amat bacanya !!


Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=8720
1. “Why is everybody in a hurry??”
Ditanya seorang bule ketika dia liat mobil mobil pada nyalip lewat bahu jalan tol
2. “Why do you still live with ur parents?”
Ditanya seorang bule kepada seorang wanita 25 tahun. Nampaknya si bule membandingkan dengan tempat tinggalnya di Amerika
3. “Can you teach me how to say R?”
Maksudnya R-nya Indonesia. Hehehehe
4. “Why do you call me BULE?”
5. “What is Ojek in english?”
6. “Is this Kampong?”
Ditanya oleh bule yang terkejut dibawa lewat jalan tikus
7. “Why are we not moving”
Ditanya sama bule yang lagi naik angkot. Yang ditanya mau jawab ngetem tapi ga tau bahasa inggrisnya ngetem apa…
8. “Why would anyone in the world would give its son’s name booty man (budiman)?”
9.”What’s the difference between ‘Ya iyalaah’ and ‘Ya iya dooong?”
10. “What are you eating?”
Masalahnya yang ditanya lagi makan otak otak… Bingung deh dia jawabnya.. masak dijawab BRAIN BRAIN?
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=139128
Ditanya seorang bule ketika dia liat mobil mobil pada nyalip lewat bahu jalan tol
2. “Why do you still live with ur parents?”
Ditanya seorang bule kepada seorang wanita 25 tahun. Nampaknya si bule membandingkan dengan tempat tinggalnya di Amerika
3. “Can you teach me how to say R?”
Maksudnya R-nya Indonesia. Hehehehe
4. “Why do you call me BULE?”
5. “What is Ojek in english?”
6. “Is this Kampong?”
Ditanya oleh bule yang terkejut dibawa lewat jalan tikus
7. “Why are we not moving”
Ditanya sama bule yang lagi naik angkot. Yang ditanya mau jawab ngetem tapi ga tau bahasa inggrisnya ngetem apa…
8. “Why would anyone in the world would give its son’s name booty man (budiman)?”
9.”What’s the difference between ‘Ya iyalaah’ and ‘Ya iya dooong?”
10. “What are you eating?”
Masalahnya yang ditanya lagi makan otak otak… Bingung deh dia jawabnya.. masak dijawab BRAIN BRAIN?
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=139128
Kaget liat kartu ATM diatas? Gw ada cerita nih?
Dari informasi temen kantor, gw dapet informasi bahwa di kartu ATM sebenernya boleh mencantumkan nama panggilan. Gila, beberapa tahun gawe di Bank, gw baru tau akan adanya hal yang luar biasa keren ini.
Ichanx : Boleh apa aja?
Temen : Iya
Ichanx : Gw pake nama "Mama Loren" boleh?
Temen : Terserah, asal lo siap dianggap emak-emak tukang ngibulin orang.
Ichanx : Gimana caranya?
Temen : Lu pake password gw aja. Isi form pemesanan ATM seperti biasa, trus lo ubah bagian Nama Di Kartu terserah dengan nama apa aja yang lo mau.
Woooowwww. Sebuah ide cemerlang hadir di otak gw yang emang pada dasarnya sangat brilian (di kamus gw brilian = moron). Dengan lihainya gw memesan 2 buah kartu ATM untuk 2 rekening yang gw punya. Satu rekening gaji, satu lagi rekening tabungan pribadi yang
selalu bersaldo hampir nihil setiap menjelang gajian (cita-cita mo nabung gak pernah kesampean). Nama yang gw pilih adalah nama yang bisa dilihat di gambar diatas dan nama lain yang gw rasa keren.
Sekitar seminggu kemudian, kartu ATM pesenan gw dateng. Betapa gembiranya hati si ichanx ketika melihat nama yang tertulis di kedua kartu tersebut. Kartu ATM dengan nama pilihan ini tersimpan rapi di dompet dan selalu gw pake sehari-hari.
Bulan April kemaren, gw cuti ke Bandung. Sial buat gw, dengan bodohnya gw ketuker masukin PIN, dan berakibat ke dua ATM keblokir. Gw nelpon kantor, maksudnya minta tolong dibukain blokirannya. Sibuk terus. Damn! Berhubung gw lagi butuh banget uang tunai, dengan terpaksa gw dateng ke cabang Bank Mandiri terdekat.
Seorang CS berwujud neng geulis menyambut gw dengan ramah. Berhubung gw udah biasa berposisi sebagai orang ramah dalam kehidupan sehari-hari, gw tanggepin keramahan si CS geulis itu dengan biasa-biasa aja. Gak ada kekaguman di hati gw. Gw baru kagum kalo si CS tiba-tiba ngajak gw nge-date, yang mana hal itu tentunya sangat mustahil.
"Selamat siang Pak, saya Inem (bukan nama sebenarnya), dengan bapak siapa?" CS geulis nan ramah ini menjabat tangan gw dan membuka pembicaraan.
"Maaf, saya gak sreg dipanggil bapak. Emangnya tampang saya seperti bapak-bapak?" Gw menjawab dengan mimik muka marah, padahal kesenengan bisa salaman dengan tangan mulus si CS geulis
"Oh maaf Mas, maksud saya?." Cs itu gelagapan.
"Mas lagi?. Ini di Bandung, dan gw orang Sunda! Panggil saya KANG!" Gw mulai bikin si CS salah tingkah.
"Baik Kang. Maaf, nama akang siapa?" tanyanya sedikit bergetar.
"Aahh? Gak usah basa-basi deh. Nih kartu ATM saya keblokir salah pencet PIN, tolong bukain!" Gw menjawab ketus sambil ngasih salah satu kartu ATM gw.
"Baik? saya cek sebentar ya kang?" CS itu membaca nama yang tertulis di kartu dan doi nahan napas sebentar, "?mmm?. kang Ganteng
Maut????" dia bertanya bingung.
"Makasih pujiannya neng geulis?." Gw nyengir kuda.
CS itu mengucapkan "Astaghfirullah" dengan volume sangat kecil, dan memperlihatkan muka bingung, "Ini nama beneran Kang?".
"Emangnya ada orang tua yang bikin nama palsu buat anaknya?" Gw balik nanya
CS itu menggeleng dan bertanya "Ada buku tabungan dan KTP?".
Dengan tersipu malu gw kasihin buku tabungan dan KTP yang tertulis nama asli gw. Ketauan deh gw boong. Ekspresi "Gila!!! Gw ketemu cowok psyco!!!" tergambar jelas di muka si CS geulis.
Btw, itu CS emang geulis edan! Cantik banget! Bahagia banget orang yang bisa jadi cowoknya!!! huhuhu.
"Blokirnya udah dibuka Kang Ichanx?" si CS udah tau nama asli gw, "? ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Mmm? kartu saya yang satu lagi keblokir juga?" Gw nunduk nahan ketawa dan nyerahin kartu ATM gw yang satu lagi plus buku tabungannya.
CS cantik itu membaca nama yang tertulis di kartu, menggeleng kepala sebentar dan menarik nafas panjang, lalu bilang "Kang, udah nginep di rumah sakit jiwa berapa lama?"
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=29648
Suatu hari Pakde saya datang ke rumah dengan muka pucat. Padahal biasanya dia selalu ceria dan banyak omong, tapi hari itu dia diam saja seperti orang ketakutan. Karena penasaran, aku bertanya, “Kenapa, Pakde? Kok diem aja? Sakit?”
“Nggak, nggak sakit. Pakde cuma masih ngeri aja tadi abis liat tabrakan. Ih, ngeri banget!”
“Tabrakan di mana, Pakde?”
“Di dekat gedung Pemadam Kebakaran yang di sampingnya ada sungai Cipinang,” jawab pakde.
“Di situ emang sering tabrakan, Pakde! Soalnya tikungannya tajam,” ujarku.
“Wah, pokoknya ngeri deh! Sadis banget tabrakannya! Pakde aja sampe sekarang mual-mual pengen muntah kalo kebayang tabrakan yang tadi…” kata Pakde.
“Kejadiannya gimana, Pakde?”
“Tadi Pakde kan lewat jembatan di atas sungai di samping gedung Pemadam. Kecepatannya tinggi banget! Tau-tau ‘Brakkk!!!’ Hancur deh semuanya berkeping-keping.”
“Yang nabrak motor atau mobil?” tanyaku.
“Bukan motor juga bukan mobil.”
“Sepeda?”
“Bukan juga.”
“Apa dong? Masa becak? Kan di situ nggak ada becak?”
“Yang pakde liat itu tabrakan yang terjadinya di sungai, bukan di jalan rayanya.”
“Maksud Pakde???”
“Begini, di tengah sungai itu kan ada kayu balok melintang. Nah, yang nabrak itu bentuknya bulat lonjong warnanya kuning. Dengan kecepatan tinggi, si kuning itu menabrak kayu sampe hancur!! Pecah ke mana-mana…! Iiihhh…mual deh kalo kebayang… hehehe.”
“Brengsek! Dasar pakde gila!”
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=619
“Nggak, nggak sakit. Pakde cuma masih ngeri aja tadi abis liat tabrakan. Ih, ngeri banget!”
“Tabrakan di mana, Pakde?”
“Di dekat gedung Pemadam Kebakaran yang di sampingnya ada sungai Cipinang,” jawab pakde.
“Di situ emang sering tabrakan, Pakde! Soalnya tikungannya tajam,” ujarku.
“Wah, pokoknya ngeri deh! Sadis banget tabrakannya! Pakde aja sampe sekarang mual-mual pengen muntah kalo kebayang tabrakan yang tadi…” kata Pakde.
“Kejadiannya gimana, Pakde?”
“Tadi Pakde kan lewat jembatan di atas sungai di samping gedung Pemadam. Kecepatannya tinggi banget! Tau-tau ‘Brakkk!!!’ Hancur deh semuanya berkeping-keping.”
“Yang nabrak motor atau mobil?” tanyaku.
“Bukan motor juga bukan mobil.”
“Sepeda?”
“Bukan juga.”
“Apa dong? Masa becak? Kan di situ nggak ada becak?”
“Yang pakde liat itu tabrakan yang terjadinya di sungai, bukan di jalan rayanya.”
“Maksud Pakde???”
“Begini, di tengah sungai itu kan ada kayu balok melintang. Nah, yang nabrak itu bentuknya bulat lonjong warnanya kuning. Dengan kecepatan tinggi, si kuning itu menabrak kayu sampe hancur!! Pecah ke mana-mana…! Iiihhh…mual deh kalo kebayang… hehehe.”
“Brengsek! Dasar pakde gila!”
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=619
Seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah, pokoknya serba sempurna, merasa bahwa Tuhan pasti menciptakan seorang perempuan yang sangat cantik dan sempurna pula untuk pasangannya.
Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya itu. Karena terlalu hati-hati sekali dalam memilih,kemanapun ia sulit mendapatkan jodohnya.
Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yang memiliki 3 anak perempuan yang kebetulan semuanya cantik. Lelaki tersebut menemui bapak
petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya, tapi bingung mana yang paling sempurna.
Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dgn anak pertama. Ketika pulang, ia berkata kepada bapak Petani: "Anak pertama bapak cantik tapi memiliki satu cacat kecil yang tak kelihatan, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan."
Hari berikutnya ia pergi dgn anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata: "Anak kedua bapak juga cantik tapi punya cacat yang sebenarnya sangat kecil dan tak begitu kelihatan,
yaitu matanya agak juling."
Petani itu kesal dengan ulah si pemuda, tapi tetap memberi kesempatan memilih kepadanya. Si Petani tahu ia membutuhkan mantu yang gagah untuk memperbaiki status hidupnya.
Akhirnya pergilah si Pemuda dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata: "Inilah yang saya cari-cari, ia benar-benar sempurna."
Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga si Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian ketika Istrinya melahirkan, dengan penuh kebahagian si Lelaki gagah menyaksikan kelahiran anak pertamanya itu.
Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Tiada mirip dengannya sama sekali. Ia menemui bapak Petani dan bertanya: "Kenapa bisa terjadi seperti ini, Pak? Anak bapak cantik dan saya tampan, kenapa anak saya bisa sejelek itu..?"
Petani menjawab: "Wah, gimana yah dik.ia sebenarnya juga punya satu cacat kecil yang tidak kelihatan, yaitu waktu itu Ia sudah hamil duluan....."
Karena itu ia pergi berkeliling untuk mencari jodohnya itu. Karena terlalu hati-hati sekali dalam memilih,kemanapun ia sulit mendapatkan jodohnya.
Kemudian sampailah ia disebuah desa. Ia bertemu dengan seorang petani yang memiliki 3 anak perempuan yang kebetulan semuanya cantik. Lelaki tersebut menemui bapak
petani dan mengatakan bahwa ia ingin mengawini salah satu anaknya, tapi bingung mana yang paling sempurna.
Sang Petani menganjurkan untuk mengencani mereka satu persatu dan si Lelaki setuju. Hari pertama ia pergi berduaan dgn anak pertama. Ketika pulang, ia berkata kepada bapak Petani: "Anak pertama bapak cantik tapi memiliki satu cacat kecil yang tak kelihatan, yaitu jempol kaki kirinya lebih kecil dari jempol kanan."
Hari berikutnya ia pergi dgn anak yang kedua dan ketika pulang dia berkata: "Anak kedua bapak juga cantik tapi punya cacat yang sebenarnya sangat kecil dan tak begitu kelihatan,
yaitu matanya agak juling."
Petani itu kesal dengan ulah si pemuda, tapi tetap memberi kesempatan memilih kepadanya. Si Petani tahu ia membutuhkan mantu yang gagah untuk memperbaiki status hidupnya.
Akhirnya pergilah si Pemuda dengan anak yang ketiga. Begitu pulang ia dengan gembira mendatangi Petani dan berkata: "Inilah yang saya cari-cari, ia benar-benar sempurna."
Lalu menikahlah si Lelaki dgn anak ketiga si Petani tersebut. Sembilan bulan kemudian ketika Istrinya melahirkan, dengan penuh kebahagian si Lelaki gagah menyaksikan kelahiran anak pertamanya itu.
Ketika si anak lahir, Ia begitu kaget dan kecewa karena anaknya sangatlah jelek. Tiada mirip dengannya sama sekali. Ia menemui bapak Petani dan bertanya: "Kenapa bisa terjadi seperti ini, Pak? Anak bapak cantik dan saya tampan, kenapa anak saya bisa sejelek itu..?"
Petani menjawab: "Wah, gimana yah dik.ia sebenarnya juga punya satu cacat kecil yang tidak kelihatan, yaitu waktu itu Ia sudah hamil duluan....."
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=501
Pasangan muda suami istri Bambang dan Siska sedang bermain golf di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh perumahan mewah. Rata-rata harga rumah di kawasan itu 5 milyar rupiah.
”Sis, ati-ati kalo mukul bola, jangan sampai kena kaca rumah orang. Kita bisa bangkrut kalau harus mengganti kaca rumah mewah di sekitar sini,” kata Bambang. Tapi malang, ayunan stick Siska yang kuat ternyata tidak terarah dengan baik dan akhirnya ...praaanggg!!!!!....bola golf itu mengenai kaca rumah paling mewah di dekat situ.
Bambang dan Siska berlari-lari ke arah rumah mewah tersebut. Mereka terkejut ketika sampai di pintu ruang tamu. Tidak hanya kaca-kaca yang berserakan, pot-pot keramik Cina dan vas bunga juga pecah.
”Aduuuh...maaf Pak, istri saya nggak sengaja,” kata Bambang kepada seorang Bapak yang tampak duduk dengan tenang.
”Nggak apa-apa,” kata Bapak itu. ”Saya seharusnya berterima kasih pada anda berdua karena telah membebaskan saya dari belenggu vas bunga kuno buatan Cina itu. Saya sebenarnya adalah jin. Nah, sebagai ucapan terima kasih,saya akan meluluskan tiga permintaan. Satu untuk anda, satu untuk istri anda, dan satu lagi untuk saya sendiri,” ujar Bapak itu dengan mimik serius dan berwibawa.
”Apa permintaan anda?” tanyanya.
”Saya ingin rekening saya setiap bulan terisi 1 milyar rupiah, sepanjang hidup saya,” pinta Bambang.
”Bimsalabim...sudah terlaksana! Silakan cek rekening anda mulai bulan depan,” kata Bapak itu.
”Dan apa permintaan anda, nona cantik?” tanya Bapak itu pada Siska.
”Saya minta mobil dan perhiasan paling mewah yang ada di muka bumi,” katanya. ”Bimsalabim....sudah terlaksana juga! Bisa dilihat mulai besok pagi,” kata Bapak itu lagi.
Bambang dan Siska girang bukan main.
”Lalu, permintaan Bapak Jin sendiri apa?” tanya Bambang penasaran.
”Begini...ehm...saya ingin bercinta sepanjang hari ini bersama istri anda,” jawab Bapak itu. Bambang dan Siska terkejut bukan main. Tapi karena jin itu sudah bermurah hati memberikan mereka segalanya, maka Bambang mengijinkan Siska menemani jin tersebut.
Singkat cerita, mulai pagi itu hingga sore harinya, Siska harus melayani kebutuhan seks Bapak Jin. Menjelang malam, Bapak itu mengijinkan Siska pulang. ”Terima kasih, kamu hebat sekali,” katanya sambil mengedipkan mata.
”Ngomong-ngomong, berapa usia kamu?”
”Saya 25 tahun, Pak,” kata Siska.
”Hah, 25 tahun? Umur 25 tahun kok masih percaya sama jin sih?” kata Bapak itu.
ketipu nih yeee
”Sis, ati-ati kalo mukul bola, jangan sampai kena kaca rumah orang. Kita bisa bangkrut kalau harus mengganti kaca rumah mewah di sekitar sini,” kata Bambang. Tapi malang, ayunan stick Siska yang kuat ternyata tidak terarah dengan baik dan akhirnya ...praaanggg!!!!!....bola golf itu mengenai kaca rumah paling mewah di dekat situ.
Bambang dan Siska berlari-lari ke arah rumah mewah tersebut. Mereka terkejut ketika sampai di pintu ruang tamu. Tidak hanya kaca-kaca yang berserakan, pot-pot keramik Cina dan vas bunga juga pecah.
”Aduuuh...maaf Pak, istri saya nggak sengaja,” kata Bambang kepada seorang Bapak yang tampak duduk dengan tenang.
”Nggak apa-apa,” kata Bapak itu. ”Saya seharusnya berterima kasih pada anda berdua karena telah membebaskan saya dari belenggu vas bunga kuno buatan Cina itu. Saya sebenarnya adalah jin. Nah, sebagai ucapan terima kasih,saya akan meluluskan tiga permintaan. Satu untuk anda, satu untuk istri anda, dan satu lagi untuk saya sendiri,” ujar Bapak itu dengan mimik serius dan berwibawa.
”Apa permintaan anda?” tanyanya.
”Saya ingin rekening saya setiap bulan terisi 1 milyar rupiah, sepanjang hidup saya,” pinta Bambang.
”Bimsalabim...sudah terlaksana! Silakan cek rekening anda mulai bulan depan,” kata Bapak itu.
”Dan apa permintaan anda, nona cantik?” tanya Bapak itu pada Siska.
”Saya minta mobil dan perhiasan paling mewah yang ada di muka bumi,” katanya. ”Bimsalabim....sudah terlaksana juga! Bisa dilihat mulai besok pagi,” kata Bapak itu lagi.
Bambang dan Siska girang bukan main.
”Lalu, permintaan Bapak Jin sendiri apa?” tanya Bambang penasaran.
”Begini...ehm...saya ingin bercinta sepanjang hari ini bersama istri anda,” jawab Bapak itu. Bambang dan Siska terkejut bukan main. Tapi karena jin itu sudah bermurah hati memberikan mereka segalanya, maka Bambang mengijinkan Siska menemani jin tersebut.
Singkat cerita, mulai pagi itu hingga sore harinya, Siska harus melayani kebutuhan seks Bapak Jin. Menjelang malam, Bapak itu mengijinkan Siska pulang. ”Terima kasih, kamu hebat sekali,” katanya sambil mengedipkan mata.
”Ngomong-ngomong, berapa usia kamu?”
”Saya 25 tahun, Pak,” kata Siska.
”Hah, 25 tahun? Umur 25 tahun kok masih percaya sama jin sih?” kata Bapak itu.
ketipu nih yeee
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=605
- Berbaringlah dengan tenang, meskipun anda pasti akan merasa tegang atau grogi..
- Dia akan mendekat dan menanyakan apakah anda takut. kalau dia bertanya demikian, gelengkanlah kepala anda dengan penuh keberanian.
- Lalu dia akan mulai memasukan 'itu' nya. Mungkin suhu badan anda akan meningkat, tapi tenang saja, dia akan melakukannya dengan gentle..
- Dia akan memandang mata anda dalam-dalam, dan meminta anda untuk percaya padanya. Bagaimanapun, dia sudah punya banyak pengalaman dalam hal ini.
- Senyumnya yang menawan akan membuat anda sedikit rileks, dan anda akan membukanya lebih lebar agar dia dapat masuk dengan mudah. Saat ini mungkin anda akan memintanya untuk melakukannya lebih cepat, tapi dia tidak terburu-buru, supaya anda tidak kesakitan.
- Dia juga akan menanyakan kalau-kalau anda merasa sakit. Kalau dia bertanya demikian, meskipun dengan berlinang air mata tetaplah gelengkan kepala anda, dan minta dia untuk meneruskannya. pada momen2 ini mungkin anda juga akan merasa sedikit mati rasa.
- Setelah beberapa saat, anda akan merasakan suatu kelegaan yang luar biasa, dan dia akan menarik 'itu' nya keluar. Dia lalu akan tersenyum hangat, dan memuji betapa hebatnya anda.
- Tersenyumlah, karena bagaimanapun, ini adalah pengalaman pertama anda cabut gigi.....
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=38639
Malam itu, Jatmiko sedang berada sendiri diruang kantornya, ia terpaksa lembur karena besok pagi-pagi sekali Bos memintanya untuk segera menyerahkan laporan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika jam dinding berbunyi. Semua rekan kerjanya sudah pada pulang, paling akhir adalah si Jun yang pulang sekitar pukul 21.00. "masih belum pulang Jatmiko?" tanya Jun. "wah sepertinya aku belum bisa pulang sekarang, kalau kamu mau pulang, duluan saja" ujar Jatmiko sambil terus berkutat dengan seabrek kertas kerja diatas mejanya. "baiklah..aku pulang dulu, sampai ketemu lagi besok" sahut Jun sambil berjalan menuju pintu keluar untuk terus langsung menuju lift.
Sebenarnya Jatmiko agak merasa grogi juga karena hanya seorang diri saja berada didalam kantor tersebut. Beberapa kali dia teringat akan cerita-cerita yang aneh yang pernah dialami oleh seniornya pada saat lembur malam hari, namun ia berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran tersebut. untunglah tak berapa lama kemudian akhirnya laporan tersebut selesai "ah... akhirnya selesai juga laporan ini" ujarnya dalam hati. segera ia berkemas untuk pulang, dilihatnya jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 23.30.
Sambil menenteng tas ia bergegas berjalan meninggalkan ruangan kantor menuju pintu keluar. sementara diluar keadaan sudah sangat sepi sekali, cahaya keremangan terpancar dari lampu diatas eternit , maklumlah saat itu sudah hampir tengah malam. dengan berjalan gontai ia menelusuri lorong untuk menuju lift yang terletak disebelah kirinya. "sepi sekali nih, perasaanku jadi nggak enak. oh iya.. bukankah sekarang malam jumat" sambil begumam sendiri dipercepat langkahnya untuk menuju pintu lift.
Dengan sedikit tergesa-gesa ditekannya tombol untuk membuka lift tersebut, pintu terbuka dan segera ia masuk kedalam. ketika pintu lif akan tertutup tiba-tiba....... ada sebuah tangan menahan laju pintu tersebut dengan cepat orang itu masuk kedalam lift. ternyata seorang wanita muda yang berusia sekitar 25 tahun, mengenakan baju kerja berwarna ungu, wajahnya cantik, putih agak pucat. Jatmiko hanya diam saja berbagai pikiran aneh menghantuinya, ia teringat dengan cerita temannya mengenai roh wanita muda yang sering terlihat disekitar gedung itu menjelang tengah malam.
Segera jatmiko menekan tombol lift untuk menuju kelantai satu, lift mulai bergerak turun...pikirannya semakin kacau karena wanita muda itu hanya diam saja membelakangi dirinya...tidak terasa keringat dingin membasahi kening dan lehernya...... tiba - tiba saja tercium aroma aneh....perlahan jatmiko mundur satu langkah, wanita muda itu tetap berdiri diam. sementara bau aneh itu semakin santer saja.....jatmiko sudah tak kuat lagi, hatinya berdebar dengan kencang, kemudian perlahan wanita itu berbalik kearahnya............rambutnya yang panjang menutupi wajah yang kelihatan pucat pasi.....membuat jatmiko semakin blingsatan.....tiba-tiba..................................
Wanita itu berkata "Maaf mas, saya tadi kentut. abis sudah nggak kuat lagi..................
Sumber : http://katamutiara.info/tulisan.php?id=2133
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika jam dinding berbunyi. Semua rekan kerjanya sudah pada pulang, paling akhir adalah si Jun yang pulang sekitar pukul 21.00. "masih belum pulang Jatmiko?" tanya Jun. "wah sepertinya aku belum bisa pulang sekarang, kalau kamu mau pulang, duluan saja" ujar Jatmiko sambil terus berkutat dengan seabrek kertas kerja diatas mejanya. "baiklah..aku pulang dulu, sampai ketemu lagi besok" sahut Jun sambil berjalan menuju pintu keluar untuk terus langsung menuju lift.
Sebenarnya Jatmiko agak merasa grogi juga karena hanya seorang diri saja berada didalam kantor tersebut. Beberapa kali dia teringat akan cerita-cerita yang aneh yang pernah dialami oleh seniornya pada saat lembur malam hari, namun ia berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran tersebut. untunglah tak berapa lama kemudian akhirnya laporan tersebut selesai "ah... akhirnya selesai juga laporan ini" ujarnya dalam hati. segera ia berkemas untuk pulang, dilihatnya jam dipergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 23.30.
Sambil menenteng tas ia bergegas berjalan meninggalkan ruangan kantor menuju pintu keluar. sementara diluar keadaan sudah sangat sepi sekali, cahaya keremangan terpancar dari lampu diatas eternit , maklumlah saat itu sudah hampir tengah malam. dengan berjalan gontai ia menelusuri lorong untuk menuju lift yang terletak disebelah kirinya. "sepi sekali nih, perasaanku jadi nggak enak. oh iya.. bukankah sekarang malam jumat" sambil begumam sendiri dipercepat langkahnya untuk menuju pintu lift.
Dengan sedikit tergesa-gesa ditekannya tombol untuk membuka lift tersebut, pintu terbuka dan segera ia masuk kedalam. ketika pintu lif akan tertutup tiba-tiba....... ada sebuah tangan menahan laju pintu tersebut dengan cepat orang itu masuk kedalam lift. ternyata seorang wanita muda yang berusia sekitar 25 tahun, mengenakan baju kerja berwarna ungu, wajahnya cantik, putih agak pucat. Jatmiko hanya diam saja berbagai pikiran aneh menghantuinya, ia teringat dengan cerita temannya mengenai roh wanita muda yang sering terlihat disekitar gedung itu menjelang tengah malam.
Segera jatmiko menekan tombol lift untuk menuju kelantai satu, lift mulai bergerak turun...pikirannya semakin kacau karena wanita muda itu hanya diam saja membelakangi dirinya...tidak terasa keringat dingin membasahi kening dan lehernya...... tiba - tiba saja tercium aroma aneh....perlahan jatmiko mundur satu langkah, wanita muda itu tetap berdiri diam. sementara bau aneh itu semakin santer saja.....jatmiko sudah tak kuat lagi, hatinya berdebar dengan kencang, kemudian perlahan wanita itu berbalik kearahnya............rambutnya yang panjang menutupi wajah yang kelihatan pucat pasi.....membuat jatmiko semakin blingsatan.....tiba-tiba..................................
Wanita itu berkata "Maaf mas, saya tadi kentut. abis sudah nggak kuat lagi..................
Sumber : http://katamutiara.info/tulisan.php?id=2133
Berikut ini adalah contoh-contoh Style Message untuk ajak kenalan orang yang kamu sukai di FB.
Style Nyelekit 1
Hmhmhm..tampangnya ok juga..tidak begitu cantik dan tidak begitu jelek pantas untuk jadi teman saya…ini email saya kirim@ketawa.com
Style Nyelekit 2
Walah, foto hancur begitu… kok PD sekali pasang di friendster? Apa nggak ada foto lain ? Kalau kamu mau saya add jadi temanku, tolong fotonya diganti dulu!
Style Nyelekit 3
Walah, kamu cantik tapi juga gendut sekali ya ? Tolong jangan add aku ya!
Style Nyelekit 4.
Kamu cantik tapi masih single, pasti kamu lesbi ya. kalau nggak lesbi pasti bohong. Kalau kamu marah atau tersinggung, jangan lewatemail, kita ketemuan aja. Kalau nggak berani ketemuan, memang benar pasti kamu lesbi
Style PD 1
Kamu cantik tapi sayang sudah bercowok. Sayang sekali cowok kamu jelek, item, miskin, tolol. Sebaiknya saran saya, jangan pernah jadian dulu kalau belum ketemu saya. Ini saya kasih kesempatan, nomor hp saya : 081-xxxx-x-xxxx.
Style PD 2
Aduh cantiknya , kenalan dong. kebetulan nih tampangku keren, pasti banyak yang kira kita pacaran, kalau aku lagi jalan sama kamu. Aku add kamu ya…
Style Standard
Hai, boleh kenalan nggak ? Add aku ya di kirim@ketawa.com
Style Iseng
Boleh minta no HP dong, alamat rumah, telp rumah, alamat kantor, telp kantor bales ya!
Style Iseng 2
Tampang kamu mirip pacar saya! Jangan-jangan kamu kembarannya ya ?
Style Iseng 3
Kamu mirip teman saya deh, atau jangan2 kamu memang pernah jadi teman saya, atau mungkin kita pernah ketemu kali ya di suatu tempat? Kamu merasa kenal aku nggak sebelumnya ?
Style Hopeless
Please dong… jadi temanku… aku tahu kamu cantik… aku jelek… tapi mau kan jadi temanku… Siapa tahu kita bisa jadian. Temanku di friendster baru 2 orang lho. Sudah 6 bulan minta add ke banyak cewek, tapi ditolak terus. Mudah-mudahan kamu mau, soalnya kamu kan baik, aku percaya kok kamu pada dasarnya baik, hati kamu pasti seputih kulit kamu.
Style Hopeless 2
Hai sayang, aku sudah bosan hidup nih, tolong dong, jangan buat aku bunuh diri. Aku lagi pegang pisau nih, siap-siap mau bunuh diri. Kalau kamu nggak mau add jadi temanku, kamu besok baca koran POS KOTA dan lampu merah ya. Pasti nama kamu disebut2 disitu. Aku kasih waktu 1 x 24 jam atau kamu besok baca headline ini. SEORANG PEMUDA MATI BUNUH DIRI KARENA DITOLAK AJAK KENALAN OLEH SEORANG BERNAMA XXXXX (nama kamu tuh !)
Style Tajir , Mupeng dan PD sekali
Kamu cantik dan sexy sekali, malam minggu besok jalan sama aku ya ini nomor hpku: 081-xxxxx-xxxxx, aku biasa bawa mobil mercedes benz serie 7, tapi kalau lagi males aku bawa jaguar aja, kalau kamu inginyang biasa-biasa aja, aku juga baru beli Vios kok. O’ya Apartementku di sudirman lagi kosong lho, nanti kita bermalam minggu disana semalaman nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cowok kamu nggak keberatan. Kalau cowok kamu keberatan, aku punya pembantu wanitayang masih single, nanti suruh cowok kamu bermalam di kamar pembantuku aja ya.
Style Malu-Malu Mau
Hai… boleh kenalan nggak ?
Style Agresif Ngesellin
Hai, kenapa sih nggak mau kenalan sama aku. aku sudah kirim message 45 kali kok, dicuekin terus sih? Memang kamu siapa? Memang saya siapa? Gue tahu elo cantik dan sexy, tapi bukan berarti bla blab lab labla blabla blablablabla
Style Sok Akrab 1
Hai kamu temannya si anu ya, aku tahu kamu dari si anu. Bagaimana kabar kamu? Bapak-ibu gimana? Adik-kakak gimana? Sehat-sehat saja kan? Udah lulus atau udah kerja? Aku boleh add kamu ya?
Style Sok Akrab 2 + Nyelekit
Ya ampun, kamu masih inget saya? Aku kan dulu teman SD/SMP/SMA kamu, kamu kan dulu pernah nembak saya. Maaf dulu kamu saya tolak, soalnya kamu tuh dulu jelek banget, sekarang kok jadi cantik begini
? Operasi plastik di mana ya? Jangan lupa add aku ya, kalau kamu masih penasaran sama aku, nggak apa-apa kok kalau mau nembak aku lagi. Pasti aku terima dengan senang hati
Style Sok Akrab 3 + Ngegombal
Hai, denger-denger kamu habis putus ya dari si ‘anu’. Kamu pasti sedih sekali ya, bagaimana kalau saya datang ke rumah kamu untuk menghibur hati kamu yang luka? Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin ada orang secantik kamu ini ada yang tega melukai hati kamu yang bening seindah kristal ini, pasti sangat menyakitkan buat orang secantik kamu. ini nomor hpku: 081-xxxx-xxxx
Style Gila 1
Kalau kamu sedang kesepian, mungkin saya adalah orang yang tepat untuk dijadikan pacar, kalau kamu sedang punya pacar, mungkin pacar kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan saya, kalau kamu sedang merencanakan perkawinan, batalkan saja, nikahlah denganku saja, kalau kamu sudah kawin, tolong ceraikan suami kamu, kamu ditanggung tidak akan menyesal mendapatkan aku
Style Gila 2
Hai, kamu tolong lihat foto2 saya di friendster ya. Kalau kamu ingin lihat saya dalam keadaan polos/bugil, aku akan kirimkan fotonya dengan syarat kamu kasih saya nomor hp kamu…
Style Ngegombal 1
Aku tidak percaya dari 5 milyard penduduk dunia, ternyata ada satu makhluk termanis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Makhluk itu adalah kamu. Kamu memang diciptakan khusus untukku. Terima kasih Tuhan telah mempertemukan belahan jiwaku lewatfriendster.com. Sayang, will you marry me ?
Style Ngegombal 2
Oh My God, Finally I have found someone, and it was you !, give me your phone number soon, and i will pick you up as soon as possible. and we will looking for ‘pendeta/penghulu’ right now to bless our marriage. Do you agree with that?
Style Kurang Ajar 1
Hai. One Night Stand yuk! Nanti kamu boleh add aku deh jadi temanku
Style Kurang Ajar 2
Hai. Tarif kamu semalam berapa ?
Style Kurang Ajar 3 + Sok Akrab
Hai, kayanya kita pernah kenal deh, kamu kan selingkuhannya si ‘X’ teman saya yang istrinya 2.
Style Tolol
Hai, aku baru join di friendster, bisa tolong ajarin aku nggak caranya makai friendster? Tolong datang ya ke rumahku atau kantorku. Ini alamatnya blablablblblablablablabla
Style Tolol 2
Hai, boleh tanya nggak ya. Sekarang jam berapa ya? Maaf jam saya mati.
Style Tolol 3
Hai, boleh tanya nggak ya. kalau dari Blok M mau ke Bandung, naik bus nomor berapa ya?
Style Tolol 4
Hai, boleh tahu password kamu nggak? Aku lupa password aku, mungkin saja passwordku sama dengan password kamu.
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=42951
Style Nyelekit 1
Hmhmhm..tampangnya ok juga..tidak begitu cantik dan tidak begitu jelek pantas untuk jadi teman saya…ini email saya kirim@ketawa.com
Style Nyelekit 2
Walah, foto hancur begitu… kok PD sekali pasang di friendster? Apa nggak ada foto lain ? Kalau kamu mau saya add jadi temanku, tolong fotonya diganti dulu!
Style Nyelekit 3
Walah, kamu cantik tapi juga gendut sekali ya ? Tolong jangan add aku ya!
Style Nyelekit 4.
Kamu cantik tapi masih single, pasti kamu lesbi ya. kalau nggak lesbi pasti bohong. Kalau kamu marah atau tersinggung, jangan lewatemail, kita ketemuan aja. Kalau nggak berani ketemuan, memang benar pasti kamu lesbi
Style PD 1
Kamu cantik tapi sayang sudah bercowok. Sayang sekali cowok kamu jelek, item, miskin, tolol. Sebaiknya saran saya, jangan pernah jadian dulu kalau belum ketemu saya. Ini saya kasih kesempatan, nomor hp saya : 081-xxxx-x-xxxx.
Style PD 2
Aduh cantiknya , kenalan dong. kebetulan nih tampangku keren, pasti banyak yang kira kita pacaran, kalau aku lagi jalan sama kamu. Aku add kamu ya…
Style Standard
Hai, boleh kenalan nggak ? Add aku ya di kirim@ketawa.com
Style Iseng
Boleh minta no HP dong, alamat rumah, telp rumah, alamat kantor, telp kantor bales ya!
Style Iseng 2
Tampang kamu mirip pacar saya! Jangan-jangan kamu kembarannya ya ?
Style Iseng 3
Kamu mirip teman saya deh, atau jangan2 kamu memang pernah jadi teman saya, atau mungkin kita pernah ketemu kali ya di suatu tempat? Kamu merasa kenal aku nggak sebelumnya ?
Style Hopeless
Please dong… jadi temanku… aku tahu kamu cantik… aku jelek… tapi mau kan jadi temanku… Siapa tahu kita bisa jadian. Temanku di friendster baru 2 orang lho. Sudah 6 bulan minta add ke banyak cewek, tapi ditolak terus. Mudah-mudahan kamu mau, soalnya kamu kan baik, aku percaya kok kamu pada dasarnya baik, hati kamu pasti seputih kulit kamu.
Style Hopeless 2
Hai sayang, aku sudah bosan hidup nih, tolong dong, jangan buat aku bunuh diri. Aku lagi pegang pisau nih, siap-siap mau bunuh diri. Kalau kamu nggak mau add jadi temanku, kamu besok baca koran POS KOTA dan lampu merah ya. Pasti nama kamu disebut2 disitu. Aku kasih waktu 1 x 24 jam atau kamu besok baca headline ini. SEORANG PEMUDA MATI BUNUH DIRI KARENA DITOLAK AJAK KENALAN OLEH SEORANG BERNAMA XXXXX (nama kamu tuh !)
Style Tajir , Mupeng dan PD sekali
Kamu cantik dan sexy sekali, malam minggu besok jalan sama aku ya ini nomor hpku: 081-xxxxx-xxxxx, aku biasa bawa mobil mercedes benz serie 7, tapi kalau lagi males aku bawa jaguar aja, kalau kamu inginyang biasa-biasa aja, aku juga baru beli Vios kok. O’ya Apartementku di sudirman lagi kosong lho, nanti kita bermalam minggu disana semalaman nggak apa-apa kan? Mudah-mudahan cowok kamu nggak keberatan. Kalau cowok kamu keberatan, aku punya pembantu wanitayang masih single, nanti suruh cowok kamu bermalam di kamar pembantuku aja ya.
Style Malu-Malu Mau
Hai… boleh kenalan nggak ?
Style Agresif Ngesellin
Hai, kenapa sih nggak mau kenalan sama aku. aku sudah kirim message 45 kali kok, dicuekin terus sih? Memang kamu siapa? Memang saya siapa? Gue tahu elo cantik dan sexy, tapi bukan berarti bla blab lab labla blabla blablablabla
Style Sok Akrab 1
Hai kamu temannya si anu ya, aku tahu kamu dari si anu. Bagaimana kabar kamu? Bapak-ibu gimana? Adik-kakak gimana? Sehat-sehat saja kan? Udah lulus atau udah kerja? Aku boleh add kamu ya?
Style Sok Akrab 2 + Nyelekit
Ya ampun, kamu masih inget saya? Aku kan dulu teman SD/SMP/SMA kamu, kamu kan dulu pernah nembak saya. Maaf dulu kamu saya tolak, soalnya kamu tuh dulu jelek banget, sekarang kok jadi cantik begini
? Operasi plastik di mana ya? Jangan lupa add aku ya, kalau kamu masih penasaran sama aku, nggak apa-apa kok kalau mau nembak aku lagi. Pasti aku terima dengan senang hati
Style Sok Akrab 3 + Ngegombal
Hai, denger-denger kamu habis putus ya dari si ‘anu’. Kamu pasti sedih sekali ya, bagaimana kalau saya datang ke rumah kamu untuk menghibur hati kamu yang luka? Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin ada orang secantik kamu ini ada yang tega melukai hati kamu yang bening seindah kristal ini, pasti sangat menyakitkan buat orang secantik kamu. ini nomor hpku: 081-xxxx-xxxx
Style Gila 1
Kalau kamu sedang kesepian, mungkin saya adalah orang yang tepat untuk dijadikan pacar, kalau kamu sedang punya pacar, mungkin pacar kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan saya, kalau kamu sedang merencanakan perkawinan, batalkan saja, nikahlah denganku saja, kalau kamu sudah kawin, tolong ceraikan suami kamu, kamu ditanggung tidak akan menyesal mendapatkan aku
Style Gila 2
Hai, kamu tolong lihat foto2 saya di friendster ya. Kalau kamu ingin lihat saya dalam keadaan polos/bugil, aku akan kirimkan fotonya dengan syarat kamu kasih saya nomor hp kamu…
Style Ngegombal 1
Aku tidak percaya dari 5 milyard penduduk dunia, ternyata ada satu makhluk termanis yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Makhluk itu adalah kamu. Kamu memang diciptakan khusus untukku. Terima kasih Tuhan telah mempertemukan belahan jiwaku lewatfriendster.com. Sayang, will you marry me ?
Style Ngegombal 2
Oh My God, Finally I have found someone, and it was you !, give me your phone number soon, and i will pick you up as soon as possible. and we will looking for ‘pendeta/penghulu’ right now to bless our marriage. Do you agree with that?
Style Kurang Ajar 1
Hai. One Night Stand yuk! Nanti kamu boleh add aku deh jadi temanku
Style Kurang Ajar 2
Hai. Tarif kamu semalam berapa ?
Style Kurang Ajar 3 + Sok Akrab
Hai, kayanya kita pernah kenal deh, kamu kan selingkuhannya si ‘X’ teman saya yang istrinya 2.
Style Tolol
Hai, aku baru join di friendster, bisa tolong ajarin aku nggak caranya makai friendster? Tolong datang ya ke rumahku atau kantorku. Ini alamatnya blablablblblablablablabla
Style Tolol 2
Hai, boleh tanya nggak ya. Sekarang jam berapa ya? Maaf jam saya mati.
Style Tolol 3
Hai, boleh tanya nggak ya. kalau dari Blok M mau ke Bandung, naik bus nomor berapa ya?
Style Tolol 4
Hai, boleh tahu password kamu nggak? Aku lupa password aku, mungkin saja passwordku sama dengan password kamu.
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=42951
Trik 1: Komat Kamit
Pandangi kertas ujian Anda sambil komat-kamit, niscaya orang yang melihat Anda pasti akan berpikir, ‘Waw, orang ini komat-kamit terus, pasti dia lagi mencoba mengingat-ingat kembali’. Ketika sedang komat-kamit, hindari kalimat basi seperti ‘was-wes-wos’, cobalah variasi komat-kamit lain seperti ‘cap-cip-cup-belalang-kuncup’ atau ‘dadadam-dadadam-dadadam-dadam (lho kok jadi lagunya radja?). Biar afdol, kamu bisa ikutin gaya Mbah Dukun sambil nyemburin aer ke seisi kelas.
Trik 2: Tampang Serius
Pandangi kertas soal dengan serius. Alis diangkat ke atas membentuk huruf V kebalik, mata melotot, hidung besar, lalu diam tanpa melakukan apa-apa. Temen-temen pasti mengira Anda sedang berkonsentrasi penuh dengan segenap jiwa raga atau Anda sudah lima hari susah buang air besar. Tingkat kesulitan: cukup sulit.. atau sangat mudah (jika anda susah buang air besar beneran).
Trik 3: Keluar Lebih Dulu
Keluar duluan pasti menimbulkan decak kagum. Rahasianya adalah keluar tidak terlalu cepat, tapi juga tidak keluar terlalu lama. Ya, begitu ada orang yang keluar ruangan, teman-teman biasanya langsung menggumam, ‘Weisss’ atau ‘Waaaah udah selese’. Sambil keluar, usahakan badan tegap, sorot mata mantap, untuk membantu, nyanyikanlah ‘Bangun Pemudi-Pemuda’ di dalam hati. Jangan menyanyi lagu Inul dalam hati, Anda tidak ingin keluar ruangan dengan pantat ngebor-ngebor.
Trik 4: Menaruh Kertas Di Depan Muka Sambil Manggut-Manggut
Begitu duduk dan terima kertas soal, langsung bentangkan lebar-lebar layaknya jagoan. Sesekali kipas-kipaskan kertas soal tersebut seolah-olah isinya sangat-sangat gampang. Jangan lupa untuk membolak-balik kertas dan berkata, ‘Ah, ginian doang.’ Sertakan lirikan maut ke teman-teman yang lain.
Trik 5: Sok Nanya Pengawas
Panggilah pengawas (yang biasanya bukan dosen, tapi orang administrasi yang kebanyakan gak ngerti tentang mata kuliah yang diujikan), lalu tanyalah pertanyaan misalnya seperti ini: ‘Pak, numpang nanya, soal nomor dua ini… saya bingung harus jawab secara pragmatik atau lebih ke arah teoritik aja ya? Ah maaf, ini masalah saya. Bukan masalah Bapak.’ HINDARI pertanyaan yang tidak nyambung sama soalnya seperti, ‘Pak, udah makan belom?’ atau ‘Pak, waktu kemaren belanja baju di Blok M ya… Oh bukannnn! Ih mirip lho Pak sama yang saya lihat!’
so yg lagi UAN mungkin ada yg tertarik buat nyoba trik2 ini?
Pandangi kertas ujian Anda sambil komat-kamit, niscaya orang yang melihat Anda pasti akan berpikir, ‘Waw, orang ini komat-kamit terus, pasti dia lagi mencoba mengingat-ingat kembali’. Ketika sedang komat-kamit, hindari kalimat basi seperti ‘was-wes-wos’, cobalah variasi komat-kamit lain seperti ‘cap-cip-cup-belalang-kuncup’ atau ‘dadadam-dadadam-dadadam-dadam (lho kok jadi lagunya radja?). Biar afdol, kamu bisa ikutin gaya Mbah Dukun sambil nyemburin aer ke seisi kelas.
Trik 2: Tampang Serius
Pandangi kertas soal dengan serius. Alis diangkat ke atas membentuk huruf V kebalik, mata melotot, hidung besar, lalu diam tanpa melakukan apa-apa. Temen-temen pasti mengira Anda sedang berkonsentrasi penuh dengan segenap jiwa raga atau Anda sudah lima hari susah buang air besar. Tingkat kesulitan: cukup sulit.. atau sangat mudah (jika anda susah buang air besar beneran).
Trik 3: Keluar Lebih Dulu
Keluar duluan pasti menimbulkan decak kagum. Rahasianya adalah keluar tidak terlalu cepat, tapi juga tidak keluar terlalu lama. Ya, begitu ada orang yang keluar ruangan, teman-teman biasanya langsung menggumam, ‘Weisss’ atau ‘Waaaah udah selese’. Sambil keluar, usahakan badan tegap, sorot mata mantap, untuk membantu, nyanyikanlah ‘Bangun Pemudi-Pemuda’ di dalam hati. Jangan menyanyi lagu Inul dalam hati, Anda tidak ingin keluar ruangan dengan pantat ngebor-ngebor.
Trik 4: Menaruh Kertas Di Depan Muka Sambil Manggut-Manggut
Begitu duduk dan terima kertas soal, langsung bentangkan lebar-lebar layaknya jagoan. Sesekali kipas-kipaskan kertas soal tersebut seolah-olah isinya sangat-sangat gampang. Jangan lupa untuk membolak-balik kertas dan berkata, ‘Ah, ginian doang.’ Sertakan lirikan maut ke teman-teman yang lain.
Trik 5: Sok Nanya Pengawas
Panggilah pengawas (yang biasanya bukan dosen, tapi orang administrasi yang kebanyakan gak ngerti tentang mata kuliah yang diujikan), lalu tanyalah pertanyaan misalnya seperti ini: ‘Pak, numpang nanya, soal nomor dua ini… saya bingung harus jawab secara pragmatik atau lebih ke arah teoritik aja ya? Ah maaf, ini masalah saya. Bukan masalah Bapak.’ HINDARI pertanyaan yang tidak nyambung sama soalnya seperti, ‘Pak, udah makan belom?’ atau ‘Pak, waktu kemaren belanja baju di Blok M ya… Oh bukannnn! Ih mirip lho Pak sama yang saya lihat!’
so yg lagi UAN mungkin ada yg tertarik buat nyoba trik2 ini?
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=20978
Suatu hari si Otong yang baru berusia enam tahun menghampiri ibunya dan bertanya, "Bu, pacaran itu apa sih ?" Bingung bagaimana menjelaskannya ke si Otong, si Ibu berkata "kalau elu mau tahu pacaran itu apa, nanti sore elu ngumpet di hordeng ruang tamu karena kebetulan hari ini hari Sabtu dan mpok elu si Minah kan di datengin sama pacarnye si Udin. Jadi elu
bisa tahu pacaran itu apa !".
Si Otong pun menjelang sore sudah ngumpet di belakang hordeng ruang tamu tanpa di ketahui si Minah yang sedang menunggu si Udin datang ngapelin di malam minggu. Menjelang malam si Udin pun muncul dan ngobrol di ruang tamu. "Minah, Nyak same Babe ada di rumah ?" tanya si Udin. "Kebetulan lagi pergi kondangan malem ini" jawab si Minah. "Nah asyik donk kita bisa bebas", komentar si Udin dalam hati.
Merasa aman di rumah hanya berdua, si Udin pun ngapel habis-habisan dan menjelang malam dia pun pamit ke si Minah untuk pulang sebelum orang tua si Minah pulang. Keesokan harinya si Otong menghampiri ibunya dan mengatakan bahwa dia sudah tahu pacaran itu apa. "Kalau kamu sudah tahu coba ceritain ke ibu, pacaran itu apa ?" tanya si ibu ke si Otong. "Tadi malem mpok Minah duduk berdua sama bang Udin di bangku, nggak lama setelah ngobrol mereka kemudian nempelin bibirnya dan bang Udin kemudian matanya melotot dan melihat muka mpok Minah merah. Lalu memeriksa jantung mpok Minah karena tidak tahu dimana jantungnya bang Udin tangannya terus bergerak ke kiri dan kanan. Tak lama kemudian bang Udin gelisah karena merasa ada sesuatu si celananya dan memang benar setelah membuka seletingnya ternyata ada belut keluar dari celana bang Udin. Merasa kasihan mpok Minah menangkap belut tersebut dan mencoba membunuhnya dengan
meremas-remas belut yang ada dicelana bang Udin.
Karena belut itu tidak mati walau udah diremas- remas, kemudian belut itu di makan oleh mpok Minah dan bang Udin meringis kesakitan karena belut itu masih hidup. Ternyata walau mpok minah sudah makan belut itu, tetapi ternyata masih tetap hidup dan karena kasihan dengan bang Udin mpok Minah kemudian cepat-cepat melepaskan semua celananya dan menduduki belut tersebut supaya mati. Tapi belut itu benar-benar kuat dan mpok Minah sampai menduduki belut tesebut berkali-kali sementara bang Udin meringis kesakitan karena belutnya belum mati juga. Akhirnya tak lama kemudian belutnya muntah dan mati diduduki mpok Minah dan bang Udin pun tidak meringis lagi dan dapat tersenyum "demikian cerita si Otong. Mendengar cerita si Otong, Ibu &^@*$%!^%$!*^$
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=38303
bisa tahu pacaran itu apa !".
Si Otong pun menjelang sore sudah ngumpet di belakang hordeng ruang tamu tanpa di ketahui si Minah yang sedang menunggu si Udin datang ngapelin di malam minggu. Menjelang malam si Udin pun muncul dan ngobrol di ruang tamu. "Minah, Nyak same Babe ada di rumah ?" tanya si Udin. "Kebetulan lagi pergi kondangan malem ini" jawab si Minah. "Nah asyik donk kita bisa bebas", komentar si Udin dalam hati.
Merasa aman di rumah hanya berdua, si Udin pun ngapel habis-habisan dan menjelang malam dia pun pamit ke si Minah untuk pulang sebelum orang tua si Minah pulang. Keesokan harinya si Otong menghampiri ibunya dan mengatakan bahwa dia sudah tahu pacaran itu apa. "Kalau kamu sudah tahu coba ceritain ke ibu, pacaran itu apa ?" tanya si ibu ke si Otong. "Tadi malem mpok Minah duduk berdua sama bang Udin di bangku, nggak lama setelah ngobrol mereka kemudian nempelin bibirnya dan bang Udin kemudian matanya melotot dan melihat muka mpok Minah merah. Lalu memeriksa jantung mpok Minah karena tidak tahu dimana jantungnya bang Udin tangannya terus bergerak ke kiri dan kanan. Tak lama kemudian bang Udin gelisah karena merasa ada sesuatu si celananya dan memang benar setelah membuka seletingnya ternyata ada belut keluar dari celana bang Udin. Merasa kasihan mpok Minah menangkap belut tersebut dan mencoba membunuhnya dengan
meremas-remas belut yang ada dicelana bang Udin.
Karena belut itu tidak mati walau udah diremas- remas, kemudian belut itu di makan oleh mpok Minah dan bang Udin meringis kesakitan karena belut itu masih hidup. Ternyata walau mpok minah sudah makan belut itu, tetapi ternyata masih tetap hidup dan karena kasihan dengan bang Udin mpok Minah kemudian cepat-cepat melepaskan semua celananya dan menduduki belut tersebut supaya mati. Tapi belut itu benar-benar kuat dan mpok Minah sampai menduduki belut tesebut berkali-kali sementara bang Udin meringis kesakitan karena belutnya belum mati juga. Akhirnya tak lama kemudian belutnya muntah dan mati diduduki mpok Minah dan bang Udin pun tidak meringis lagi dan dapat tersenyum "demikian cerita si Otong. Mendengar cerita si Otong, Ibu &^@*$%!^%$!*^$
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=38303
Seorang murid sekolah dasar mendapat pekerjaan rumah dari gurunya untuk menjelaskan arti kata POLITIK. Karena belum memahaminya, ia kemudian bertanya pada ayahnya.
Sang Ayah yang menginginkan si anak dapat berpikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, "Baiklah nak, ayah akan mencoba menjelaskan denga perumpamaan, misalkan Ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah adalah investor. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya pemerintah. Kami disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita menyebut engkau rakyat. Pembantu, kita masukkan dia ke dalam kelas pekerja, dan adikmu yang masih balita, kita menyebutnya masa depan. Sekarang pikirkan hal itu dan lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau pahami?"
Si anak kemudian pergi ke tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ayahnya. Pada tengah malam, anak itu terbangun karena mendengar adik bayinya menangis. Ia melihat adik bayinya mengompol. Lalu ia menuju kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tidur nyenyak.
Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia pergi ke kamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya.
Akhirnya ia menyerah dan kembali ke tempat tidur, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti POLITIK.
Pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya: 'Politik adalah hal dimana para Investor meniduri kelas Pekerja, sedangkan Pemerintah tertidur lelap, Rakyat diabaikan dan Masa Depan berada dalam kondisi yang menyedihkan."
Sang Ayah yang menginginkan si anak dapat berpikir secara kreatif kemudian memberikan penjelasan, "Baiklah nak, ayah akan mencoba menjelaskan denga perumpamaan, misalkan Ayahmu adalah orang yang bekerja untuk menghidupi keluarga, jadi kita sebut ayah adalah investor. Ibumu adalah pengatur keuangan, jadi kita menyebutnya pemerintah. Kami disini memperhatikan kebutuhan-kebutuhanmu, jadi kita menyebut engkau rakyat. Pembantu, kita masukkan dia ke dalam kelas pekerja, dan adikmu yang masih balita, kita menyebutnya masa depan. Sekarang pikirkan hal itu dan lihat apakah penjelasan ayah ini bisa kau pahami?"
Si anak kemudian pergi ke tempat tidur sambil memikirkan apa yang dikatakan ayahnya. Pada tengah malam, anak itu terbangun karena mendengar adik bayinya menangis. Ia melihat adik bayinya mengompol. Lalu ia menuju kamar tidur orang tuanya dan mendapatkan ibunya sedang tidur nyenyak.
Karena tidak ingin membangunkan ibunya, maka ia pergi ke kamar pembantu. Karena pintu terkunci, maka ia kemudian mengintip melalui lubang kunci dan melihat ayahnya berada di tempat tidur bersama pembantunya.
Akhirnya ia menyerah dan kembali ke tempat tidur, sambil berkata dalam hati bahwa ia sudah mengerti arti POLITIK.
Pagi harinya, sebelum berangkat ke sekolah ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya dan menulis pada buku tugasnya: 'Politik adalah hal dimana para Investor meniduri kelas Pekerja, sedangkan Pemerintah tertidur lelap, Rakyat diabaikan dan Masa Depan berada dalam kondisi yang menyedihkan."
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=4
Seorang gadis cantik berusia 20-an menemui seorang dokter pakar jiwa di ruang prakteknya.
Dokter : "Apa yang bisa saya bantu?"
Gadis : "saya sangat-sangat marah dengan cowo saya, sampai-sampai saya menyebutnya manusia bangsat"
Dokter : "Kenapa kamu pangil dia begitu? Coba ceritakan."
Gadis : "Malam minggu kemarin saya pergi kepantai dengannya. Saat mulai gelap, dia memegang tangan saya"
Dokter : "Masa memegang tangan saja dibilang bangsat, itu tandanya dia tidak ingin melepas kamu. (melihat keluguan gadis itu, si dokter beraksi) Seperti inikah dia memegang tanganmu?"
Gadis : "Ya..seperti dokter memegang tangan saya. Tapi kemudian dia mulai mendekatkan badannya kesaya dan memeluk saya"
Dokter : "Seperti ini dia memeluknya?"
Gadis : "Iya, seperti dokter memeluk saya ini"
Dokter : "Itu tandanya dia ingin selalu berdampingan dengan kamu. Tidak pantas dia dibilang bangsat"
Gadis : "Abis itu dia mulai menciumi saya dok"
Dokter : "Seperti ini?"
Gadis : "Iya dok."(sambil tersipu malu)
Dokter : "Kalau sekedar ciuman seperti ini, itu masih wajar. Tandanya ia sayang kamu"
Gadis : "Tapi abis itu dokter, dia memasukkan tangannya kedalam baju saya dan mulai meraba-raba payudara saya"
Dokter : (Semakin Semangat)"Seperti ini?"
Gadis : "Iya..persis seperti cara dokter meraba payudara saya"
Dokter : "Ooo...itu bukan bangsat. Tandanya ia ingin membelai kamu"
Gadis : "Tapi Dok, kemudian dia mulai menelanjangi saya sampai bugil"
Dokter : "Apa kamu berusaha menolak keinginannya?"
Gadis : "Tidak dok, sebab saya sayang sekali sama dia"
Dokter : (Semakin membara)"Dia melepaskan baju kamu semua seperti ini?"
Gadis : "Iya dok, seperti ini. Dok tolong AC-nya dikecilkan. Dingin"
Dokter : (mengecilkan suhu AC sambil memandangi daerah-2 vital si gadis)"Itu artinya dia ingin mengenali kamu leih dalam"
Gadis : "Kemudian dia juga menanggalkan pakaiannya dan mulai mencumbui saya sampai kami melakukan itu .."
.....
...
.....
...
Dokter : "Seperti kita lakukan tadikah?"
Gadis : "Iya, seperti tadi"
Dokter : "Itu tandanya dia sangat memerlukan kamu. Kamu jangan panggil dia bangsat"
(masing-masing mulai mengenakan kembali pakaiannya)
Gadis : "Tapi dok....."
Dokter : "Kenapa.. kamu diperlakukan seperti apa lagi sama dia"
Gadis : "Dia bilang..."
Dokter : (memotong pembicaraan)"kenapa? Apa dia tidak ingin menikahi kamu, karena kamu sudah tidak perawan lagi?"
Gadis : "Tidak, dia mau menikahi saya. Tapi dia mengaku bahwa dia pengidap AIDS"
Dokter : (terperangah dan panik) "MANUSIA BANGSAAAATTTTT!!!!!"
(Semua pekerja klinik terkejut dgn jeritan doktor pakar jiwa itu.. )
Dokter : "Apa yang bisa saya bantu?"
Gadis : "saya sangat-sangat marah dengan cowo saya, sampai-sampai saya menyebutnya manusia bangsat"
Dokter : "Kenapa kamu pangil dia begitu? Coba ceritakan."
Gadis : "Malam minggu kemarin saya pergi kepantai dengannya. Saat mulai gelap, dia memegang tangan saya"
Dokter : "Masa memegang tangan saja dibilang bangsat, itu tandanya dia tidak ingin melepas kamu. (melihat keluguan gadis itu, si dokter beraksi) Seperti inikah dia memegang tanganmu?"
Gadis : "Ya..seperti dokter memegang tangan saya. Tapi kemudian dia mulai mendekatkan badannya kesaya dan memeluk saya"
Dokter : "Seperti ini dia memeluknya?"
Gadis : "Iya, seperti dokter memeluk saya ini"
Dokter : "Itu tandanya dia ingin selalu berdampingan dengan kamu. Tidak pantas dia dibilang bangsat"
Gadis : "Abis itu dia mulai menciumi saya dok"
Dokter : "Seperti ini?"
Gadis : "Iya dok."(sambil tersipu malu)
Dokter : "Kalau sekedar ciuman seperti ini, itu masih wajar. Tandanya ia sayang kamu"
Gadis : "Tapi abis itu dokter, dia memasukkan tangannya kedalam baju saya dan mulai meraba-raba payudara saya"
Dokter : (Semakin Semangat)"Seperti ini?"
Gadis : "Iya..persis seperti cara dokter meraba payudara saya"
Dokter : "Ooo...itu bukan bangsat. Tandanya ia ingin membelai kamu"
Gadis : "Tapi Dok, kemudian dia mulai menelanjangi saya sampai bugil"
Dokter : "Apa kamu berusaha menolak keinginannya?"
Gadis : "Tidak dok, sebab saya sayang sekali sama dia"
Dokter : (Semakin membara)"Dia melepaskan baju kamu semua seperti ini?"
Gadis : "Iya dok, seperti ini. Dok tolong AC-nya dikecilkan. Dingin"
Dokter : (mengecilkan suhu AC sambil memandangi daerah-2 vital si gadis)"Itu artinya dia ingin mengenali kamu leih dalam"
Gadis : "Kemudian dia juga menanggalkan pakaiannya dan mulai mencumbui saya sampai kami melakukan itu .."
.....
...
.....
...
Dokter : "Seperti kita lakukan tadikah?"
Gadis : "Iya, seperti tadi"
Dokter : "Itu tandanya dia sangat memerlukan kamu. Kamu jangan panggil dia bangsat"
(masing-masing mulai mengenakan kembali pakaiannya)
Gadis : "Tapi dok....."
Dokter : "Kenapa.. kamu diperlakukan seperti apa lagi sama dia"
Gadis : "Dia bilang..."
Dokter : (memotong pembicaraan)"kenapa? Apa dia tidak ingin menikahi kamu, karena kamu sudah tidak perawan lagi?"
Gadis : "Tidak, dia mau menikahi saya. Tapi dia mengaku bahwa dia pengidap AIDS"
Dokter : (terperangah dan panik) "MANUSIA BANGSAAAATTTTT!!!!!"
(Semua pekerja klinik terkejut dgn jeritan doktor pakar jiwa itu.. )
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=3
Pada suatu pagi, kepala sekolah datang kekelas satu sambil membawa 2 celana dalam dan sesuatu di dalam kantong plastik. Kepala sekolah mengacungkan 1 celana dalam perempuan sambil bertanya
"Celana dalam perempuan milik siapa ini? Saya temukan di ruang locker dalam keadaan basah!!" 1 kelas kaget dan Lita cenge-ngesan. Lalu kepala sekolah itu mengacungkan celana dalam berwarna hitam satunya dan berkata " Saya juga temukan ini di tempat yang sama dan tergeletak tidak jauh dari celana dalam perempuan tadi !!" 1 kelas kaget dan Denny cenge-ngesan.
Lalu kepala sekolah itu merogoh kantong plastik dan mengambil kondom bekas pakai dan berkata " Ayo mengaku, siapa yang telah memakai kondom ini, yang memakai ini pasti pemilik celana dalam tadi. Tidak apa2 kalau tidak ada yang ngaku, pasti 5 bulan lagi ketauan karena kondom ini BOCOR!'
Lita yang sedang cenge-ngesan tiba2 pingsan
!@#$%
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=3
KONON (awas, bacanya jangan dibalik!) tersebutlah dua sahabat karib yang satu namanya Otong, satunya lagi Otang. Mereka berdua bekerja di instansi yang sama, ruangan sama, kedudukan sama, punya hobby-pun sama, sampai-sampai kalau ada kesempatan manipulasi & korupsi-pun sama-sama.
KONON (ingat jangan dibalik lagi!) mereka sudah sama-sama married, Otong punya bini jelek, pesek, item, gendut kayak Atun. Sedangkan Otang punya bini wow kereeen, bodynya mbadan pas kayak gitar Espanol, wajah mirip bintang sinetron Tamara Beliwizky, pokoknya asyik punya cing!
Si Otong ini rupanya ngiri sama Otang, pingin juga nyicipi bininya Otang. Otong pikir toh namanya sahabat karib, punya banyak kesamaan selera antara dia dengan Otang. Dalam hal ini terang aja Otang nggak mau disamakan seleranya kalau urusan bini.
Otong mikir gimana caranya ya....?, nggak usah "nggituin" juga nggak apa-apa asal bisa ngeliat barang terlarang yang nempel di bodynya Tamara Beliwizky yang aduhai itu.
Akhirnya dia punya akal! Ia pura-pura pinjam uang ke Otang sebanyak Lima Juta rupiah kontan bo'. Karena nggak tahu ada urusan apa Otong minjem uang, si Otang pun minjemin juga tuh duit ke Otong.
Esok paginya ketika Otang udah pergi ke kantor, diam-diam Otong dateng ke rumah Otang, jelas mau nemuin si Tamara! Tamara heran, koq tumben-tumbennya pagi-pagi main, bukannya berangkat kerja.
Otong mulai berbasa-basi, ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya pada tujuannya pingin ngelihat segala anunya Tamara. Tentu saja Tamara nggak mau, dikirain ia seorang istri apaan. Saking nggak sabarnya, Otong ngeluarin uang Lima Juta yang ia pinjam dari Otang.
Otong : Saya cuma pingin lihat buah dada kamu, saya nggak akan macam-macam sama kamu...bener suwer! Saya kasih tiga juta nih.
Melihat uang tiga juta kontan, Tamara luluh juga, diplorotinnya baju bagian atasnya. "Cleguk" Otong menelan ludahnya. Ia belum puas masih ingin melihat bagian bawahnya lagi.
Otong : Nih saya kasih lagi satu juta, saya ingin lihat agak ke bawah sampai puser"
Tamara plorotin lagi bajunya sampai pusernya kelihatan, lagi-lagi kerongkongan Otong bunyi "cleguk".
Ia sodorkan lagi uang satu juta untuk melihat yang agak bawah (aaaaahhh tegang!).
Kerongkongan Otong berirama "cleguk-cleguk, glek-glek" ludah seember ditelannya.
Dalam hati Otong "akhirnya uang lima juta impas gua kembaliin ke Otang plus bonus ngeliat Tamara bugil".
Otong puas, tak peduli ia berangkat kekantornya udah telat. Ditemuinya si Otang, dia bilang kalau dia terlambat masuk kantor karena mampir dulu ke rumahnya ngembaliin uang lima juta yang ia pinjam kemarin. Otang nggak habis pikir, sepulang dari kantor ia temui istrinya.
Otang : "Tadi pagi Otong kesini ya?"
Tamara : "Iya mas, dia orangnya baik sekali ya mas, dia tadi ngasih hadiah ke aku uang sebanyak lima juta"
Otang : "Palalu bau menyan.... wong itu uang saya koq"
Tamara : "Hah........!@#$%?????????????"
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=3
KONON (ingat jangan dibalik lagi!) mereka sudah sama-sama married, Otong punya bini jelek, pesek, item, gendut kayak Atun. Sedangkan Otang punya bini wow kereeen, bodynya mbadan pas kayak gitar Espanol, wajah mirip bintang sinetron Tamara Beliwizky, pokoknya asyik punya cing!
Si Otong ini rupanya ngiri sama Otang, pingin juga nyicipi bininya Otang. Otong pikir toh namanya sahabat karib, punya banyak kesamaan selera antara dia dengan Otang. Dalam hal ini terang aja Otang nggak mau disamakan seleranya kalau urusan bini.
Otong mikir gimana caranya ya....?, nggak usah "nggituin" juga nggak apa-apa asal bisa ngeliat barang terlarang yang nempel di bodynya Tamara Beliwizky yang aduhai itu.
Akhirnya dia punya akal! Ia pura-pura pinjam uang ke Otang sebanyak Lima Juta rupiah kontan bo'. Karena nggak tahu ada urusan apa Otong minjem uang, si Otang pun minjemin juga tuh duit ke Otong.
Esok paginya ketika Otang udah pergi ke kantor, diam-diam Otong dateng ke rumah Otang, jelas mau nemuin si Tamara! Tamara heran, koq tumben-tumbennya pagi-pagi main, bukannya berangkat kerja.
Otong mulai berbasa-basi, ngobrol ngalor-ngidul sampai akhirnya pada tujuannya pingin ngelihat segala anunya Tamara. Tentu saja Tamara nggak mau, dikirain ia seorang istri apaan. Saking nggak sabarnya, Otong ngeluarin uang Lima Juta yang ia pinjam dari Otang.
Otong : Saya cuma pingin lihat buah dada kamu, saya nggak akan macam-macam sama kamu...bener suwer! Saya kasih tiga juta nih.
Melihat uang tiga juta kontan, Tamara luluh juga, diplorotinnya baju bagian atasnya. "Cleguk" Otong menelan ludahnya. Ia belum puas masih ingin melihat bagian bawahnya lagi.
Otong : Nih saya kasih lagi satu juta, saya ingin lihat agak ke bawah sampai puser"
Tamara plorotin lagi bajunya sampai pusernya kelihatan, lagi-lagi kerongkongan Otong bunyi "cleguk".
Ia sodorkan lagi uang satu juta untuk melihat yang agak bawah (aaaaahhh tegang!).
Kerongkongan Otong berirama "cleguk-cleguk, glek-glek" ludah seember ditelannya.
Dalam hati Otong "akhirnya uang lima juta impas gua kembaliin ke Otang plus bonus ngeliat Tamara bugil".
Otong puas, tak peduli ia berangkat kekantornya udah telat. Ditemuinya si Otang, dia bilang kalau dia terlambat masuk kantor karena mampir dulu ke rumahnya ngembaliin uang lima juta yang ia pinjam kemarin. Otang nggak habis pikir, sepulang dari kantor ia temui istrinya.
Otang : "Tadi pagi Otong kesini ya?"
Tamara : "Iya mas, dia orangnya baik sekali ya mas, dia tadi ngasih hadiah ke aku uang sebanyak lima juta"
Otang : "Palalu bau menyan.... wong itu uang saya koq"
Tamara : "Hah........!@#$%?????????????"
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=3
Ternyata mau makan pizza aja susah... ;)
Rekaman Percakapan telepon pemesanan Pizza tahun 2020
Operator : terima kasih anda telah menghubungi Pizza Hot, Apakah yang bisa saya....
Konsumen : heloo, saya mau pesan pizza
Operator : Boleh minta nomor kartu KTP anda pak
Konsumen : tunggu, ini nih : 6102049998-45-54610
Operator : Ok pak Bejo, anda tinggal di jalan hangtuah no. 16, nomor telepon rumah anda 02177726378, kantor anda 021665872673 Hp anda 081127894022, anda menelpon dari mana ?
Konsumen : dari rumah, eh dari mana kamu tahu semua no telp saya ?
Operator : Oh, kami terhubung ke database pusat pak
Konsumen : apakah saya bisa memesan Seafood Pizza ?
Operator : Itu bukan ide yang bagus pak
Konsumen : kenapa ?
Operator : Dari medical record bapak, bapak memiliki tekanan darah tinggi dan kolestrol yang sudah berlebihan
Konsumen : Jadi kamu merekomendasikan apa
Operator : Mungkin bapak bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza
Konsumen : Dari mana kamu tahu kalo saya bakal suka itu
Operator : Hmmm minggu lalu bapak baru meminjam buku yang berjudul "Popular Hokkien Dishes" dari perpustakaan nasional
Konsumen : Ok terserah lah, sekalian saya pesan paket keluarga, berapa semuanya ?
Operator : Tapi paket keluarga kami tidak akan cukup untuk anak anda yang berjumlah 7 orang PAK .., total keseluruhan adalah rp. 190.000
Konsumen : Bisa saya bayar dengan Kartu Kredit ?
Operator : Sepertinya bapak harus membayar Cash, kartu Kredit anda telah Over Limit dan anda punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000 sejak bulan agustus lalu, itu belum termasuk denda untuk tunggakan kontrak rumah anda
Konsumen : ooh ya sudah, nanti saya ke ATM aja untuk narik duit sebelum orang mu datang nganter Pizza
Operator : Mungkin nggak bisa juga pak, record anda menunjukkan bahwa batas anda menarik uang di ATM telah tercapai
Konsumen : SHIT.... udah lah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, berapa lama Pizza diantar ?
Operator : sekitar 45 menit pak, tapi kalo bapak bisa menunggu, bapak bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek bapak.
Konsumen : APA ????
Operator : Menurut catatan kami, anda memiliki motor bebek tahun 2015 dengan no pol B3344CD betul kan pak ?
Konsumen : Sialan, eh gogog bangsat, kagak sopan banget seh buka-buka record gue, blom pernah ngerasain di tonjok ya !!
Operator : Hati-hati dengan ucapan bapak, apakah bapak ingat 15 mei 2010 anda pernah di penjara 3 bulan karena mengucapkan kata kotor kepada seorang polisi ??
Konsumen (Diamm,,,,....)
Operator : Ada yang lain pak ?
Konsumen : tidak ada, eh tapi kalo pesan paket keluarga kan ada gratis coca cola 3 cup kan ?
Operator : Betul pak, tapi menurut catatan kami anda juga mengidap DIABETES, jadi kami tidak mau mengambil resiko pak.....
Konsumen : SIIALAAAAANNNNN.... BATALIN AJA SEMUA !
Operator : Terima kasih atas teleponnya pak, untuk kompalain, saran dan kritik anda bisa mengisi form online pada situs kami, username dan passwordnya tercetak pada bagian bawah kotak pizza yang anda pesan...
terima kasih anda
telah mengubungi Pizza Hot....
Telepon berikutnya....
Rekaman Percakapan telepon pemesanan Pizza tahun 2020
Operator : terima kasih anda telah menghubungi Pizza Hot, Apakah yang bisa saya....
Konsumen : heloo, saya mau pesan pizza
Operator : Boleh minta nomor kartu KTP anda pak
Konsumen : tunggu, ini nih : 6102049998-45-54610
Operator : Ok pak Bejo, anda tinggal di jalan hangtuah no. 16, nomor telepon rumah anda 02177726378, kantor anda 021665872673 Hp anda 081127894022, anda menelpon dari mana ?
Konsumen : dari rumah, eh dari mana kamu tahu semua no telp saya ?
Operator : Oh, kami terhubung ke database pusat pak
Konsumen : apakah saya bisa memesan Seafood Pizza ?
Operator : Itu bukan ide yang bagus pak
Konsumen : kenapa ?
Operator : Dari medical record bapak, bapak memiliki tekanan darah tinggi dan kolestrol yang sudah berlebihan
Konsumen : Jadi kamu merekomendasikan apa
Operator : Mungkin bapak bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza
Konsumen : Dari mana kamu tahu kalo saya bakal suka itu
Operator : Hmmm minggu lalu bapak baru meminjam buku yang berjudul "Popular Hokkien Dishes" dari perpustakaan nasional
Konsumen : Ok terserah lah, sekalian saya pesan paket keluarga, berapa semuanya ?
Operator : Tapi paket keluarga kami tidak akan cukup untuk anak anda yang berjumlah 7 orang PAK .., total keseluruhan adalah rp. 190.000
Konsumen : Bisa saya bayar dengan Kartu Kredit ?
Operator : Sepertinya bapak harus membayar Cash, kartu Kredit anda telah Over Limit dan anda punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000 sejak bulan agustus lalu, itu belum termasuk denda untuk tunggakan kontrak rumah anda
Konsumen : ooh ya sudah, nanti saya ke ATM aja untuk narik duit sebelum orang mu datang nganter Pizza
Operator : Mungkin nggak bisa juga pak, record anda menunjukkan bahwa batas anda menarik uang di ATM telah tercapai
Konsumen : SHIT.... udah lah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, berapa lama Pizza diantar ?
Operator : sekitar 45 menit pak, tapi kalo bapak bisa menunggu, bapak bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek bapak.
Konsumen : APA ????
Operator : Menurut catatan kami, anda memiliki motor bebek tahun 2015 dengan no pol B3344CD betul kan pak ?
Konsumen : Sialan, eh gogog bangsat, kagak sopan banget seh buka-buka record gue, blom pernah ngerasain di tonjok ya !!
Operator : Hati-hati dengan ucapan bapak, apakah bapak ingat 15 mei 2010 anda pernah di penjara 3 bulan karena mengucapkan kata kotor kepada seorang polisi ??
Konsumen (Diamm,,,,....)
Operator : Ada yang lain pak ?
Konsumen : tidak ada, eh tapi kalo pesan paket keluarga kan ada gratis coca cola 3 cup kan ?
Operator : Betul pak, tapi menurut catatan kami anda juga mengidap DIABETES, jadi kami tidak mau mengambil resiko pak.....
Konsumen : SIIALAAAAANNNNN.... BATALIN AJA SEMUA !
Operator : Terima kasih atas teleponnya pak, untuk kompalain, saran dan kritik anda bisa mengisi form online pada situs kami, username dan passwordnya tercetak pada bagian bawah kotak pizza yang anda pesan...
terima kasih anda
telah mengubungi Pizza Hot....
Telepon berikutnya....
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=90&page=3
Nama KTP maulana
Tapi panggil aja akika Mona Kapster tercucok di salon demplon Cepak atau sasak, semua akika gasak Meni-pedi, setengah jam langsung jadi Tujuan hidup, sebelom akika mati, pingin punya istri..
Suatu pagi ya Booo..
Datang gak diundang.. (jelangkung kaleee..)
Cewek toge pasar, muka blasteran gado-gado indo menado
Minta pesyel spesyial sama akika Begitu ngedeketin,
fuuuh.......wangi si nyong-nyong menyerbu napas,bikin akika balik lagi jadi lekong
Si otong langsung tegak kayak monas,,,,,,,
begerak-gerak mirip odong-odong
Kayaknya ini cintrong pertama, ini gak ngomong lebay,
Soalnya ini juga pertama kali akika bisa nepsong sama yang bukan lekong
Akika takut terlambreta langsung aja akika nyelonong,
suara di lekong-lekongin: "Eeheeemm.. nama gue Maulana, di sini aja gue pake nama Mona.."
Si toge pasar ngelirik genit.:"masak yey gak kenal akika sihh booo, akika Susi alias Susantoo temen mangkal yey dulu di taman lawaaang.."
Akika cuma bisa bengong..
ternyata masih aja lontong ketemu lontong..
Hati akika makin sekong......
...makin kosong...
kasian amat neh bencong.. wakakakkakaka..
Tapi panggil aja akika Mona Kapster tercucok di salon demplon Cepak atau sasak, semua akika gasak Meni-pedi, setengah jam langsung jadi Tujuan hidup, sebelom akika mati, pingin punya istri..
Suatu pagi ya Booo..
Datang gak diundang.. (jelangkung kaleee..)
Cewek toge pasar, muka blasteran gado-gado indo menado
Minta pesyel spesyial sama akika Begitu ngedeketin,
fuuuh.......wangi si nyong-nyong menyerbu napas,bikin akika balik lagi jadi lekong
Si otong langsung tegak kayak monas,,,,,,,
begerak-gerak mirip odong-odong
Kayaknya ini cintrong pertama, ini gak ngomong lebay,
Soalnya ini juga pertama kali akika bisa nepsong sama yang bukan lekong
Akika takut terlambreta langsung aja akika nyelonong,
suara di lekong-lekongin: "Eeheeemm.. nama gue Maulana, di sini aja gue pake nama Mona.."
Si toge pasar ngelirik genit.:"masak yey gak kenal akika sihh booo, akika Susi alias Susantoo temen mangkal yey dulu di taman lawaaang.."
Akika cuma bisa bengong..
ternyata masih aja lontong ketemu lontong..
Hati akika makin sekong......
...makin kosong...
kasian amat neh bencong.. wakakakkakaka..
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=13811
“Selamat sore!” kata Kepala Polisi. “Betul ini tempat tinggalnya saudara Tono yang sekarang?”
Tono yang masih memegang gagang pintu kaget bukan kepalang. Tiga polisi bertubuh tambun ada di hadapannya. Apalagi sepertinya pangkat mereka sudah lumayan tinggi. Dia bingung dan berpikir kacau. Apalagi yang akan terjadi. Dua hari lalu kiosnya hilang. Sekarang ada polisi di sini. Pikiran-pikiran buruk tentang polisi yang ada selama ini ada di benak Tono bermunculan. Kali ini malah lebih gila. Ia menjadi gugup.
“Eh… i… anu… ehm…”
“Tenang saja Mas. Kami hanya mampir. Anda yang bernama Tono seperti di surat ini?” sambil menunjukkan bagian belakang surat yang lecek, si atasnya tertulis nama dan alamatnya. “Boleh kami masuk?”
“Oh… eee… mampir… uh… eh… iya. Ma… mari… silakan!”
Kali ini semakin rumit apa yang ada dalam otaknya. Persis seperti kata orang; manusia adalah jiwa-jiwa yang katakutan. Kali ini kalimat itu benar-benar mengena dalam diri Tono. Apa yang salah dengan dirinya. Apakah karena ia mengirim surat pada Tuhan? Kenapa suratnya jadi nyasar ke polisi? Apa yang akan terjadi nanti?
“Kelihatannya anda masih muda.” Kata Kepala Polisi. “Jadi begini dik Tono. Kami kesini ini bermaksud memberikan titipan dari Tuhan!”
Kelihatannya dari seluruh waktu hidup Tono. Detik ini yang membuatnya paling kaget. Kaget yang tak terkatakan. Untung saja jantungnya masih kuat. Hanya karena jantungnya berdegup terlalu kencang yang membuatnya menjadi pingsan!
Dua perwira Polisi yang sedari tadi mengamati ruangan sempit itu kaget juga melihat Tono jatuh pingsan. Istrinya segera menghambur ke arah tubuh Tono yang sudah terjerembab di kolong meja. Polisi saling berpandangan. Sementara Joko, dengan wajah tanpa dosanya yang masih tak tahu apa-apa, memandangi polisi yang saling berpandangan itu.
“Ooalaah Pakne… pakne… kok malah semaput. Ini tadi diapain tho?” teriak istrinya.
“Maaf! Apa ada yang salah dengan kata-kata saya?” kata Kepala Polisi.
Pandangan Tono masih kabur. Ia mencoba tersenyum walupaun sepertinya ia masih belum sadar betul.
“Heh… maaf!”
“Tak apa dik. Ini dik Tono surat yang anda kirim. Dan ini uang yang anda minta. Kami hanya melakukan tugas.”
“Ehmm… iya… terimakasih.” Kata Tono yang masih dalam kebingungannya dan menerima amplop yang terdengar bunyi gemerincing uang dan agak berat itu.
“O iya dik Tono. Nama dik Tono ini “Tono Rintono MS” kenapa ada banyak kata “Tono” di situ?”
Mendadak Tono mejadi sehat kebali dengan pertanyaan itu.
“Oh… bukan… bukan saya pak. Orang tua saya yang memeberikannya pada saya. Bapak saya Jogja, ibu dari Jawa Barat.”
“Ooo begitu.” Kepala Polisi megangguk-angguk, mengerti kenapa namanya berulang. “Lalu MS-nya apa?”
“Martono Sartono Pak!”
“Pa’e. ini surat yang tadi pagi saya masukkan kotak di depan sana!” Teriak Joko sambil menunjuk surat di atas meja. Ia kenal betul dengan surat itu, walaupun sudah sobek di salah satu sisinya.
“Cuma, kotaknya tak mau terbang!”
“Terbang?” sahut semua yang di ruangan itu.
“Iya. Terbang ke tempat Tuhan. Tapi kenapa bisa dibawa bapak-bapak yang memakai topi pak? Apakah mereka Tuhan?”
“Hehe… anak dik Tono ini lucu.” Kata Kepala Polisi. “Dan kelihatannya juga pinter. Siapa namanya?”
“Joko pak.” Jawab Tono. “Joko Sarjoko MN.”
***
“Wah banyak sekali uangnya. Minta satu ya pak!” kata Joko.
“Jangan! Sedang dihitung dulu.”
“Nah, pakne. Jadi semuanya enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus tujuh puluh lima rupiah.”
“Hah… hanya segitu?”
“Kok hanya segitu! Harusnya kita berterimakasih ada orang yang tiba-tiba saja mau ngasih duwit. Pakne ini gimana tho. Kok malah menyepelekan!”
“Baiklah. Maaf. Tapi benar dugaan saya.”
“Dugaan? Dugaan yang mana?”
“Ah… sudahlah. Sebaiknya kita berdoa untui berterimakasih pada Tuhan.”
“Ooo uang ini dari Tuhan ya Mak? Ya pak?” kata Joko.
“Kurang lebih begitu.”
“Tuhan itu tiga bapak tadi ya pak?”
“Itu bukan Tuhan. Itu polisi.”
“Kenapa tidak Tuhan sendiri yang memberikannya pak? Kenapa Tuhan menitipkan pak polisi?”
“Itu yang akan bapak tanyakan di doa bapak nanti. Tapi tahukah nak; Tuhan bekerja dengan cara yang misterius!”
“Sudah le. Ayo kita berdoa.” Sahut ibunya.
Lalu mereka pun menganggkat kedua tangan. Hal itu menarik perhatian Joko. Semula Joko mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Namun apa yang dilakukan kedua orang tuanya benar-benar mengusiknya untuk ingin tahu. Ia heran mengapa mereka mengangkat tangannya seperti sedang meminta sesuatu? Kenapa wajah mereka tengadah? Apa yang mereka pandang? Ada orangkah di atas atap? Ada sesuatukah yang mereka pandang.
“Ya Tuhan…” Tono mulai berdoa.
“Bapak bicara dengan Tuhan? Di mana? Di mana Dia?” Joko menyahut.
“Ssssttt… cobalah tenang jika sedang berdoa!”
Joko pun duduk kembali sambil memandangi kedua orang tuanya. Sementara orang tuanya berdoa. Joko masih sibuk dengan banyak pertanyaan dalam dirinya. Ia bangkit dari duduk. Ia memandang ke arah yang di pandang kedua oarng tuanya. Sesekali menoleh ke arah mereka, lalu kembali memandang langit-langit rumah sambil berbisik.
“Hei… hei… Kamu di situ?”
Joko mulai memandangi tangan-tangan tengadah itu. Mereka sedang meminta apa? Kenapa mereka meminta? Ia mempermainkan tangan-tangan pasrah itu. Mengambil beberapa receh uang dan menjatuhkannya ke dalam tangan-tangan itu. Sebagian jatuh menimbulkan suara gemerincing.
Kurang lebih begini doa Tono:
“Ya Tuhan, terima kasih Kau benar-benar memberikan apa yang aku minta. Mungkin jika besok aku meminta lagi kepada-Mu, janganlah dititipkan pada polisi. Lihatlah apa yang mereka lakukan dengan uang satu juta-ku. Tapi saya tetap berterimakasih, walaupun aku tak tahu kemana lebih sepertiga uangku itu…!”
Tono benar-benar memanfaatkan uangnya. Membangun sebuah kios afdruk foto kilat di tempat yang kini sudah disediakan pemerintah daerah. Jadi kecil kemungkinan digusur lagi. Joko tetap dengan segudang pertanyaannya. Bapak-bapak polisi gembira telah membantu rakyat kecil, walaupun hanya seorang. Dan kehidupan pun kembali normal!
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=133630
Tono yang masih memegang gagang pintu kaget bukan kepalang. Tiga polisi bertubuh tambun ada di hadapannya. Apalagi sepertinya pangkat mereka sudah lumayan tinggi. Dia bingung dan berpikir kacau. Apalagi yang akan terjadi. Dua hari lalu kiosnya hilang. Sekarang ada polisi di sini. Pikiran-pikiran buruk tentang polisi yang ada selama ini ada di benak Tono bermunculan. Kali ini malah lebih gila. Ia menjadi gugup.
“Eh… i… anu… ehm…”
“Tenang saja Mas. Kami hanya mampir. Anda yang bernama Tono seperti di surat ini?” sambil menunjukkan bagian belakang surat yang lecek, si atasnya tertulis nama dan alamatnya. “Boleh kami masuk?”
“Oh… eee… mampir… uh… eh… iya. Ma… mari… silakan!”
Kali ini semakin rumit apa yang ada dalam otaknya. Persis seperti kata orang; manusia adalah jiwa-jiwa yang katakutan. Kali ini kalimat itu benar-benar mengena dalam diri Tono. Apa yang salah dengan dirinya. Apakah karena ia mengirim surat pada Tuhan? Kenapa suratnya jadi nyasar ke polisi? Apa yang akan terjadi nanti?
“Kelihatannya anda masih muda.” Kata Kepala Polisi. “Jadi begini dik Tono. Kami kesini ini bermaksud memberikan titipan dari Tuhan!”
Kelihatannya dari seluruh waktu hidup Tono. Detik ini yang membuatnya paling kaget. Kaget yang tak terkatakan. Untung saja jantungnya masih kuat. Hanya karena jantungnya berdegup terlalu kencang yang membuatnya menjadi pingsan!
Dua perwira Polisi yang sedari tadi mengamati ruangan sempit itu kaget juga melihat Tono jatuh pingsan. Istrinya segera menghambur ke arah tubuh Tono yang sudah terjerembab di kolong meja. Polisi saling berpandangan. Sementara Joko, dengan wajah tanpa dosanya yang masih tak tahu apa-apa, memandangi polisi yang saling berpandangan itu.
“Ooalaah Pakne… pakne… kok malah semaput. Ini tadi diapain tho?” teriak istrinya.
“Maaf! Apa ada yang salah dengan kata-kata saya?” kata Kepala Polisi.
***
Pandangan Tono masih kabur. Ia mencoba tersenyum walupaun sepertinya ia masih belum sadar betul.
“Heh… maaf!”
“Tak apa dik. Ini dik Tono surat yang anda kirim. Dan ini uang yang anda minta. Kami hanya melakukan tugas.”
“Ehmm… iya… terimakasih.” Kata Tono yang masih dalam kebingungannya dan menerima amplop yang terdengar bunyi gemerincing uang dan agak berat itu.
“O iya dik Tono. Nama dik Tono ini “Tono Rintono MS” kenapa ada banyak kata “Tono” di situ?”
Mendadak Tono mejadi sehat kebali dengan pertanyaan itu.
“Oh… bukan… bukan saya pak. Orang tua saya yang memeberikannya pada saya. Bapak saya Jogja, ibu dari Jawa Barat.”
“Ooo begitu.” Kepala Polisi megangguk-angguk, mengerti kenapa namanya berulang. “Lalu MS-nya apa?”
“Martono Sartono Pak!”
“Pa’e. ini surat yang tadi pagi saya masukkan kotak di depan sana!” Teriak Joko sambil menunjuk surat di atas meja. Ia kenal betul dengan surat itu, walaupun sudah sobek di salah satu sisinya.
“Cuma, kotaknya tak mau terbang!”
“Terbang?” sahut semua yang di ruangan itu.
“Iya. Terbang ke tempat Tuhan. Tapi kenapa bisa dibawa bapak-bapak yang memakai topi pak? Apakah mereka Tuhan?”
“Hehe… anak dik Tono ini lucu.” Kata Kepala Polisi. “Dan kelihatannya juga pinter. Siapa namanya?”
“Joko pak.” Jawab Tono. “Joko Sarjoko MN.”
***
“Wah banyak sekali uangnya. Minta satu ya pak!” kata Joko.
“Jangan! Sedang dihitung dulu.”
“Nah, pakne. Jadi semuanya enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus tujuh puluh lima rupiah.”
“Hah… hanya segitu?”
“Kok hanya segitu! Harusnya kita berterimakasih ada orang yang tiba-tiba saja mau ngasih duwit. Pakne ini gimana tho. Kok malah menyepelekan!”
“Baiklah. Maaf. Tapi benar dugaan saya.”
“Dugaan? Dugaan yang mana?”
“Ah… sudahlah. Sebaiknya kita berdoa untui berterimakasih pada Tuhan.”
“Ooo uang ini dari Tuhan ya Mak? Ya pak?” kata Joko.
“Kurang lebih begitu.”
“Tuhan itu tiga bapak tadi ya pak?”
“Itu bukan Tuhan. Itu polisi.”
“Kenapa tidak Tuhan sendiri yang memberikannya pak? Kenapa Tuhan menitipkan pak polisi?”
“Itu yang akan bapak tanyakan di doa bapak nanti. Tapi tahukah nak; Tuhan bekerja dengan cara yang misterius!”
“Sudah le. Ayo kita berdoa.” Sahut ibunya.
Lalu mereka pun menganggkat kedua tangan. Hal itu menarik perhatian Joko. Semula Joko mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Namun apa yang dilakukan kedua orang tuanya benar-benar mengusiknya untuk ingin tahu. Ia heran mengapa mereka mengangkat tangannya seperti sedang meminta sesuatu? Kenapa wajah mereka tengadah? Apa yang mereka pandang? Ada orangkah di atas atap? Ada sesuatukah yang mereka pandang.
“Ya Tuhan…” Tono mulai berdoa.
“Bapak bicara dengan Tuhan? Di mana? Di mana Dia?” Joko menyahut.
“Ssssttt… cobalah tenang jika sedang berdoa!”
Joko pun duduk kembali sambil memandangi kedua orang tuanya. Sementara orang tuanya berdoa. Joko masih sibuk dengan banyak pertanyaan dalam dirinya. Ia bangkit dari duduk. Ia memandang ke arah yang di pandang kedua oarng tuanya. Sesekali menoleh ke arah mereka, lalu kembali memandang langit-langit rumah sambil berbisik.
“Hei… hei… Kamu di situ?”
Joko mulai memandangi tangan-tangan tengadah itu. Mereka sedang meminta apa? Kenapa mereka meminta? Ia mempermainkan tangan-tangan pasrah itu. Mengambil beberapa receh uang dan menjatuhkannya ke dalam tangan-tangan itu. Sebagian jatuh menimbulkan suara gemerincing.
Kurang lebih begini doa Tono:
“Ya Tuhan, terima kasih Kau benar-benar memberikan apa yang aku minta. Mungkin jika besok aku meminta lagi kepada-Mu, janganlah dititipkan pada polisi. Lihatlah apa yang mereka lakukan dengan uang satu juta-ku. Tapi saya tetap berterimakasih, walaupun aku tak tahu kemana lebih sepertiga uangku itu…!”
***
Tono benar-benar memanfaatkan uangnya. Membangun sebuah kios afdruk foto kilat di tempat yang kini sudah disediakan pemerintah daerah. Jadi kecil kemungkinan digusur lagi. Joko tetap dengan segudang pertanyaannya. Bapak-bapak polisi gembira telah membantu rakyat kecil, walaupun hanya seorang. Dan kehidupan pun kembali normal!
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=133630
“Semarang… Jakarta… Bandung… Jogja… Jogja lagi… Jakarta…” Suratman memilah surat berdasarkan kota. “Makasar… Sorong… Surga… Sura… … Surga? …Surga!!” Suratman kaget melihat sepucuk surat yang masih agak basah di salah satu ujungnya. Surat itu ditujukan dengan alamat yang sangat pendek “Kepada Tuhan di Surga”.
“Maaf!” Seorang petugas menaruh beberapa surat lagi di karung Suratman. “Ini tadi harusnya ikut dalam kantungmu. Ratman… Ratman…?” ia mendekatkan diri kepada Suratman yang masih terdiam. “Sebaiknya kau lebih cepat mensortir suratnya. Surat-surat itu harus segera sampai tujuan!”
“Surga?... Sampai tujuan?” kata Suratman sedikit bergumam. “Kau tahu di mana Tuhan?” Tanya Suratman pada teman sebelahnya yang juga sedang mensortir surat.
“Tuhan?” kini ada dua orang terheran-heran dalam ruangan itu. “Kenapa? Kamu sedang ada masalah dengan kehidupan spiritualmu?”
“Kamu tahu surga ada di mana?”
“Sudahlah! Kalau mau khotbah jangan di sini! Aku sedang sibuk. Sebaiknya kau selesaikan juga pekerjaanmu!”
Suratman menjadi salah tingkah. Ia melihat sekeliling, seperti sedang memeriksa sesuatu. Lalu ia memasukkan surat itu ke saku bajunya dan melanjutkan pekerjaannya.
“Pak… Pak!” Kata Suratman. “Apakah ada surat lain yang akan diantarkan ke surga?”
“Hah! Apa maksudmu?” Kata tukang pos itu terheran-heran.
“Maukah mengantarkan surat ini?” Sambil menyodorkan surat yang ditemukannya tadi.
Tukang pos itu membaca alamat surat itu. Walaupun tulisan alamat pendek, tapi ia membaca surat itu berulang-ulang. Mobolak-balikkan surat itu. Membaca nama pengirimnya. Lalu kemudian ia tertawa lebar.
“Hah…ha…ha…! Pasti dia bercanda! Tidak-tidak. Aku tidak mau mengantarkannya. Aku masih ingin menikmati dunia ini. Kembalikan saja suratnya! Alamatnya tidak jelas!”
“Tapi pak, bukankah semua surat ini harus sampai?”
“Iya! Tapi bukan yang itu. Harusnya tak perlu menulis surat kepada-Nya. Atau kau mau mengantarkannya sendiri?”
“Surga di mana?”
“Jika kau ke sana. Kau tak akan kembali lagi!”
“Kenapa?”
“Tempat yang selalu senang. Tak ada kesedihan. Tak ada orang jahat. Tak ada kata sengsara. Ah… sudahlah! Aku harus mengantar surat-surat ini. Sampai jumpa!” Pak pos itu lagi menderu dengan motornya, melaju dan menghilang di tikungan gerbang kantor pos yang besar.
“Tempat yang selalu menyenangkan?” gumam Suratman. “Kenapa membosankan sekali kedengarannya.”
“Wah, terus bagaimana dengan surat ini pak Polisi? Surat ini kan harus sampai ke tujuannya.”
“Gimana ya? Saya juga belum pernah pergi ke sana jhe. Alamat pengirimnya juga ndhak jelas. Tapi coba akan saya tanyakan pada seluruh anak buah saya. Siapa tahu ada yang tahu.”
Pak Kepala Polisi lalu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk berkumpul. Mencoba memusyawarahkan tentang bagaimana selanjutnya nasib surat yang di bawa Suratman.
Ruang Kepala Polisi yang berhawa dingin karena ada sebuah Air Conditioner dipasang di dinding. Beberapa prajurit Maba yang botak kelihatan lega setelah memasuki tempat itu, peluhnya segera di usap dengan tangan. Namun para Reserse yang berpakaian preman tak mempunyai masalah dengan tempat itu, mereka sepertinya sudah akrab dengan hawa dingin buatan itu.
“Jadi bapak juga tidak berani membuka suratnya?” kata seorang Sertu.
“Tidak bisa. Dari pihak kantor pos sendiri juga harus menjaga privacy pengirim dan yang dikirimi surat. Begitu tho dik Ratman?”
“Inggih!”
“Sebentar akan saya lihat dulu!” kata Kepala Serse. “Beri saya waktu 5 menit!” lalu Kepala Serse dengan pakaian santai itu membolak-balik surat itu. Sementara semua menunggu apa yang akan terjadi.
“Tak dapat dipungkiri. Ini adalah sebuah surat!” lanjut Kepala Serse.
“Heh… Saya sudah tahu.” Kata Kepala Polisi.
“Suratnya basah!” balas Kepala Serse.
“Bapak harus membukanya! Saya kira ini penting untuk kelanjutannya nanti.!” Kata suara yang ada di tengah.
“Iya, sebaiknya suratnya dibuka saja!” Balas yang lain.
Ruangan menjadi riuh rendah dengan suara-suara. Kebanyakan mendesak Kepala Polisi untuk membukanya.
“Ini sulit. Gimana dik Ratman?”
“Tapi pak…” Suratman lama berpikir. Memandangi seluruh manusia yang berkumpul di ruangan yang kecil itu. Semuanya menunggu. Hawa dingin dari AC sudah lagi tak terasa, terkalahkan oleh suhu tubuh seluruh orang di situ. “Baiklah pak, kalau itu membuat semuanya jadi jelas.”
“Heh…” Kepala Polisi menghela napas, memandangi lama surat yang agak kusut dan lecek itu tergeletak di meja. “Kopral! Bukalah surat ini!”
Ternyata Kopral masih punya bawahan lagi. Maka ia menunjuk bawahannnya untuk membuka surat. Lama bawahan itu ditunggu. Lalu keluarlah seseorang yang mengenakan masker kain di mukanya.
“Kamu yang akan membuka surat ini?”
“Siap pak! Iya pak.”
“Mukamu cukup aneh untuk membuka surat.”
“Siap pak! Saya takut ini adalah surat dari Timur Tengah yang nyasar ke sini Pak!”
“Baiklah. Buka saja suratnya!”
Seorang Maba di belakang berbisik pada teman di sebelahnya.
“Apa maksudnya surat dari Timur Tengah?”
“Ssstt… Anthrax!”
“Anthrax?!”
Bapak Kepala Polisi menunjukkan wajah yang sedih setelah membaca surat itu. Beberapa kali ia mengusap wajah dan menghela nafas panjang. Setelah berpikir aga lama ia berkata.
“Heh… menyedihkan surat ini. Coba kalian baca sendiri!”
Lalu surat utu berpindah dari tangan ke tangan. Membuat surat itu bertambah kusut. Banyak orang yang setelah membaca surat itu menampakkan kesedihan yang mendalam. Suasana menjadi begitu sedih di ruangan itu. Sampai tibalah surat itu di tangan salah seorang staf Serse.
“Lihat! Beberapa kata di sini sudah luntur karena air.”
“Iya. Mungkin saja itu air mata yang menetes ketika ia sedang menulis.” Celetuk yang lain.
“wahh… pasti dia menulis sambil menangis.”
“Bisa saja istrinya sedang mendikte suaminya sambil menggendong anaknya. Si istri menangis mengenai anaknya. Anaknya juga menangis mengenai bapaknya. Bapaknya juga menangis. Jadi air matanya akan banyak sekali.”
“Sampai dia tidak punya kertas lagi untuk menulis.”
“Lihat! Bahkan dia tidak punya setip[1]!”
Ruangan kembali ramai oleh banyak pendapat. Namun Kepala Serse kembali menengahi pembicaraan yang ramai itu.
“Stop! Jangan berprasangka dulu. Kita menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Mungkin saja itu adalah air liur!”
“Ini adalah surat untuk Tuhan. Ada yang tahu di mana Tuhan tinggal?”
“Saya tidak tahu.”
“Setahu saya Dia bisa tinggal di mana saja.”
“Kata orang rumahnya luas.”
“Saya belum pernah ke tempat Tuhan.”
“Tuhan? Siapa Dia?”
“Selebritis ya? Wah ga pernah nonton tivi aku!”
Suara bersahutan kembali terdengar. Ruangan kembali menjadi ramai. Semua saling bertanya dan menjawab.
“Kita semua tidak tahu di mana Tuhan tinggal.” Kata Kepala Polisi. “Jadi begini saja. Saya perintahkan kita menyumbangkan sedikit uang kita untuk orang yang menulis surat ini! Semua yang di sini harap menyumbang walaupun hanya sepeser. Ini perintah! Polisi prihatin dengan orang tersebut. Kini kumpulkan uang kalian. Saya juga akan menyumbang!”
Semua merogoh saku yang ada di pakaiannya. Beberapa mengeluarkan dompet. Suara gemerincing uang terdengar saling bersahutan. Beberapa saat kemudian, meja Kepala Polisi di penuhi uang. Tersebar dari mulai uang receh samapi kertas puluhan ribu. Beberapa prajurit bawahan menghitung uang yang kebanyakan sudah lecek.
“Siap pak! Semuanya ada enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus dua puluh lima rupiah pak!
”Baru segitu?”
“Siap pak! Saya menemukan dua keping receh lagi pak! Semuanya jadi enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus tujuh puluh lima rupiah pak!
“Baiklah. Kita memang bukan Tuhan. Tapi saya rasa jumlah ini akan menenangkan orang ini. Kita akan mencari alamat orang ini dan menyerahkan uangnya. Masukkan uangnya ke dalam amplop!”
“Siapa suruh kalian meniggalkan tugasnya!” teriak Kepala Polisi mengagetkan semua. “Kembali pada tugas kalian! Saya hanya pergi dengan beberapa perwira saja. Mereka sebenarnya butuh kita. Sekarang lihat apa yang kita perbuat!”
Jalan di depan Polsek itu sudah penuh dengan kendaraan yang semrawut. Bis-bis dengan asapnya yang hitam, taksi dan mobil pribadi saling membunyikan klakson. Motor-motor menggeber-geber dan menelusupi celah-celah mobil yang membahayakan para penyeberang jalan yang sedang menyeberang sembarangan. Lalulintas jalanan benar-benar kacau saat itu
“Maaf!” Seorang petugas menaruh beberapa surat lagi di karung Suratman. “Ini tadi harusnya ikut dalam kantungmu. Ratman… Ratman…?” ia mendekatkan diri kepada Suratman yang masih terdiam. “Sebaiknya kau lebih cepat mensortir suratnya. Surat-surat itu harus segera sampai tujuan!”
“Surga?... Sampai tujuan?” kata Suratman sedikit bergumam. “Kau tahu di mana Tuhan?” Tanya Suratman pada teman sebelahnya yang juga sedang mensortir surat.
“Tuhan?” kini ada dua orang terheran-heran dalam ruangan itu. “Kenapa? Kamu sedang ada masalah dengan kehidupan spiritualmu?”
“Kamu tahu surga ada di mana?”
“Sudahlah! Kalau mau khotbah jangan di sini! Aku sedang sibuk. Sebaiknya kau selesaikan juga pekerjaanmu!”
Suratman menjadi salah tingkah. Ia melihat sekeliling, seperti sedang memeriksa sesuatu. Lalu ia memasukkan surat itu ke saku bajunya dan melanjutkan pekerjaannya.
***
Motor-motor berwarna oranye hampir semuanya sudah berisi penuh surat-surat yang akan diantar sampai ke tujuan. Beberapa tukang pos bahkan sudah ada yang berangkat. Suratman menghampiri salah satu tukang pos yang sedang memasang helm.“Pak… Pak!” Kata Suratman. “Apakah ada surat lain yang akan diantarkan ke surga?”
“Hah! Apa maksudmu?” Kata tukang pos itu terheran-heran.
“Maukah mengantarkan surat ini?” Sambil menyodorkan surat yang ditemukannya tadi.
Tukang pos itu membaca alamat surat itu. Walaupun tulisan alamat pendek, tapi ia membaca surat itu berulang-ulang. Mobolak-balikkan surat itu. Membaca nama pengirimnya. Lalu kemudian ia tertawa lebar.
“Hah…ha…ha…! Pasti dia bercanda! Tidak-tidak. Aku tidak mau mengantarkannya. Aku masih ingin menikmati dunia ini. Kembalikan saja suratnya! Alamatnya tidak jelas!”
“Tapi pak, bukankah semua surat ini harus sampai?”
“Iya! Tapi bukan yang itu. Harusnya tak perlu menulis surat kepada-Nya. Atau kau mau mengantarkannya sendiri?”
“Surga di mana?”
“Jika kau ke sana. Kau tak akan kembali lagi!”
“Kenapa?”
“Tempat yang selalu senang. Tak ada kesedihan. Tak ada orang jahat. Tak ada kata sengsara. Ah… sudahlah! Aku harus mengantar surat-surat ini. Sampai jumpa!” Pak pos itu lagi menderu dengan motornya, melaju dan menghilang di tikungan gerbang kantor pos yang besar.
“Tempat yang selalu menyenangkan?” gumam Suratman. “Kenapa membosankan sekali kedengarannya.”
***
“Lha nggak bisa donk dik Ratman!”“Wah, terus bagaimana dengan surat ini pak Polisi? Surat ini kan harus sampai ke tujuannya.”
“Gimana ya? Saya juga belum pernah pergi ke sana jhe. Alamat pengirimnya juga ndhak jelas. Tapi coba akan saya tanyakan pada seluruh anak buah saya. Siapa tahu ada yang tahu.”
Pak Kepala Polisi lalu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk berkumpul. Mencoba memusyawarahkan tentang bagaimana selanjutnya nasib surat yang di bawa Suratman.
Ruang Kepala Polisi yang berhawa dingin karena ada sebuah Air Conditioner dipasang di dinding. Beberapa prajurit Maba yang botak kelihatan lega setelah memasuki tempat itu, peluhnya segera di usap dengan tangan. Namun para Reserse yang berpakaian preman tak mempunyai masalah dengan tempat itu, mereka sepertinya sudah akrab dengan hawa dingin buatan itu.
“Jadi bapak juga tidak berani membuka suratnya?” kata seorang Sertu.
“Tidak bisa. Dari pihak kantor pos sendiri juga harus menjaga privacy pengirim dan yang dikirimi surat. Begitu tho dik Ratman?”
“Inggih!”
“Sebentar akan saya lihat dulu!” kata Kepala Serse. “Beri saya waktu 5 menit!” lalu Kepala Serse dengan pakaian santai itu membolak-balik surat itu. Sementara semua menunggu apa yang akan terjadi.
“Tak dapat dipungkiri. Ini adalah sebuah surat!” lanjut Kepala Serse.
“Heh… Saya sudah tahu.” Kata Kepala Polisi.
“Suratnya basah!” balas Kepala Serse.
“Bapak harus membukanya! Saya kira ini penting untuk kelanjutannya nanti.!” Kata suara yang ada di tengah.
“Iya, sebaiknya suratnya dibuka saja!” Balas yang lain.
Ruangan menjadi riuh rendah dengan suara-suara. Kebanyakan mendesak Kepala Polisi untuk membukanya.
“Ini sulit. Gimana dik Ratman?”
“Tapi pak…” Suratman lama berpikir. Memandangi seluruh manusia yang berkumpul di ruangan yang kecil itu. Semuanya menunggu. Hawa dingin dari AC sudah lagi tak terasa, terkalahkan oleh suhu tubuh seluruh orang di situ. “Baiklah pak, kalau itu membuat semuanya jadi jelas.”
“Heh…” Kepala Polisi menghela napas, memandangi lama surat yang agak kusut dan lecek itu tergeletak di meja. “Kopral! Bukalah surat ini!”
Ternyata Kopral masih punya bawahan lagi. Maka ia menunjuk bawahannnya untuk membuka surat. Lama bawahan itu ditunggu. Lalu keluarlah seseorang yang mengenakan masker kain di mukanya.
“Kamu yang akan membuka surat ini?”
“Siap pak! Iya pak.”
“Mukamu cukup aneh untuk membuka surat.”
“Siap pak! Saya takut ini adalah surat dari Timur Tengah yang nyasar ke sini Pak!”
“Baiklah. Buka saja suratnya!”
Seorang Maba di belakang berbisik pada teman di sebelahnya.
“Apa maksudnya surat dari Timur Tengah?”
“Ssstt… Anthrax!”
“Anthrax?!”
***
Bapak Kepala Polisi menunjukkan wajah yang sedih setelah membaca surat itu. Beberapa kali ia mengusap wajah dan menghela nafas panjang. Setelah berpikir aga lama ia berkata.
“Heh… menyedihkan surat ini. Coba kalian baca sendiri!”
Lalu surat utu berpindah dari tangan ke tangan. Membuat surat itu bertambah kusut. Banyak orang yang setelah membaca surat itu menampakkan kesedihan yang mendalam. Suasana menjadi begitu sedih di ruangan itu. Sampai tibalah surat itu di tangan salah seorang staf Serse.
“Lihat! Beberapa kata di sini sudah luntur karena air.”
“Iya. Mungkin saja itu air mata yang menetes ketika ia sedang menulis.” Celetuk yang lain.
“wahh… pasti dia menulis sambil menangis.”
“Bisa saja istrinya sedang mendikte suaminya sambil menggendong anaknya. Si istri menangis mengenai anaknya. Anaknya juga menangis mengenai bapaknya. Bapaknya juga menangis. Jadi air matanya akan banyak sekali.”
“Sampai dia tidak punya kertas lagi untuk menulis.”
“Lihat! Bahkan dia tidak punya setip[1]!”
Ruangan kembali ramai oleh banyak pendapat. Namun Kepala Serse kembali menengahi pembicaraan yang ramai itu.
“Stop! Jangan berprasangka dulu. Kita menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Mungkin saja itu adalah air liur!”
“Ini adalah surat untuk Tuhan. Ada yang tahu di mana Tuhan tinggal?”
“Saya tidak tahu.”
“Setahu saya Dia bisa tinggal di mana saja.”
“Kata orang rumahnya luas.”
“Saya belum pernah ke tempat Tuhan.”
“Tuhan? Siapa Dia?”
“Selebritis ya? Wah ga pernah nonton tivi aku!”
Suara bersahutan kembali terdengar. Ruangan kembali menjadi ramai. Semua saling bertanya dan menjawab.
“Kita semua tidak tahu di mana Tuhan tinggal.” Kata Kepala Polisi. “Jadi begini saja. Saya perintahkan kita menyumbangkan sedikit uang kita untuk orang yang menulis surat ini! Semua yang di sini harap menyumbang walaupun hanya sepeser. Ini perintah! Polisi prihatin dengan orang tersebut. Kini kumpulkan uang kalian. Saya juga akan menyumbang!”
Semua merogoh saku yang ada di pakaiannya. Beberapa mengeluarkan dompet. Suara gemerincing uang terdengar saling bersahutan. Beberapa saat kemudian, meja Kepala Polisi di penuhi uang. Tersebar dari mulai uang receh samapi kertas puluhan ribu. Beberapa prajurit bawahan menghitung uang yang kebanyakan sudah lecek.
“Siap pak! Semuanya ada enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus dua puluh lima rupiah pak!
”Baru segitu?”
“Siap pak! Saya menemukan dua keping receh lagi pak! Semuanya jadi enam ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus tujuh puluh lima rupiah pak!
“Baiklah. Kita memang bukan Tuhan. Tapi saya rasa jumlah ini akan menenangkan orang ini. Kita akan mencari alamat orang ini dan menyerahkan uangnya. Masukkan uangnya ke dalam amplop!”
***
Para polisi itu keluar dari ruangan yang sudah menjadi panas itu. Semuanya menghela nafas setelah dapat menghirup udara luar yang segar. Namun hal itu tak berlangsung lama setelah nafas mereka sudah menyesuaikan diri, dan bau karbondioksida terhirup. Tak hanya itu, ada satu hal yang membuat Kepala Polisi kaget. Dan hal itu pula yang menyebabkan mengapa bau karbondioksida terasa begitu kerasnya.“Siapa suruh kalian meniggalkan tugasnya!” teriak Kepala Polisi mengagetkan semua. “Kembali pada tugas kalian! Saya hanya pergi dengan beberapa perwira saja. Mereka sebenarnya butuh kita. Sekarang lihat apa yang kita perbuat!”
Jalan di depan Polsek itu sudah penuh dengan kendaraan yang semrawut. Bis-bis dengan asapnya yang hitam, taksi dan mobil pribadi saling membunyikan klakson. Motor-motor menggeber-geber dan menelusupi celah-celah mobil yang membahayakan para penyeberang jalan yang sedang menyeberang sembarangan. Lalulintas jalanan benar-benar kacau saat itu
Hai…
Selamat pagi Tuhan.
Bagaimana kabar Tuhan? Apakah Tuhan baik-baik saja? Pasti baik-baik saja. Kabar saya tidak baik-baik saja. Sejak kios saya, yang sekaligus tempat tinggal saya bersama keluarga, diratakan dengan tanah dua hari yang lalu saya tinggal bersama kerabat istri saya. Kerabat istri saya mau menerima kami, tapi tidak tahu kenapa, sejak saya tinggal di sini mereka sepertinya tidak mau lagi tersenyum kepada kami. Istri saya menjadi sering marah, lalu anak kami masih terlalu kecil. Dia masih suka bermain dan tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kami.
Saya…
“Mas! Mbok ya sudah!” bentak istri Tono dari ruang lain yang hanya tersekat tripleks, membuat ia tersentak dan menghentikan gumammannya saat menulis surat. “Apa kalo berdoa terus rejeki bisa datang tiba-tiba jatuh dari langit?!”
“Aku tidak sedang berdoa! Aku sudah lagi tidak berdoa! Aku lagi nulis surat!”
“Surat? Surat buat siapa?” Sambil membenahi pakaian kotor yang akan dicucinya beranjak ke ruang lain. Ruangan Tono menulis.
“Buat Tuhan!”
“Tuhan?! Whoallaah…. Pakne… pakne. Wong kok senengane nganeh-nganehi. Mbok sudah cari kerjaan sana. Kalo lagi susah saja, baru berdoa sampai sarungnya sobek kayak gitu itu.!. Apa kita mau nginep di sini terus? Anak kitakan masih kecil. Nggelidhikke wae setengah modiar…” istri Tono terus mengomel sekan tiada akan pernah berhenti.
Tono kembali meneruskan suratnya. Mengacuhkan istrinya yang masih mengomel di belakang sambil membenahi pakaian kotor, lalu mulai keluar. Kata “Saya” yang sepat ditulisnya sudah lupa ia akan diteruskan dengan kalimat apa. Coba dihapusnya sebisa mungkin dengan tangan, membuat kertas itu jadi kotor.
Maaf Tuhan. Istri saya tadi ngomel lagi.
Oh iya. Tadi saya mau cerita tengtang kios saya. Saya tidak tahu mengapa kios saya dan kios teman-teman yang lain digusur. Sebuah universitas di pinggir selokan mau melebarkan dirinya. Katanya itu mengganggu pemandangan. Harus dibersihkan. Padahal saya dan keluarga mandi setiap hari. Memang Joko, anak saya, suka susah dimandikan. Kadang saya harus main kejar-kejaran dengan dia yang sudah telanjang bulat.
Sekarang di rumah kerabat istri saya. Kami merasa tak enak dengannya. Rumahnya jadi tambah sempit dengan adanya kami. Maka saya bermaksud membuat kios lagi untuk dijadikan tempat tinggal dan membuka usaha Afdruk Foto hitam putih.
Tuhan. Maaf, saya tidak lagi berdoa kepada-Mu, tapi menulis surat kepada-Mu. Karena tak tahu lagi kemana kau harus mengadu. Penderitaan saya sekarang semakin berat. Saya harus memberi makan pada istri dan anak saya. Untuk itu sudilah kiranya Tuhan memberikan bantuan kepada kami. Kami hanya minta uang satu juta saja Tuhan. Untuk membangun kios dan usaha saya.
Semoga Tuhan mau membantu.
Hormat saya
Tono Rintono MS
Tono lalu melipat selembar surat dan memasukkannya ke dalam amplop putih dengan garis-garis tebal pendek di pinggirnya berwarna biru, putih, merah saling berseling. Tak lupa ia menutup amplop itu dengan menjilati salah satu pinggirnya agar dapat ditempel. Lalu menuliskan alamat;
Kepada
Tuhan
Di Surga
Juga alamatnya sendiri yang masih mendompleng di rumah kerabat istrinya itu.
“Ya Tuhan, akau tidak tahu apakah ini sampai atau tidak. Dan apakah perangko 1000 ini cukup mengantar surat ini?” kata Tono dalam hati.
Selamat pagi Tuhan.
Bagaimana kabar Tuhan? Apakah Tuhan baik-baik saja? Pasti baik-baik saja. Kabar saya tidak baik-baik saja. Sejak kios saya, yang sekaligus tempat tinggal saya bersama keluarga, diratakan dengan tanah dua hari yang lalu saya tinggal bersama kerabat istri saya. Kerabat istri saya mau menerima kami, tapi tidak tahu kenapa, sejak saya tinggal di sini mereka sepertinya tidak mau lagi tersenyum kepada kami. Istri saya menjadi sering marah, lalu anak kami masih terlalu kecil. Dia masih suka bermain dan tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kami.
Saya…
“Mas! Mbok ya sudah!” bentak istri Tono dari ruang lain yang hanya tersekat tripleks, membuat ia tersentak dan menghentikan gumammannya saat menulis surat. “Apa kalo berdoa terus rejeki bisa datang tiba-tiba jatuh dari langit?!”
“Aku tidak sedang berdoa! Aku sudah lagi tidak berdoa! Aku lagi nulis surat!”
“Surat? Surat buat siapa?” Sambil membenahi pakaian kotor yang akan dicucinya beranjak ke ruang lain. Ruangan Tono menulis.
“Buat Tuhan!”
“Tuhan?! Whoallaah…. Pakne… pakne. Wong kok senengane nganeh-nganehi. Mbok sudah cari kerjaan sana. Kalo lagi susah saja, baru berdoa sampai sarungnya sobek kayak gitu itu.!. Apa kita mau nginep di sini terus? Anak kitakan masih kecil. Nggelidhikke wae setengah modiar…” istri Tono terus mengomel sekan tiada akan pernah berhenti.
Tono kembali meneruskan suratnya. Mengacuhkan istrinya yang masih mengomel di belakang sambil membenahi pakaian kotor, lalu mulai keluar. Kata “Saya” yang sepat ditulisnya sudah lupa ia akan diteruskan dengan kalimat apa. Coba dihapusnya sebisa mungkin dengan tangan, membuat kertas itu jadi kotor.
Maaf Tuhan. Istri saya tadi ngomel lagi.
Oh iya. Tadi saya mau cerita tengtang kios saya. Saya tidak tahu mengapa kios saya dan kios teman-teman yang lain digusur. Sebuah universitas di pinggir selokan mau melebarkan dirinya. Katanya itu mengganggu pemandangan. Harus dibersihkan. Padahal saya dan keluarga mandi setiap hari. Memang Joko, anak saya, suka susah dimandikan. Kadang saya harus main kejar-kejaran dengan dia yang sudah telanjang bulat.
Sekarang di rumah kerabat istri saya. Kami merasa tak enak dengannya. Rumahnya jadi tambah sempit dengan adanya kami. Maka saya bermaksud membuat kios lagi untuk dijadikan tempat tinggal dan membuka usaha Afdruk Foto hitam putih.
Tuhan. Maaf, saya tidak lagi berdoa kepada-Mu, tapi menulis surat kepada-Mu. Karena tak tahu lagi kemana kau harus mengadu. Penderitaan saya sekarang semakin berat. Saya harus memberi makan pada istri dan anak saya. Untuk itu sudilah kiranya Tuhan memberikan bantuan kepada kami. Kami hanya minta uang satu juta saja Tuhan. Untuk membangun kios dan usaha saya.
Semoga Tuhan mau membantu.
Hormat saya
Tono Rintono MS
Tono lalu melipat selembar surat dan memasukkannya ke dalam amplop putih dengan garis-garis tebal pendek di pinggirnya berwarna biru, putih, merah saling berseling. Tak lupa ia menutup amplop itu dengan menjilati salah satu pinggirnya agar dapat ditempel. Lalu menuliskan alamat;
Kepada
Tuhan
Di Surga
Juga alamatnya sendiri yang masih mendompleng di rumah kerabat istrinya itu.
“Ya Tuhan, akau tidak tahu apakah ini sampai atau tidak. Dan apakah perangko 1000 ini cukup mengantar surat ini?” kata Tono dalam hati.
***
Seorang anak kecil yang masih cukup basah berlari masuk ke ruang di mana Tono baru selesai menulis surat. Sementara istrinya berteriak-teriak memanggil anak itu.
“Heh! Joko! Jangan lari-lari dulu! Ayo andhukan, terus pake pakaiannya! Joko…! He Joko…!”
“Hiya! Ketangkap!” tiba-tiba Tono menangkap tubuh mungil itu dari larinya. “Hayoh pakaiannya dipakai dulu. Kalau nggak bersih, nanti kamu juga tak gusur…! Tak kintung kintang kintung, anakku sing bagus dhewe!” sementara si anak tertawa-tawa dalam gendongan bapaknya.
“Naaa… beginikan jadi bagus. Wah, nggantheng ya anake bapak.!” Kata Tono.
“Itu apa pak?” Tanya Joko yang matanya tertuju pada surat di atas meja.
“Ooo… bapak minta tolong ya Jok! Nanti poskan surat ini. Tahukan? Di depan gang itu kan ada kotak oranye, nah di kotak itu ada lubang yang panjang. Masukkan saja surat ini ke dalam situ! Bapak tak mandi dulu biar nggantheng kayak kamu, trus bisa cari kerja”
“Surat itu apa pak?”
“Surat itu jika kamu ingin mengatakan atau mengungkapkan sesuatu kepada orang yang jauh, kamu bisa menuliskannya di atas kertas dan mengirimkannya.”
“Ooo… Surat ini buat siapa pak?”
“Tuhan.”
“Tuhan itu siapa pak?”
“Tuhan itu mmmm… Tuhan itu… “orang baik”!”
“Tuhan memangnya tinggalnya jauh ya?”
“Tuhan ada di surga.”
“Surga itu di mana?”
“Di sana! Di atas sana!” sambil menunjuk ke atas.
Joko mendongak ke atas mengikuti arah telunjuk bapaknya. Ia sepertinya sedang berpikir keras.
“Kalau Tuhan tinggal di genteng, kenapa saya harus pergi ke depan gang dan memasukkan surat ini di kotak oranye? Bapak bisa pinjam tangga dan memberikannya sendiri kepada-Nya. Saya takut kalau naik genteng nanti dimarah simbok!”
“Heh…he… bukan di atas situ. Begini saja, Joko tahu kalau Joko anak yang hebat?”
“Joko anak yang hebat!” ulang Joko penuh semangat.
“Nah… sekarang masukkan saja surat ini ke kotak oranye itu!”
“Baik pak!’
“Karena Joko adalah anak yangggg…”
“… Hebat!!”
Joko turun dari kursi dan berlari keluar dengan riang gembira.
Tapi tak lama kemudian Joko kembali kerumah sambil terpincang-pincang. Dengan wajah lugu dan tampang yang tanpa dosa dia berkata.
“Pak! Joko menginjak tahi ayam.”
Kontan saja, simboknya yang kebetulan lewat di situ langsung ngomel lagi.
“Whoalaahhh bocah! Wis siram, bagus-bagus kok ya ngidhak telek! Ayo wijik. Cuci kakinya biar bersih!” ajak ibunya.
“Eh tapi awas! Suratnya jangan sampai basah!” Teriak Tono pada istri dan anaknya.
***
Tangan kecil meraba-raba pada lubang kotak surat. Surat yang agak basah di beberapa bagian itu pun akhirnya masuk juga. Joko merasa gembira bisa memasukkan surat itu, pasti bapaknya akan senang. Tapi yang membuat dia heran adalah, bagaimana mungkin surat itu akan sampai pada orang di lain tempat. Sedangkan surat itu sekarang ada di dalam sana. Apakah benda ini yang akan mengatarkannya?
Ia meneliti kotak surat itu. Barangkali ada saluran yang menghubungkan kepada Tuhan di atas sana. Tapi ia tak menemukan. Hanya empat besi baja yang menopang kotak surat oranye yang sudah agak berkarat itu. Dia mengambil beberapa batu besar dengan susah payah dan menumpuknya hingga ia bisa berdiri dan melihat ke dalam lubang panjang kotak itu. Ternyata lubang itu tertutup. Tapi dia berusaha mengintipnya. Atau berteriak.
“OOOIIIIIII…!” menggebuk kotak itu dan memanggil. “Tuhaaannnn…!”
ia memandang ke atas. Ke langit yang mulai siang dan cerah.
Ia masih tak habis pikir. Mungkin kotak ini akan terbang ke atas sana, ke tempat Tuhan. Bagaimana bapaknya bisa kenal Tuhan? Apakah Tuhan itu adalah bagian dari keluarganya? Siapakah Tuhan itu? Apakah bapaknya bisa terbang untuk bertemu Tuhan?! Dan sekarang masih cukup pagi untuk terbang?
Ia lalu memutuskan utuk bersembunyi. Siapa tahu kotak itu malu untuk terbang karena ada dia yang menunggunya di situ. Lama ia bersembunyi. Setiap kepalanya menyembul, kotak oranye itu masih berdiri ditempatnya. Dia lalu menghampiri kotak itu lagi.
“Ayolah kotak! Terbanglah! Antarkan surat bapak kepada Tuhan!”
Kotak surat masih diam saja dipinggir jalan, ditengah panas.
“Terbang! Terbang! Kau harus terbang!” Teriak Joko sambil memukul-mukul bagian bawah kotak itu hingga menimbulkan suara yang berisik.
Sebuah mobil box warna oranye berhenti. Seorang keluar dan berteriak pada Joko.
“Hei! Jangan kau pukul-pukul kotak itu!”
Joko yang masih memukuli kotak itu kaget setengah mati melihat orang yang berteriak kepadanya. Spontan saja ia lari dan bersembunyi di tempatnya tadi. Sementara petugas pos membuka kotak oranye dan mengeluarkan benda di dalamnya, mengganti dengan yang lain.
Joko semakin bertanya-tanya. Siapakah dia? Maka dia memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan mendekati petugas itu.
“Saya tadi memasukkan surat bapak saya.”
“O ya?”
“Apakah bapak Tuhan?”
“Tuhan?!” petugas itu terheran dan menoleh ke sekelilingnya. “Saya petugas pos nak! Tuhan ada di atas sana. Sedang mengawasi kita!”
Lalu petugas itu pun pergi dengan mobil boxnya. Menghilang di keramaian. Joko semakin kagum dengan Tuhan. Tapi masih banyak pertanyaan yang menurut Joko harus dijawab.
Joko mendongak ke atas. Ekspresi silau ada di wajahnya karena matahari sangat terik. Ia lalu duduk di kolong kotak surat itu.
“Tuhan! Sekarang Kau tidak bisa mengawasiku. Aku sedang bersembunyi!”
***
Puluhan box bertumpuk di kantor pos. Usai dikeluarkan dari mobil box yang mengambilnya dari kotak-kotak surat di pinggir-pinggir jalan, surat yang ada di dalamnya akan dikeluarkan dan dikumpulkan untuk di sortir. Memilah dalam wilayah dengan kode-kode yang sudah ditentukan.
“Ratman!” teriak petugas pengawas pada salah seorang. “Satu lagi kantong untuk kau sortir. Sebagai pegawai baru, ini adalah ujian untukmu. Kerjakan dengan baik!”
“Ya! Baik pak!” balas Suratman.
“Su” dalam bahasa Jawa artinya “baik”, namun ia tidak tahu apa artinya “Ratman”. Katanya orang Jawa dalam memberi nama, adalah suatu doa. Kini ia tahu apa keinginan orang tuanya setelah ia diterima kerja di kantor pos. Kakaknya mendapat nama Wakiman, sekarang ia bekerja di bagian pengemasan pabrik elektronik, khusus mengemas radio-tape yang kecil. Belakangan ia tahu, radio-tape kecil itu ternyata sering disebut “Walkman”. Namun yang tak habis pikir adalah adik perempuannya. Namanya Rosilawati. “Ros… Rosi… Ros… Si… La… Wati” ia tetap bingung artinya, tapi ia masih berpikir kenapa adiknya itu sekarang bisa bekerja di toko bunga.


