Tampilkan postingan dengan label hitam putih kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hitam putih kehidupan. Tampilkan semua postingan
Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.
Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.
“Aku ingin kuliah di Amerika,” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.
Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar. “Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”
Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.
Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun. “Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa. “Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya,” ujar sang guru.
“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil.”
Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar
bagian-bagian komputer dan cara kerjanya. Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. “Inilah saat yang kejam. Penolakan,” pikir sang guru.
Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima ….
“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri,” tutur sang guru menutup kisahnya.
Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship, dan dimuat di buku “Chicken Soup for the College Soul”, yang edisi Indonesianya telah diterbitkan.
Tentu kisah ini tidak dipandang sebagai kisah biasa oleh Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Kimberly Kirberger, dan Dan Clark. Ia terpilih diantara lebih dari delapan ribu kisah lainnya. Namun, bukan ini yang membuatnya istimewa.
Yang istimewa, Hani menampilkan sosoknya yang berbeda. Ia punya tekad. Tekad untuk maju. Maka, sebagaimana diucapkan Tommy Lasorda, “Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang.”
Anda memilikinya?
Hari itu, aku melihat seorang anak yang berpakaian lusuh dan cukup kotor menuju rumah salah seorang temannya. Pakaiannya itu sebenarnya berwarna putih, tapi menjadi kecoklatan dengan bercak-bercak hitam di beberapa sisi. Dia menyandang tas samping. Awlnya ku fikir ia tengah mengajak temannya bermain selepas bermain dengan teman yang sebelumnya. Ternyata bukan, dia memanggil temannya itu untuk pergi mengaji. Aku langsung heran dan bertanya kepada salah seorang Ibu yang menurutku tahu tentang anak itu.
“Ibu, kenapa pakaian anak itu kotor ? Bukankah dia mau pergi mengaji? Kenapa dia tidak mengganti pakaiannya?” Tanyaku.
”Itu memang pakaian mengajinya. Orang tuanya sepertinya tidak mempedulikannya, makanya dia selalu berpenampilan demikian meskipun untuk pergi mengaji sekalipun. Selain karena kurangnya perhatian, dia itu memang berasal dari keluarga kurang mampu.” Jawab sang Ibu tersebut.
”Kasihan sekali kita melihatnya.” Lanjut Ibu itu.
Sedikit meluangkan waktu dan karena sedikit penasaran, aku bertanya lagi kepada Ibu itu mengenai anak tersebut. ”Ibu,.. Maaf, apa Ibu dari anak itu masih ada? Ayahnya? Bagaimana dengan saudaranya yang lain? Kakaknya apakah ada? Dan rumahnya di mana?
Ibu itu menjawab,”Ibunya masih ada. Ayahnya sudah tidak tinggal bersamanya karena kedua orang tuanya bercerai. Dia itu anak satu-satunya. Jadi, sekarang dia hanya tinggal bertiga bersama Ibu dan neneknya di rumah sederhana yang juga sudah tinggal satu kamar itu akibat gempa kemaren.”
Ya Allah…. Anak sekecil itu harus mendapatkan cobaan yang demikian??
Dia hidup dalam kekurangan materi, lalu apakan harus dia juga hidup kekurangan kasih sayang orang tuanya dan orang-orang sekitarnya??
Pernahkah terfikir oleh kita bahwa di sekitar kita masih banyak peri-peri kecil yang butuh kasih sayang kita??
Tuhan,,, Melihatnya aku takut…
Aku takut jika sekarang, esok, atau sampai saat nanti ia hidup tanpa tahu bagaimana rasa sayang hingga ia menjadi anak yang tidak pandai menyayangi.
Aku takut jika ia tumbuh menjadi anak yang selalu merasa rendah diri karena kekuranggannya dan karena tidak ada seorang pun yang menghargai serta mengacuhkannya.
Wahai engkau bocah kecilku… Adikku…
Andai aku punya istana yang di dalamnya hidup malaikat-malaikat penuh kasih sayang, maka engkau sekalian akan ku biarkan menikmatinya sepuas hatimu walau aku harus hidup di kejamnya panas mentari di luar sana.
Tuhan… Bolehkan aku ini hidup untuk mereka??? Bolehkan aku tetap melihat senyum mereka..??
Ketakutan dan kesedihanku adalah ketika mereka enggan berkumpul bersama teman-teman sebaya yang mereka lihat jauh lebih mapan dari mereka. Sungguh.. sungguh aku takut jika mereka menjauh dan merasa hina dibanding orang-orang kaya itu sementara sebenarnya mereka lebih mulia dari si kaya…
Oh tuhan…. Jangan biarkan rasa hina mengerogoti jiwa mereka. Tetap senangkan hatinya. Hati si kecilku yang kehilangan masa kecilnya bersama kedua Ibu Bapaknya itu.
Adik-adikku.. anak-anakku…
Kelak, jika kalian melihatku datang, mendekatlah padaku… Jangan pernah takuti aku ya… Senyum dan melihat kalian tertawa adalah kebahagiaan terbesarku…
Teman, seoarng anak, meskipun bukan anak kandung kita, saudara kandung kita, atau pun family dekat kita, mereka tetaplah anak kita. Meraka anaknya semua orang muslimin…
Jangan pernah acuhkan mereka sekalipun ia terlihat tidak seperti layknya setiap orang berpenampilan. Mereka hanya butuh kepedulian kita.. Jikalau pun tidak mampu berbuat banyak, jangan pernah sakiti mereka dengan menunjukkan kebencian, cemoohan, atau pun rasa jijik terhadap mereka..
Bayangkanlah teman,, Betapa pilunya hati mereka ketika melihat kita menjauhi mereka…
Astaghfirullah.. Astaghfirullahal”adziim…
Jangan sampai kita membuat hati mereka sedih kemudian membuat mereka terisak menangis pilu di hatinya…
Allah Arrahman dan Arrahim… Dan semoga sifatnya Allah tetap bermekaran di hati kita, bukan malah luntur dikikis oleh sifat yang ditancapkan oleh syaitan..
Teman, maaf ya kalau kelihatannya seperti menggurui.. si “AKU” tdk bermaksud apa-apa. Dia hanya mencoba menuangkan apa yang ia lihat, cerna, dan ia rasa. Si “AKU” bukan orang yang baik, tp ia ingin menjadi baik. Dan ia sadar bahwa butuh waktu yang lama untuk menjadikannya baik karena begitu jauhnya dia dari kebaikan itu..
Saya adalah pendatang disuatu daerah. Dipasar kota tersebut, saya membuka membuka usaha kecil-kecilan. Berupa penyewaan play station ( PS ) dan rental VCD. Di depan toko ada tukang parkir. Selain tukang parkir dia adalah preman pasar. Preman ini sering berulah di depan toko saya. Sehingga ini membuat pelanggan saya menjadi kurang nyaman. Geram rasanya jika karena ulahnya pelanggan saya pergi. Dan ini sudah terjadi berulang kali. Mungkin karena saya pendatang sehingga dia berulah demikian.
Meski begitu, preman pasar ini sudah beberapa kali meminjam play station ketempat saya, dan dia mengembalikan tepat waktu, dan saya selalu memberikan special discount kepadanya karena terpaksa.
Suatu malam, tepatnya pukul 12 malam preman ini berjalan -jalan dilorong gang menuju rumah saya. Preman itu jalan sempoyongan sambil mengomel. Saat di depan rumah dia memanggil-manggil nama saya dengan sangat tidak sopan. Ingin rasanya saya tonjok hidungnya. Sayapun keluar, penampilan preman malam itu sangat semrawut, kepalanya sedang diperban yang terlihat berdarah, sambil membawa kampak. Dia terlihat dalam emosi yang tinggi. Dan dia pun meninju berulang kali ke arahku. Namun bisa kuhindari. Pikir saya, buat apa berurusan dengan preman ini, daripada kedepan timbul masalah, mending saya tenangkan dia.
Saya tenangkan pinta kapak yang dia bawa, tenyata dia menyerahkan kampak itu ke saya. Beberapa saat kemudian dia mengemukakan bahwa dia ingin meminjam PS ke saya, sayapun melayani. Setelah preman itu pulang, hati kecil ku berkata, masak harus mengalah terus. Kalau mengalah nanti akan diinjek-injek terus. Akhirnya saya memutuskan, esok hari akan saya tantang preman itu untuk duel secara jantan.
Pagi harinya, sampai dua hari saya mencari-cari preman itu. Namun tidak ketemu. Hingga bertemu dengan orang tuanya yang mengatakan bahwa si preman sudah berada di Kantor polisi. Dia ditangkap setelah dari rumah saya, lengkap dengan PS ditangannya. Tuduhan polisi kepada nya diantaranya membuat keributan di pasar, serta mencuri PS dari rumah penduduk. Owh baru tau saya ternyata kampak yang dibawa ke rumah saya itu digunakan untuk membuat keributan.
Setelah mengetahui si preman ditangkap polisi saya kemudian menuju kantor polisi untuk menjenguknya. Namun dalam laporan ke Polisi saya tidak melaporkan si preman sebagai pencuri dia hanya meminjam dari saya serta saya terangkan bahwa dia adalah langganan saya. Mengenai kejadian malam itu, sewaktu dia berusaha memukulku juga tidak saya ceritakan. Malah sewaktu saya menjenguk nya saya coba menenangkan dia, serta menanyakan apa yang perlu di Bantu. Jack mengeluh saat itu dia sakit gigi dan tidak punya uang untuk membeli obat. Kemudian saya membelikan obat dan rokok serta uang alakadarnya guna membeli makanan selama ditahan di kantor polisi.
Sehabis mengisi formulir pengambilan barang dikantor polisi, saya kemudian pulang. Seminggu kemudian si preman tiba-tiba muncul didepan rumahku dan tiba-tiba dia menujuku dengan terburu-buru, dia memelukku dan menangis dipundakku. Dia mengucapkan terima kasih atas bantuanku sewaktu dia berada di kantor polisi. Dia percaya dengan kedatangan saya kekantor polisi tuduhan pencurian dapat dihindari.
Saat ini si preman masih berprofesi sebagai tukang parkir, namun sikapnya sudah berubah dibandingkan sebelum dia ditangkap. Hampir setiap kali dia bertemu denganku, dia selalu menyapa dan tersenyum.
Sahabat resensi.net. Pecinta cerita motivasi
Apa kandungan dan makna dari cerita diatas?
Kandungan dari cerita ini :
- Dendam dan amarah tidak akan menyelesaikan sebuah persoalan.
- Setiap persoalan seyoknyanya dihadapi dengan kepala dingin dan diputuskan dengan bijak
- Usahakan membantu kesulitan orang lain, meskipun orang tersebut memusuhimu
- Untuk mengubah sikap seseorang tidak seharusnya dengan menceramahi terus – menerus, namun sentuhlah nuraninya dengan sikap dan perbuatan yang baik.
Sahabat, sesuatu yang membara jika dihadapi dengan api, maka yang ada hanyalah kehancuran. Sebagaimana kekerasan yang dihadapi dengan kekerasan pula. Maka kehancuranlah yang didapat. Dengan melebur rasa dendam, maka akan meleburkan pula rasa amarah, menumbuhkan kasih sayang dan persahabatan.
Jadilah orang yang beruntung, bukan orang yang merugi dan kecewa. Dendam adalah onggokan sampah hati yang membuat pemiliknya semakin tersiksa dan menderita. Bukankah Allah juga maha memaafkan atas kekurangan, kelemahan dan kekhilafan manusia?
Lalu, mengapa manusia tidak banyak belajar untuk mencukupkan diri hanya dengan Allah Subhanahu Wata’ala, saja? Ketika seseorang memenuhi hati, pikiran dan hari harinya hanya dengan Allah, maka sanjungan atau makian bukanlah sesuatu seban yang harus dipikirkan, dibenci atau disenangi orang bukan suatu masalah yang dapat mengganti jati diri kita. Ya, jati diri seorang yang baik. Bukan jati diri pendendam.
Banyak orang mengatakan aku bukan manusia, kumpulanku terdiri dari orang-orang bejat, penjudi, peminum, penjambret, pencuri, perampok, pembunuh, tukang palak, sanjipak(penipu) dsb. sampe aku malas menyebutnya karena tiap hari aku bergelut di suasana dan kondisi seperti itu. Akupun mulai terbiasa dgn hal seperti itu, mulanya aku mencoba minum anggur merah lama-lama teman-temanku mengajakku berjudi, merampok, dll.alasan mereka mengajakku karena ada nilai seni tersendiri ketika aku di sisi mereka,,tiap hari 1 pres marlboro datang entah dari siapa, yang pasti rokok itu tidak pernah habis walau teman-temanku banyak.
Suatu saat aku teringat kepada mendiang ayahkuyang notabene adalah seorang guru SD yang penyabar, kasih sayang, penuh perhatian pada muridnya, sopan, pandai dsb. Itu cerita dari mantan murid2nya. Sampailah aku di pusara ayahku, aku panjatkan do’a apa adanya sekali-kali air mata ini jatuh tanpa aku sadari karena aku sendiri tak tahu bagaiman wajah sebenarnya ayahku, karena ayahku meninggal waktu itu aku masih berumur 3 tahun..dalam do’aku “aku ingin mengakhiri semua ini, aku ingin hidup normal seperti aku masih kecil dulu…?” rupanya Allah Swt mengabulkan doaku.
Beberapa minggu lagi aku akan meminang seorang perempuan pondokan, dia adalah pacarku yang tak pernah aku hiraukan. akhirnya akupun duduk di pelaminan dengan pesta pernikahan yang lumayan meriah.
Ttiga bulan aku dibiarkan oleh teman2ku tak ada kabar dari mereka, aku asyik hidup dengan istriku dan 1 bulan kandungan anakku. hal pertama yang aku lakukan adalah mencoba membuka usaha dirumah sendiri dan dari teman2 tersebar bahwa aku membuka percetakan, mereka datang dengan berbagai keinginan dan pesanan yang menurut aku adalah hikmahnya suatu keluarga kecil.akupun bahagia dengan keluarga kecilku..
Tak terasa umur kandungan istriku 9 bulan dan anak yang pertama lahir denagn nama Muhammad Waisul Aziz, dia begitu lucu, tampan, hidung mancung, kulit kuning langsat, bobotnya membuat keluarga dan tetangga tercengang 3.8 Kg padahal keluargaku dan istriku tidak ada yang sedemikian besar.. aku bahagia,,
Akan tetapi wais (panggilan anakku) seakan-akan menahan sesuatu ketika dia bernapas, akhirnya dia rumah sakitlah yang tahu keadaanya, dia mengidap penyakit kronis dalam pernafasan, tuksk lambung, dan komlikasi lain yang aku tidak mau mendengarnya karena aku merasa iba melihat anakku yang masih kecil sudah menanggung hisup yang berat. Wais pun tak dapat menahan itu akhirnya dia meninggal dunia di hari selasa genap 23 hari hidupnya..aku menjadi sering marah, lupa ingatan, sering pergi tak tahu keman tujuan sampai suatu saat seorang guruku memberi nasihat “kamu mau punya anak durhaka??” satu kalimat saja dari guruku itu langsung menghilangkan semua onak dan duri dalam hatiku sekaligus aku mendengar jeritan setan dan iblis dalam diriku berbondong-bondong pergi (itu ujian awal bagiku).
Aku menata kembali kehidupanku yang kacau..satu,sua,tiga,empat orang mencariku untuk acara hajatan dan acara keluarga mereka semua tak tanggung-tanggung tanpa adanya penawaran langsung cash membayar lunas,,begitulah tiap hari dan bulan yang aku lalaui dengan keluarga. aku lupa dengan teman2ku yang bejat2 itu..
Aku kembali mempunyai anak kali ini lahirlah Fi’isy Rodhiyah seorang anak perempuan yang cantik lincah disukai banyak orang
Dalam perjalanan usahaku aku tertarik pada sebuah peminjaman modal di bank swasta, mereka dengan mulut yang berbisa datang kerumahku menawarkan berbagai macam cara agar aku mau meminjam uang ke bank mereka,,jadilah aku pinjam uang 260juta rupiah, uang sebanyak itu aku gunakan untuk usaha, segala sesuatunya harus kredible dan termanage dengan baik, tapi dasar memang bank swasta segalanya harus tepat waktu, melesetr sedikit denda denda dan denda.
Bulan pertama sampe bulan ke sembilan aku lancar, ketika memasuki bulan ke 12 aku keteteran membayar bank, mereka pun datang bertubi-tubi kerumahku, siang,malam,subuh, bahkan ketika aku bepergian mereka meneleponku,,aku tak sabar dengan semua itu. tunggaanku makinmenumpuk tiap bulan denda berjalan membuatku terombang ambing kesana kemari, gali lobang tutup lobang, kadang uang dari customer aku pake untuk membayar sedikit hutang, tapi kembali lagi pada awal mula bahwa bank swasta adalah rampok yang sesungguhnya.mereka tidak tahu menahu apa aku punya uang ato tidak yang penting setoran lancar.
Perlu diketahui aku meminjam uang dengan menjaminkan rumahku yang di huni oleh keluargaku, bertambahlah penderitaanku ketika mereka mengirimkan surat peringatan pertama untuk membayar kalo tidak mereka akan menyegel rumahku,,aku bingung setengah mati, tiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak pagi hari mereka datang menagih dengan dep colector yang beringas, mereka membabi buta menagihku dengan ancaman yang serius,tetanggaku datang membantu aku mengusir dep colector itu tapi esoknya mereka datang lagi..
Akhirnya aku tak kuat dengan tagihan dep colector itu, akupun menghubungi temanku di dunia hitam, aku katakan maksudku dan dia menjawab “tunggu kabarnya paling lambat besok sore?” lalu aku tanya “kau mau apa dariku??”, dia menjawab “persahabatan tak pernah mati”?, itu jawabnya.dan aku merasa bersalah setelah sekian tahun aku tak pernah mendatanginya.
Kabar itupun datang dari seorang teman di sidoarjo bahwa saudaranya terbunuh di desa yang agak dekat dengan rumahku,akupun mencoba cari tahu sipa orang itu..? dan ternyata ???dua orang itu adalah dep colector yang tiap hari menagih ke rumahku..?
Aku jadi takut, aku tak kerasan dirumah, aku kalap,,sipembunuh itupun menelponku,”tolong aku dibelikan 1 pres marlboro dan 1 botol anggur merah bawa ke rumah ya ..? kutunggu malam ini” katanya, aku belingsatan bingung tak karuan, alasan apa yang kira-kira ampuh untuk tidak datang kerumahnya,tapi aku tak ada alasan..? karena dia bilang “persahabatan tak pernah mati”
Aku langsung membawa 1 botol anggur merah dan 1 press marlboro ke dia, dan ketawa itu tak dapat di bendung lagi oleh dia, kenapa??kenapa??? kamu kok murung seperti itu??? aku jadi salah nih..?yang aku pikirkan adalah temanku yang di Sidoarjo bahwa yang terbunuh itu adalh kakak kandungnya. aku mulai tertawa hambar seali-kali aku hisap dalam-dalam marlboro di tanganku yang sebelumnya kau sudah berhenti merokok dan minum, aku berpamitan dengan dalih anakku sakit. temanku itu mengerti sehingga dia memperbolehkan aku pergi..
hah..huh..lega rasanya keluar dari pintu neraka itu…,
Aku masih berfikir bagaimana untuk mengangsur sisa hutang yang masih rp.143.665.000 itu?? pertanyaan itu terus menghantui aku tiap malam..sampai ketika ada teman yang membawa setumpuk berkas untuk diserahkan pada dinas perindustrian dan perdagangan, akupun tak segan-segan ikut karena kau memang diajak, disitu aku melihat adanya jutaan bahkan ratusan juta pihak-pihak yang “menyogok” bagian ini itu untuk memperlancar usahanya.
aku punya pikiran lain bagaimana seandainya uang haram itu aku rampok sehingga hasil rampokan aku gunakan untuk mebayar bank,,? tibalah suatu ketika aku menghubugi tmanku yang sering merampok bank dan rumah orang kaya, merekapun mengiyakan niat busukku itu dengan syarat aku yang memeberi kode atau gambar (istilah dalam perampokan), hari yang ditentukan telah tiba, seperti biasa kacamata hitam fido didoku tak pernah lepas dari kepalaku sekaligus hp yang selalu on dengan nomor lain dari biasanya, merekapun memudar seakan sibuk dengan gaya mereka sendiri, ada yang baca koran,ada yang mangkal di depan warung, ada yang jadi pemulung dsb.walhasil mereka mendapatkan uang hasil rampokan itu senilai rp.1.8milyar,,,,,,jumlah yang fantastis
Kami berenam merayakan keberhasilan itu mengajak semua keluarga liburan ke pulau Bali, disana uangitu di bagi dan bagianku lanmgsung aku transfer ke rekening istriku sisanya aku transfer ke bank swasta itu untuk melunasi hutang…sku sudah tak punya hutang di bank,,aku jadi dermawan dadakan.. banyaknya pengemis dan pengamen dari Banyuwangi sampe probolinggoaku bri uang 20 ribuan, bahkan ada seorang nenek2 aku kasi uang 1 juta dan ada seorang yang aku wawancarai apa kira2 keinginannya ?? di menjawab “saya pingin punya rumah pak?? tanpa pikir panjang aku langsung survey kelokasi rumahnya di Probolinggo, aku miris melihatnya rumahnya miring ke kiri tanpa ada penyangga, hanya ada lampu templok yang menyala kala malam saja,,”sudahlah pak?? ni ada uang sdikit untuk mrmbuat rumah,,maka aku keluarkan uang rp.20 juta untuk membangun rumah orang itu.
Sekarang tinggal apa???rumah sudah selesai , agak mewah lah dari tetangga sebelah, mereka yang dulunya melihat sebelah mata kini hormat padaku, dan akupun berusaha baik pada semua orang..mobil aku punya Honda CRV keluaran tahun 2010, Hp. aku tidak butuh yang mewah-mewah hanya aku masih memakai hp butut. sedang aku memiliki alat musik dirumah yang tidak aku sewakan, hanya untuk iseng saja bersama bandku..
Cukup sekian kisahku yang sudah tidak karuan, sampai cerita ini aku tulis aku bingung apakah dosa-dosaku terampuni, aku akan berusaha untuk menjadi ahli sholat, puasa, baik pada semua orang, tidak sombong, sering mebantu kekurangan orang lain (mskipun mereka kadang ada yang tidak membayar huatang), aku berdo’a tiap malam agar dosa-dosaku hanya aku yang menanggungnya, jangan pada istriku, anak-anakku atau keluargaku..hanya aku Allah…Hukum aku ..jangan mereka..mereka tidak tahu apa-apa..itulah do’aku..
To sahabat Pribumi
Semoga masa lalu menjadi pencambuk untuk berusaha keras dalam menaburkan kebaikan. Selama ada niat sungguh-sunguh, ampunan itu akan ada.
Mayat bukan siapa siapa saja yg ada di kubur,
Tapi siapa-siapa saja yang hidup dengan semangat dan jiwa terkubur. ( Indrawan yepe)
Seringkali dalam kehidupan kita disinggahi hal-hal yang meruntuhkan semangat dan jiwa kita agar selalu lemah setelah bersemangat.
Tapi siapa-siapa saja yang hidup dengan semangat dan jiwa terkubur. ( Indrawan yepe)
Seringkali dalam kehidupan kita disinggahi hal-hal yang meruntuhkan semangat dan jiwa kita agar selalu lemah setelah bersemangat.
Ada sebuah kisah yang saya alami ketika saya diundang mengisi training untuk motivasi dan intropeksi kurang lebih sebulan sebelum gempa Yogya –Jateng tahun 2006 dengan lokasi tepat di pantai parang kusumo yogyakarta yang pesertanya siswa SMU dan Mahasiswa, dalam sela-sela kesempatan waktu ada seseorang yang asyik ngobrol dengan saya berdua sambil mengeluarkan segala keluh kesahnya, yg paling menarik buat saya adalah cerita dimana sehari sebelum pertemuan dengan saya dia berusaha meregang nyawa dengan cara yang bathil alias mencoba mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Melihat dari fisiknya ia seorang lelaki yang gagah ganteng dan secara fisik sempurna tetapi ia hampir saja menjadi mayat yang sesungguhnya dan dikubur dg sia-sia, lumayan masih tertunda kurang dari 24 jam semenjak belum ketemu dengan saya.dari pertemuan ini diri saya harus bisa masuk menyelaminya dg tanpa menggurui dan yang pasti saya lakukan saat itu saya harus menjadi pihaknya dan memberikan nasib yang sama sebelum meneruskan pembicaraan yang merupakan bagian tantangan konseling.
Masalah yang utama adalah keluarga; diawali pertemuan yang tak sengaja melalui jaringan internet dg wanita yg ayah dan ibunya menjadi orang penting di provinsi Irian barat, keluarga pejabat birokrasi pemerintaan yg masing-masing adalah kepala meski beda departemen, dg kekayaan yang melimpah. Cukup minder dengan masalah keuangan dan juga mendengar kabar kemunkinan yang tidak disetujui, maka kawan bicaraku tadi mencari cara untuk berbohong dan juga melewati jalan yang buruk yaitu hubungan seks sebelum pernikahan dan akhirnya wanita cantik yang akan dinikahinya hamil lebih dahulu dan orang tuanya terpaksa meminta tanggung jawab.dan kawan ini masih saja berbohong tentang pekerjaan dan harta,karena dimaksudkan mengimbangi.karena kebohongan itu seperti bangkai busuk yang meski semakin ditutup-tutupi tetap akan tercium juga baunya dan bau itu semakin lama semakin busuk. Inilah yang membuat kekacauan kehidupanya, kedua orang tua wanita tersebut merasakan bau itu dan ditumpahkan sekuat mungkin baunya.meski demikian tetap juga ada kesalahan besar kenapa kawan ini berusaha berbohong, tentu juga karena tuntutan orang tua wanita tersebut,”saya tak menyalahkan kau kawan” kataku padanya dan teruskan ceritanya.
Keluhan demi keluhan disampaikan dan aku menikmati setiap kata sehingga aku juga mengalir disela sela suara ombak parangkusumo.
Kemudian usai acara berkisar jam 11 malam kami lanjutkan berada di pinggiran api ungun yang dinyalakan peserta traning, bergabung dengan kami berdua seorang ustadz yang memimpin dan yang mengasuh para peserta training di sebuah pesantren yg beliau pimpin.
Semakin asyik obrolan yang semula berdua menjadi bertiga,masalah demi masalah,keluhan demi keluhan saya dengarkan dengan ustadz tadi yang mana saya dan ustadz berusaha memberikan solusi dan tanggapan.
Keajaiban terjadi ketika kami memberikan tanggapan ternyata seide dan sepaham sehingga solusi semakin dekat ditemukan kawan yang punya semangat dan jiwa tekubur menjadi lebur bersama gerimis yang membasahi pakaian dan tubuh kami yg tidak beranjak dari tempat kami duduk, karena ada rasa syukur yang menstimulus kami untuk menikmati gerimis yang disusul hujan.
Disela-sela bibir kawan yang basah bergetar yang air matanya lebur dengan tetesan hujan ia mengatakan kejujuran batinnya “selama ini saya disalahkan dan disalahkan,disudutkan hingga dada terasa terhimpit tembok yang sangat tebal, bapak, ibuku menyalahkan, kakakku, keluargaku, semua orang-orang dekatku menyalahkan terlebih mertuaku yang gila harta, semua menghimpit sampai sesak dada ini tak basa bernafas hingga ubun ubun merasa ada batu sebesar kepalan yg selalu menghantam dan otakku dipenuhi dg paku tumpul.hanya, cuma Mas dan Bapak yang tidak menyalahkanku, aku bersyukur ketemu Mas dan Bapak, mungkin kalau tidak, besok saya melanjutkan proses kematianku yang hina”.
Saya dan ustadz tadi benar benar bersyukur Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam.Ustadz tadi memberikan kata-kata terakhir, ”mulai besok tinggalah di tempat kami di pesantren kecil,tak perlu membayar sewa tinggal dan makan gratis,dg catatan kamu punya ilmu tentang computer dan teknologi yang harus kau terapkan pada adik-adikmu yg tinggal bersamamu, dan kamu menjadi orang yang berarti juga untuk kami”.
Dan saya juga katakan “meski terpisah sementara dari istrimu, ternyata kamu sangat mencintai dan dia mencintamu, juga anakmu yang membutuhkan sosok ayah, ambilah keputusan yang terbaik untuk keluargamu sendiri jangan hiraukan orang lain, citakan sebuah kebahagian untuk dirimu,istrimu dan anakmu kebahagiaan dunia dan akhirat, kamu bisa dan pasti mampu asal tak pernah kau kubur kembali jiwa dan semangatmu. Dan kematian bukanlah keputusanmu & Rizki bukanlah pemberianmu”.
Seringkali hanya dengan menyalahkan seseorang, tidaklah dapat merubah seseorang yang benar-benar bersalah.
Kegagalan seharusnya adalah guru kita, bukanya pengurus pemakaman kita.Kegagalan adalah penundaan bukanya kekalahan.Kegagalan adalah perubahan rute sementara,bukanya jalan buntu. (John Maxwell)
Tiap tiap yang berjiwa pasti akan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah di sempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari api neraka dan di masukkan kedalam surga, maka ia telah beruntung. kehidupan didunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS.Ali Imron:185)
kisah nyata dari penulis:Indrawan Yepe (Seorang motivator,designer artist,arangger.trainer,hamba yang lemah disisi-NYA)
Sumber : http://www.resensi.net/mayat-bukan-hanya-yang-dikubur/2008/08/
Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa. Saat itu , General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut. Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan. Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan, menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudah penuh dengan barang yang tidak terjual.
Saat itu , Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo. Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang dimasa kanak-kanak , ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari , 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.
Dengan punggung bersandar ke tembok rumah , Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya datang menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya?
"Kurangi produksi separonya, tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari. Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."
Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri.Koq bisa terjadi, yah? Dalam situasi begitu, sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya, akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.
Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis, 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri. Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang, menangkapi semua pengusaha Jepang untuk diadili karena keterlibatan mereka selama perang. Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan peralatan militer lainnya.
Maka Matsushita pun ikut ditangkap. Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita. Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnya membebaskan Matsushita. Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.
Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun. Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu, George Bush (Senior), pun turut berduka. Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan.
Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.
Yang dikenang dari kita nanti *bukan* kehebatan, kesuksesan, kekayaan, dan kemakmuran kita. Yang dikenang adalah kebaikan, keramahan, dan kemurah-hatian kita...
Source :http://katamutiara.info/tulisan.php?id=3101
Tahun 1976, bersama rekannya Steve Wozniak, Jobs yang baru berusia 21 tahun mulai mendirikan Apple Computer.Co di garasi milik keluarganya. Dengan susah payah mengumpulkan modal yang diperoleh dengan menjual barang" mereka yang paling berharga, usaha itu pun dimulai.
Komputer pertama mereka, Apple 1 berhasil mereka jual sebanyak 50 unit kepada sebuah toko lokal. Dalam beberapa tahun, usaha mereka cukup berkembang pesat sehingga tahun 1983, Jobs menggaet John Sculley dari Pepsi Cola untuk memimpin perusahaan itu. Sampai sejauh itu, Apple Computer menuai kesuksesan dan makin menancapkan pengaruhnya dalam industri komputer terlebih dengan diluncurkannya Macintosh. Namun, pada tahun 1985, setelah konflik dengan Sculley, perusahaan memutuskan memberhentikan pendiri mereka, yaitu Steve Jobs sendiri.
Setelah menjual sahamnya, Jobs yang mengalami kesedihan luar biasa banyak menghabiskan waktu dengan bersepeda dan berpergian ke Eropa. Namun, tak lama setelah itu, pemecatan tersebut rupanya justru membawa semangat baru bagi dirinya. Ia pun memulai usaha baru yaitu perusahaan komputer NeXT dan perusahaan animasi Pixar. NeXT yang sebenarnya sangat maju dalam hal teknologinya ternyata tidak membawa hasil yang baik secara komersil. Akan tetapi, Pixar adalah sebuah kisah sukses lain berkat tangan dinginnya. Melalui Pixar, Jobs membawa trend baru dalam dunia film animasi seiring dengan diluncurkannya film produksinya Toy Story dan selanjutnya Finding Nemo dan The Incredibles.
Sepeninggal Jobs dan semakin kuatnya dominasi IBM dan microsoft membuat Apple kalah bersaing dan nyaris terpuruk. Maka, tahun 1997, Jobs dipanggil kembali untuk mengisi posisi pimpinan sementara. Dengan mengaplikasi teknoligi yang dirancang di NeXT, kali ini Apple kembali bangkit dengan berbagai produk berteknologi maju macam MacOS X, IMac dan salah satu yang fenomenal yaitu iPod.
Kisah sukses Steve Jobs mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada kesuksesan yang instan. Penolakan dan kegagalan seringkali mewarnai perjalanan hidup kita, tapi jangan biarkan semua itu membuat kita berhenti.
Source :http://katamutiara.info/tulisan.php?id=4551
Inilah kisah yang membuat saya merinding & meneteskan air mata,kisah ini saya persembahkan untuk Ibu yang menjadi Kepala Keluarga di luar sana.Tidak muda bagi seorang ibu,menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah sehari-hari untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya.Banyak dari kisah mereka,yang membuat saya kagum sekali akan perjuangan mereka yang gigih dalam mencari nafkah sehari-hari.
Mereka adalah potret,gigih & tangguh seorang ibu yang rela mengorbankan & tenaga demi melihat anaknya mampu meraih cita-citanya kelak di masa depan.Mereka sebagai tulang punggung keluarga sehari-hari,tidak pernah mengeluh sama sekali akan kondisi tersebut.Karena mereka yakin perjuangan mereka tidak seberapa di banding melihat anak tersenyum dalam menjalani kehidupan ini.
Tidak semua orang,bisa melakukan semua itu dengan mudah & tanpa mengeluh dengan keadaan tersebut.Say salut sekali kepada mereka,karena walaupun dengan keadaan itu mereka selalu bersyukur kepada Tuhan setiap kali mendapatkan rezeki.Sedangkan saya,hanya bisa menghamburkan rezeki tersebut yang susah payah mereka cari.
Mereka bagaikan mentari dikala pagi menjelang & bagaikan cahaya di kala kegelapan datang,mereka adalah wanita tangguh yang selalu tersenyum dalam berjuang hidup menafkahi keluarganya,walau dengan semua keterbatasan.
Ini adalah sebuah potret dari perjuangan untuk bertahan hidup secara ekstrem,mengapa ekstrem ? karena resiko & kekuatan fisik yang dipertaruhkan untuk mendapatkan rupiah demi rupiah setiap harinya.Mereka seolah-olah menantang kerasnya Alam Dunia,karena penambangan belerang Kawah Ijen ini sangat beresiko kehilangan nyawa.
Mereka sebenarnya tidak mau,mencari duit dengan cara menambang belerang di Kawah Ijen.Tapi Ini adalah,suatu tuntutan faKtor ekonomi yang mengharuskan mereka melakukan kegiatan penambangan.Karena jelas sekali,penambangan membahayakan sekali bagi kesehatan tubuh mereka.
Banyak dari para penambang belerang di Kawah Ijen,yang hingga sekarang memiliki bekas di bagian lengan bahu yang menjadi berbentuk melengkung kedalam secara permanen.Bukan itu saja,beban yang mereka pikul setiap harinya dalam mengakut belerang adalah sekitar 70kg ke atas.Sungguh luar biasa perjuangan mereka tersebut dan patut di sebut Pahlawan Keluarga.
Itu belum seberapa,karena ukuran paru-paru mereka lebih besar disbanding ukuran paru-paru manusia pada umumnya.Hal tersebut,disebabkan oleh proses dari ketahan fisik karena terlalu sering menghirup udara dari bau belerang yang pekat di pusat penambangan belerang di Kawah Ijen.Mereka adalah manusia tangguh yang berjuang hidup untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing
Dan ini bukan pilihan mereka,melainkan ini kondisi yang mewajibkan mereka melakukan hal tesebut.Ini juga sebagai contoh teladan orang tua yang bertanggung jawab atas penghidupan keluarga.
Di jaman modern seperti saat ini,kita sebagai manusia di tuntut menjadi manusia yang pintar & creative guna dapat mengikuti arus globalisasi.Hal tersebut memang benar sekali,karena agar kita mampi berkompetesi dalam berkehidupan social di masyarakat.Tapi banyak yang kita lupakan,diantara konotasi makna pintar & creative karena pada saat ini kita dengan sangat mudah menemukan hal tersebut dalam berbagai kesempatan yang ada.
Tapi anda semua,tidak akan sering menemukan orang jujur di antara orang pintar & creative tersebut.Di karenakan manusia pada era sekarang,saat miskin moral & nilai kejujuran dalam berkehidupan sosial di masyarakat.Banyak orang pintar & creative,tidak memiliki sikap kejujuran ketika mereka berhadapan degan harta & uang yang sering mereka jumpai.
Karena banyak orang sukses di luar sana,yang hanya kaya secara harta tapi tidak kaya secara lahir & batin yang sudah di tetapkan dalam setiap ajaran agama mana pun.Terkadang mereka terjerumus,pada harta dunia yang mampu menutup & menghilangkan sikap jujur mereka terhadap sesame manusia.Karena mereka sesungguhnya belum paham tentang arti makna & tujuan utama mereka hidup di dunia selama ini.
Kejujuran akan membawa kita pada suatu titik kebahagian dunia & akhirat yang secara tidak langsung kita terima dari Tuhan.Karena harta dunia tidak akan bisa membeli kebahagian yang tercipta dari dasar hati manusia.
Ini sebuah cerita,yang sering kita abaikan jika melihat suatu profesi sebagai Pemulung disekitar lingkungan kita.Karena menurut kita,pemulung adalah pekerjaan yang di anggap hina hanya karena sering bergaul dengan sampah rumah tangga yang kita buang setiap harinya.Tapi sesunguhnya,mereka adalah pahlawan lingkungan untuk mengurangi dampak dari penumpukan sampah yang tidak lagi terkontrol dengan system yang baik.
Tapi bagi mereka,profesi sebagai pemulung sampah merupakan pekerjaan yang mampu menghidupi keluarga mereka setiap harinya.Itu merupakan sebokah berlian yang mereka cari,karena menurut mereka sampah bagaikan teman sejati yang menemani mereka di kala lapar & haus mendera.Karena tidak ada satu orang pun yang peduli dengan perut & keluarga mereka,kecuali sampah yang peduli dengan kelangsungan hidup keluarga mereka.
Walaupun begitu,mereka bangga menjadi pemulung karena dengan sampah itu mereka bisa menyekolahkan anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi di banding pendidikan orang tuanya dahulu.Dan bukan itu saja,pekerjaan mereka halal di mata Tuhan karena tidak merugikan terhadap sesame manusia.
Tidak ada pekerjaan yang hina di dunia ini sesungguhnya,kecuali kita sendiri yang membuat pekerjaan itu menjadi hina.
Berikut merupakan,sebuah kisah nyata yang ada di salah satu sudut negera Indonesi yang sering diabaikan.Inilah kisah memilukan dari seorang pedagang kendi yang membuat saya menangis melihat kondisi dan perjuangan pedagang kendi tersebut yang begitu panjang & melelahkan demi sesuap nasi untuk makan bersama keluarga.
Bagaimana tidak,seorang nenek tua renta yang umur sudah hampir satu abad dengan penuh semangat masih terus bekerja.Untuk mencari nafkah keluarga dan cucunya,sungguh begitu berat karena cara menjualnya dengan penuh perjuangan.Mengarungi kota satu dengan kota yang lain,dengan berjalan kaki di tengah teriknya sinar matahari & dinginya angin malam.
Nenek ini,tidak akan pulang kalau belum dagangan habis terjual semuanya walaupun hingga berbulan-bulan berjalan & tidur di pinggir jalan tanpa selimut & bantal yang menemani.Ini perjuangan yang tidak terbayangkan,oleh kita yang selalu mengeluh dengan alas an yang sepele karena pada dasar kita tidak pernah bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.
Semua perjuangan nenek itu,agar keluarga bisa makan setiap harinya walaupun hanya makan dengan nasi & sambal saja karena tanpa bekerja hari ini maka nenek & keluarga tidak bisa makan.
Dia tidak meminta bayaran, namun menciptakan banyak.
Dia memperkaya meraka yang menerimanya, tanpa membuat melarat mereka yang memberinya.
Dia terjadi hanya sekejap namun kenangan tentangnya kadang-kadang bertahan selamanya.
Tak seorangpun yang meskipun kaya mampu bertahan tanpa dia, dan tak seorangpun yang begitu miskin tetap menjadi lebih kaya daripada manfaatnya.
Dia menciptakan kebahagian di rumah, mendukung niat baik dalam bisnis dan merupakan tanda balasan dari kawan-kawan.
Dia memberi istirahat untuk rasa lelah, sinar terang untuk rasa putus asa, sinar mentari bagi kesedihan dan penangkal alam bagi kesulitan.
Namun dia tidak bisa di beli, dimohon dipinjam atau dicuri karena dia adalah sesuatu yang tidak berguna sebelum di berikan pada orang lain.
Dan apabila pada menit terakhir kesibukan ... di mana sebagian pelayan penjual kami menjadi terlalu lelah untuk memberi Anda senyuman, bolehkah kami meminta Anda meninggalkan seulas senyuman Anda?
Karena tak seorangpun yang begitu yang lebih membutuhkan senyuman daripada mereka yang tidak punya lagi yang tersisa untuk diberikan!
Hidup berawal dari kelahiran dan berakhir dengan kematian.
Diantara kelahiran dan kematian itu berbagai episode kehidupan akan kita lewati, mulai dari masa kanak-kanak, dewasa, tua hingga akhirnya ditutup dengan kematian.
Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini, selalu dan hampir pasti akan kita terima dalam setiap perjalanan hidup yang kita alami:
Untuk Usia 1-5 Tahun:
Nama ayahnya siapa ?
Nama ibunya siapa ?
Ini bacanya apa ?
Kalau udah besar mau jadi apa ?
Untuk Usia 6-12 Tahun:
Sudah kelas berapa sekarang?
Sekolahnya dimana?
Hasil ujiannya dapat nilai berapa ?
Diajar apa saja sama bapak dan ibu guru?
Untuk Usia 12-17 Tahun:
Bagaimana pelajaran sekolahnya?
Nilai rapornya bagus atau tidak ?
Bagaimana hasil UAN-nya?
Selesai SMA mau lanjut sekolah kemana ?
Untuk Usia 17-23 Tahun:
Kuliah dimana sekarang ?
Udah semester berapa?
Berapa IPK-nya?
Siapa pacarnya ?
Skripsinya udah selesai atau belum?
Untuk Usia 23-30 Tahun:
Kerja dimana sekarang?
Kapan rencana nikahnya?
Untuk Usia 30-50 Tahun:
Tinggal dimana sekarang?
Sudah berapa anaknya?
Uuntuk Usia 30-50 Tahun:
Bagaimana dengan karirnya saat ini?
Untuk Usia 50-60 Tahun:
Kuliah dimana anak-anaknya sekarang?
Sudah berapa menantunya?
Sudah berapa cucunya?
Untuk Usia 60-70 Tahun:
Bagaimana kesehatannya sekarang?
Hingga berakhir pada kematian, kita akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan Sang Malaikat Alam Kubur:
Siapakah Tuhanmu?
Apa agamamu?
Siapa orang yang diutus kepadamu?
Apa pengetahuanmu?
Semoga bermanfaat ...
Hujan merupakan suatu bentuk presipitasi yang berwujud cairan yang berasal dari penguapan baik dari air laut maupun dari tumbuhan yang berkumpul membentuk awan yang kemudian awan itu bergerak dengan bantuan angin baik secara vertikal maupun horizontal yang kemudian bergumpal dan bergerak vertikal dimana pada titik ini air dan es mulai terbentuk.
Hal tersebut lah yang di sebut hujan.
Saat hujan turun memang selalu mempunyai 2 buah sisi seperti hal-hal lain yang ada di dunia ini.
Di 1 sisi hujan ini membawa berkah bagi para petani dan pada penduduk yang mengalami kekeringan sementara di sisi lain sebagian orang menjadi tidak bisa melakukan rutinitas sehari-hari mereka.
Saat hujan turun pun gue menjadi teringat lembaran lama kehidupan gue yang saat itu bisa di bilang anak nakal dan gue pun mengingat dimana saat gue masih bisa tertawa ria dan bercanda tawa dengan mereka yang gue sebut teman.
Hujan yang saat itu turun begitu deras dan membuat udara menjadi dingin sepertinya bukan hal yang aneh di mata mereka dan mereka seakan menghindari peristiwa ini.
Sebuah pinta pun terucap pelan dari bibir ini berbisik pada langit tetapi langit seakan menghiraukannya ...
Gue yang terkadang menatap ke luar, melihat deras hujan yang membasahi bumi ini.
Sebuah memori dari lembaran lama pun kembali terlihat dengan jelas di ingatan gue dan gati gue pun kembali menjadi tenang seiring dengan lantunan detik hujan jatuh ke bumi.
17 tahun gue telah menjalani kehidupan gue ini dengan penuh canda tawa, suka-duka, tangis haru dan kekecewaan yang pernah gue rasa.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku menuju sebuah cita-cita yang selalu menunggu untuk di temukan itu akhirnya mulai terlihat di saat gue sedang terpuruk dalam kehidupan gue ...
Jalan menuju sukses memang sulit apalagi jika kita yang terkadang selalu memaksakan semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Sifat rajin, tekun, ulet dan rasa ingin tau yang begitu besar merupakan salah satu faktor yang penting yang perlu di tanamkan pada diri kita masing- masing untuk menghadapi kerasnya persaingan saat ini.
Hujan yang begitu deras pun akhirnya berhenti dan muncullah sebuah pelangi yang indah menghiasi langit dan sebuah kata terucap dengan sebuah senyum " Selamat Tinggal Gerimis. "
Hikmah :
Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita memang selalu memiliki sisi 2 sisi.
Di balik sebuah kesulitan maka kita akan menemukan sebuah pelajaran penting bagi diri kita dan di saat kesulitan itu berakhir maka kita akan melihat hasil dari jerih payah yang telah kita lalukan.
Hal tersebut lah yang di sebut hujan.
Saat hujan turun memang selalu mempunyai 2 buah sisi seperti hal-hal lain yang ada di dunia ini.
Di 1 sisi hujan ini membawa berkah bagi para petani dan pada penduduk yang mengalami kekeringan sementara di sisi lain sebagian orang menjadi tidak bisa melakukan rutinitas sehari-hari mereka.
Saat hujan turun pun gue menjadi teringat lembaran lama kehidupan gue yang saat itu bisa di bilang anak nakal dan gue pun mengingat dimana saat gue masih bisa tertawa ria dan bercanda tawa dengan mereka yang gue sebut teman.
Hujan yang saat itu turun begitu deras dan membuat udara menjadi dingin sepertinya bukan hal yang aneh di mata mereka dan mereka seakan menghindari peristiwa ini.
Sebuah pinta pun terucap pelan dari bibir ini berbisik pada langit tetapi langit seakan menghiraukannya ...
Gue yang terkadang menatap ke luar, melihat deras hujan yang membasahi bumi ini.
Sebuah memori dari lembaran lama pun kembali terlihat dengan jelas di ingatan gue dan gati gue pun kembali menjadi tenang seiring dengan lantunan detik hujan jatuh ke bumi.
17 tahun gue telah menjalani kehidupan gue ini dengan penuh canda tawa, suka-duka, tangis haru dan kekecewaan yang pernah gue rasa.
Kehidupan yang penuh dengan lika-liku menuju sebuah cita-cita yang selalu menunggu untuk di temukan itu akhirnya mulai terlihat di saat gue sedang terpuruk dalam kehidupan gue ...
Jalan menuju sukses memang sulit apalagi jika kita yang terkadang selalu memaksakan semua hal berjalan sesuai dengan keinginan kita. Sifat rajin, tekun, ulet dan rasa ingin tau yang begitu besar merupakan salah satu faktor yang penting yang perlu di tanamkan pada diri kita masing- masing untuk menghadapi kerasnya persaingan saat ini.
Hujan yang begitu deras pun akhirnya berhenti dan muncullah sebuah pelangi yang indah menghiasi langit dan sebuah kata terucap dengan sebuah senyum " Selamat Tinggal Gerimis. "
Hikmah :
Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita memang selalu memiliki sisi 2 sisi.
Di balik sebuah kesulitan maka kita akan menemukan sebuah pelajaran penting bagi diri kita dan di saat kesulitan itu berakhir maka kita akan melihat hasil dari jerih payah yang telah kita lalukan.
Kisah ini terjadi ± tahun 1995, sudah cukup lama memang, namun setiap ingin memasuki I’dul Adha saya selalu teringat dengan kejadian yang pernah saya alami ini, dan sampai saat ini saya tidak pernah melupakannya.
Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, Syukur saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ?
dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya
Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi ya bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh gak”. Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu
untuk berqurban”. Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah..... Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut. Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit. “Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. “Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
Semoga bermanfaat.
Awalnya saat saya sedang menjajakan dagangan bersama teman (kami berempat waktu itu), kami mengeluh karena sudah 3 hari kami berdagang baru 6 ekor yang terjual, tidak seperti tahun sebelumnya, biasanya sudah puluhan ekor laku terjual dan hari raya sudah didepan mata (tinggal 2 hari lagi). Kami cukup gelisah waktu itu. Ketika sedang berbincang salah seorang teman mengajak saya untuk sholat ashar dan saya pun bersama teman saya berangkat menuju masjid yang kebetulan dekat dengan tempat kami berjualan. Setelah selesai sholat, seperti biasa saya melakukan zikir dan doa. Untuk saat ini doa saya fokuskan untuk dagangan saya agar Allah memberikan kemudahan semoga kiranya dagangan saya laku/ habis terjual.
Setelah selesai saya dan teman kembali bergegas untuk kembali ke tempat kami jualan, dari kejauhan kami melihat ditempat kami berjualan banyak sekali orang disana dan terlihat teman kami yang berada disana kesibukan demi melayani calon pembeli. Akhirnya saya dan teman saya berlari untuk cepat membantu melayani teman kami. Alhamdulillah pada saat itu sudah ada yang membeli beberapa ekor kambing. “Terima kasih Ya Robb, Engkau telah mendengar dan menjawab doa kami”, Syukur saya dalam hati.
Namun setelah semuanya terlayani dan keadaan kembali normal, saya melihat seorang ibu-ibu sedang memperhatikan dagangan kami, seingat saya ibu ini sudah lama berada disitu, pada saat kami sedang sibuk ibu ini sudah ada namun hanya memperhatikan kami bertransaksi. Saya tegur teman saya “Ibu itu mau beli ya ?
dari tadi liatin dagangan terus, emang gak ditawarin ya ?, sepertinya dari tadi udah ada disitu. Kayaknya
Cuma liat-liat aja, mungkin lagi nunggu bus kali. Jawab teman singkat. Memang sih kalau dilihat dari pakaiannya sepertinya gak akan beli ( mohon maaf.. ibu itu berpakaian lusuh sambil menenteng payung lipat ditangan kanannya) kalau dilihat dari penampilannya tidak mungkin ibu itu ingin berqurban.
Namun saya coba hampiri ibu itu dan coba menawarkan. “Silahkan bu dipilih hewannya, ada niat untuk qurban ya bu ?. Tanpa menjawab pertanyaan saya, ibu itu langsung menunjuk, “Kalau yang itu berapa bang ?” Ibu itu menunjuk hewan yang paling murah dari hewan yang lainnya. Kalau yang itu harganya Rp. 600.000,- bu, jawab saya. Harga pasnya berapa bang ?, gak usah tawar lagi ya bu... Rp. 500.000 deh kalau ibu mau. Fikir saya memang dari harga segitu keuntungan saya kecil, tapi biarlah khusus untuk ibu ini. “Uang saya Cuma ada 450 ribu, boleh gak”. Waduh... saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug dengan teman yang lain. “Biarlah mungkin ini jalan pembuka untuk dagangan kita, lagi pula kalau dilihat dari penampilannya sepertinya bukan orang mampu, kasihan, hitung-hitung kita membantu niat ibu itu
untuk berqurban”. Sepakat kami berempat. “Tapi bawa sendiri ya.. ?” akhirnya si ibu tadi bersedia, tapi dia minta diantar oleh saya dan ongkos bajaj-nya dia yang bayar dirumah. Setelah saya dikasih alamat rumahnya si ibu itu langsung pulang dengan jalan kaki. Saya pun berangkat.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Subhanallaah..... Astaghfirullaah..... Alaahu Akbar, merinding saya, terasa mengigil seluruh badan saya demi melihat keadaan rumah ibu tersebut. Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya (ibunya) dan satu orang anaknya di rumah gubuk dengan berlantai tanah dan jendela dari kawat. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas dipan sedang tertidur seorang perempuan tua kurus yang sepertinya dalam kondisi sakit. “Mak ... bangun mak, nih liat Sumi bawa apa” (oh ternyata ibu ini namanya Sumi), perempuan tua itu terbangun dan berjalan keluar. “Ini ibu saya bang” ibu itu mengenalkan orang tuanya kepada saya. Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak. Orang tua itu kaget namun dari wajahnya terlihat senang dan bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap, Alaahu Akbar, Alhamdulillaah, akhirnya kesampaian juga emak qurban.
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya telalu murah, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya. Aduh GUSTI....... Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yang satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengan niat dari ibu ini. Rasanya saya sudah tidak sanggup lagi berlama-lama berada disitu. Saya langsung pamit meninggalkan kebahagiaan penuh keimanan mereka bertiga.
“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu cukup, biar ongkos bajaj saya yang bayar. Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah, karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan saya dengan hambaNYA yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.
Semoga bermanfaat.
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=128003
Sosok laki-laki itu berdiri gagah. Kulitnya hitam legam terbakar matahari. Bahu yang kekar dan otot-otot bisep yang menonjol di lengannya membentuk postur bagai patung dewa-dewa Yunani. Sorot matanya tajam, setajam elang di payungi sepasang alis hitam. Rambut lurus yang jatuh di keningnya, sesekali bergerak di tiup angin.
Dari perbukitan ia memandang hamparan tanaman cengkeh yang mulai berbunga. Di kelilingi pohon kelapa yang membentuk pagar, membuat kebun cengkeh nampak bagai sebuah mahakarya lukisan. Biru langit yang membingkai secara keseluruhan, membuat perpaduan biru putih dan hijau yang sangat indah. Jalan setapak nampak bagai tubuh ular yang meliuk-liuk.
Harumnya cengkeh tercium hingga jauh diujung jalan. Sesaat lagi masa panen akan tiba. Ada rasa bangga membuncah di dadanya. Sesekali laki-laki itu mengangkat tangan membalas sapaan sesama petani cengkeh. Kerja keras dan tetes keringatnya kini membuahkan hasil. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia. Orang tuanya benar, bila bukan dirinya yang memulai lalu siapa? Waktu sudah mengikis habis semua rasa egoisnya. Waktu pula yang menempanya menjadi sekeras baja. Setiap pohon cengkeh menjadi saksi bisu dari perjuangannya melawan diri sendiri.
Masih kuat dalam ingatannya, pertengkaran dengan sang ayah. Percakapan malam itu, yang membuatnya kini bisa menatap hamparan kebon cengkeh yang di garapnya. Penyesalan memang tiada guna, namun ia tak menyesali pilihannya. Ia sangat sadar setiap orang dalam kehidupan mempunyai kesempatan memilih. Dan ia sudah memilih, maka di sinilah ia berada.
Sesekali ia memutar kembali rekaman memori pertengkaran dengan ayahnya. Karena pertengkaran malam itulah yang menjadi titik awal kehidupannya yang sekarang.
“ Saya sudah bosan dengan semua ini” Ujarnya dengan helaan nafas berat
“ Teruslah bermulut besar, sudah pandai rupanya. Kamu tidak lihat, kamu punya mama berusaha tanam cengkeh , kumpul uang buat kamu punya sekolah. Ini kamu punya balasan? Tanya ayahnya
“Pa, mengertilah sedikit. Kalau saya tinggal terus di sini mau mencari kerja susah. Mau berharap apa?”
“ Kasihan sekali kamu. Sekolah tinggi tapi tetap bodoh. Menyesal sekali kita kasih sekolah sama kamu kalau kamu punya otak cuma sepotong!” Seru ayahnya dengan nada marah.
“Bukan begitu Pa, Justru karena kita sudah sekolah tinggi, kita mau cari kerja biar bisa bikin senang mama dengan papa” Balasku dengan sama emosinya.
“ Nyong (panggilan untuk anak laki-laki). Kamu harus tahu. Kalau kamu punya papa dengan mama kasih sekolah tinggi buka Cuma sekedar untuk kumpul uang. Kita orang mau kamu kasih hidup ini tanah. Tanah tempat kamu punya leluhur hidup dan bekerja. Tanah warisan yang harus kamu lestarikan. Karena ini tanah sudah banyak menghasilkan. Salah satunya kamu punya ijazah! Ujar ayahnya panjang lebar.
“Pa, kita mengerti. Tapi kondisi sudah maju begini, masa kita harus kerja di kebun!:” Protesku
“Kenapa? Kamu malu?”
“ Bukan malu tapi…
“Sudahlah! Eh nyong, dengar baik-baik. Kalau kamu pergi, jangan kamu berpikir kita orang berharap kamu punya uang. Kalau kamu pergi kamu sudah bawa jiwa kamu punya mama. Buat kamu punya mama, hidup sudah tidak ada guna kalau kamu pergi lagi. 5 tahun tidak sebentar untuk hibur kamu punya mama. Kita orang banting tulang menghibur diri berharap suatu hari nanti kamu pulang. Lihat sekarang, baru dua minggu kamu punya mama rasa senang karena kamu sudah kembali. Tapi sekarang kamu mau pergi lagi. Kenapa kamu tidak sekalian tikamlah kamu punya mama dengan bambu. Kasih mati saja. Biar selesai penderitaannya di dunia. Tuhan Allah Bapak Di Sorga, biar kasih ampun kita punya ucapan!”
Lamunannya terputus, ketika di rasakan tangan seseorang di lengannya. Tangan seorang remaja laki-laki.
“Papa ada melamun?” Tanya si bocah
“Tidak,. Papa ada lihat kita orang punya kebon!”
“Panen sudah mau tiba kan?
“Iya!”
“Jadi kita beli mobil?
“Kalau uangnya sudah terkumpul”
“Pasti terkumpul, kita orang punya cengkeh paling bagus kwalitasnya kan?
“Kamu sudah pandai rupanya?
“Om Arnold ada bilang, kalau ada mobil sendiri kita bisa bawa langsung ke pembel?
“Betul tapi kita harus bersatu dengan petani cengkeh yang lain supaya bisa jaga itu harga”
“Tapi kalau mereka orang tidak mau?”
“Kita harus kasih pengertian, keringat kita orang ada nilainya”
“Tapi pabrik rokok di Jawa punya kuasa kan!”
“Jangan lupa, kita orang yang punya cengkeh. Jadi kita orang yang akan mengatur!”
Saat mentari mulai turun, di ujung barat semburat kemerahan memperindah permandangan. Senja turun mengantar malam yang kan menjelang. Bulan bundar mulai mengintip separuh badan. Lama-kelamaan sosoknya yang putih pucat semakin nyata di antara pohon-pohon kelapa. Malam indah dengan taburan bintang, seakan turut menjaga bunga-bunga cengkeh.
Berabad-abad lampau, karena hasil tanah ini maka orang asing mau datang dan bertransaksi. Bahkan hingga Indonesia merdeka, Cengkeh tetap permata buat masyarakat Minahasa. Sayang kebodohan dan keserakahan telah merampas kesejahteraan hidup masyarakat Minahasa.
Di ruang tamu berukuran 3 x 5 meter, berisi seperangkat kursi dan satu meja kerja kecil di sudut ruang. Seperangkat peralatan komputer tertata apik di atasnya. Yah teknologi telah membantu meluruskan jalan perdagangan , memangkas habis semua bentuk percaloan. Laki-laki gagah itu, kerap menggunakan komputer usai berkebon. Dengan bantuan teknologi, kini ia tak lagi menatap miris, ijazah perguruan tinggi yang terbingkai rapi di dinding.
Ayahnya benar, ijazah itu hanya selembar kertas tak bermakna, usaha dan kerja kerasnya yang memberi makna pada
selembar ijazah. Namanya yang terukir indah di ijazah itu kini sebanding lurus dengan tetesan keringat yang membasahi kebon cengkehnya. Namanya akan berurat dan berakar bukan hanya di kebon cengkehnya. Tapi juga menjadi motivasi bagi pemuda-pemuda di kampungnya, untuk kembali menggarap tanah. Gelar-gelar sarjana kini menjadi sekedar gelar karena di tiap-tiap kebon yang di garap gelar sarjana tak ada arti, yang memberi arti adalah gerakan tangan saat membelai mesra batang cengkeh. Saat membabat habis semua benalu dan kebahagiaan bukanlah saat menerima gaji tapi kegembiraan menjadi nyata saat putik cengkeh berbunga. Memberi makna tak ada keringat yang sia-sia.
Janji leluhur sudah ditepati, tak ada tanah yang tak menghasilkan. Tinggal bagaimana kedua tangan dan kaki menari, diiringi musik alam, mencangkul dan memotong agar bisa membuat yang terbaik. Karena bumi selalu berterima kasih, sebanyak tangan dan kaki mengolah sebanyak itu pula kelak hasil yang akan di panen. (15 Juni 2007)
Sumber : http://www.sekolahkehidupan.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=725&Itemid=30
Dari perbukitan ia memandang hamparan tanaman cengkeh yang mulai berbunga. Di kelilingi pohon kelapa yang membentuk pagar, membuat kebun cengkeh nampak bagai sebuah mahakarya lukisan. Biru langit yang membingkai secara keseluruhan, membuat perpaduan biru putih dan hijau yang sangat indah. Jalan setapak nampak bagai tubuh ular yang meliuk-liuk.
Harumnya cengkeh tercium hingga jauh diujung jalan. Sesaat lagi masa panen akan tiba. Ada rasa bangga membuncah di dadanya. Sesekali laki-laki itu mengangkat tangan membalas sapaan sesama petani cengkeh. Kerja keras dan tetes keringatnya kini membuahkan hasil. Sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia. Orang tuanya benar, bila bukan dirinya yang memulai lalu siapa? Waktu sudah mengikis habis semua rasa egoisnya. Waktu pula yang menempanya menjadi sekeras baja. Setiap pohon cengkeh menjadi saksi bisu dari perjuangannya melawan diri sendiri.
Masih kuat dalam ingatannya, pertengkaran dengan sang ayah. Percakapan malam itu, yang membuatnya kini bisa menatap hamparan kebon cengkeh yang di garapnya. Penyesalan memang tiada guna, namun ia tak menyesali pilihannya. Ia sangat sadar setiap orang dalam kehidupan mempunyai kesempatan memilih. Dan ia sudah memilih, maka di sinilah ia berada.
Sesekali ia memutar kembali rekaman memori pertengkaran dengan ayahnya. Karena pertengkaran malam itulah yang menjadi titik awal kehidupannya yang sekarang.
“ Saya sudah bosan dengan semua ini” Ujarnya dengan helaan nafas berat
“ Teruslah bermulut besar, sudah pandai rupanya. Kamu tidak lihat, kamu punya mama berusaha tanam cengkeh , kumpul uang buat kamu punya sekolah. Ini kamu punya balasan? Tanya ayahnya
“Pa, mengertilah sedikit. Kalau saya tinggal terus di sini mau mencari kerja susah. Mau berharap apa?”
“ Kasihan sekali kamu. Sekolah tinggi tapi tetap bodoh. Menyesal sekali kita kasih sekolah sama kamu kalau kamu punya otak cuma sepotong!” Seru ayahnya dengan nada marah.
“Bukan begitu Pa, Justru karena kita sudah sekolah tinggi, kita mau cari kerja biar bisa bikin senang mama dengan papa” Balasku dengan sama emosinya.
“ Nyong (panggilan untuk anak laki-laki). Kamu harus tahu. Kalau kamu punya papa dengan mama kasih sekolah tinggi buka Cuma sekedar untuk kumpul uang. Kita orang mau kamu kasih hidup ini tanah. Tanah tempat kamu punya leluhur hidup dan bekerja. Tanah warisan yang harus kamu lestarikan. Karena ini tanah sudah banyak menghasilkan. Salah satunya kamu punya ijazah! Ujar ayahnya panjang lebar.
“Pa, kita mengerti. Tapi kondisi sudah maju begini, masa kita harus kerja di kebun!:” Protesku
“Kenapa? Kamu malu?”
“ Bukan malu tapi…
“Sudahlah! Eh nyong, dengar baik-baik. Kalau kamu pergi, jangan kamu berpikir kita orang berharap kamu punya uang. Kalau kamu pergi kamu sudah bawa jiwa kamu punya mama. Buat kamu punya mama, hidup sudah tidak ada guna kalau kamu pergi lagi. 5 tahun tidak sebentar untuk hibur kamu punya mama. Kita orang banting tulang menghibur diri berharap suatu hari nanti kamu pulang. Lihat sekarang, baru dua minggu kamu punya mama rasa senang karena kamu sudah kembali. Tapi sekarang kamu mau pergi lagi. Kenapa kamu tidak sekalian tikamlah kamu punya mama dengan bambu. Kasih mati saja. Biar selesai penderitaannya di dunia. Tuhan Allah Bapak Di Sorga, biar kasih ampun kita punya ucapan!”
Lamunannya terputus, ketika di rasakan tangan seseorang di lengannya. Tangan seorang remaja laki-laki.
“Papa ada melamun?” Tanya si bocah
“Tidak,. Papa ada lihat kita orang punya kebon!”
“Panen sudah mau tiba kan?
“Iya!”
“Jadi kita beli mobil?
“Kalau uangnya sudah terkumpul”
“Pasti terkumpul, kita orang punya cengkeh paling bagus kwalitasnya kan?
“Kamu sudah pandai rupanya?
“Om Arnold ada bilang, kalau ada mobil sendiri kita bisa bawa langsung ke pembel?
“Betul tapi kita harus bersatu dengan petani cengkeh yang lain supaya bisa jaga itu harga”
“Tapi kalau mereka orang tidak mau?”
“Kita harus kasih pengertian, keringat kita orang ada nilainya”
“Tapi pabrik rokok di Jawa punya kuasa kan!”
“Jangan lupa, kita orang yang punya cengkeh. Jadi kita orang yang akan mengatur!”
Saat mentari mulai turun, di ujung barat semburat kemerahan memperindah permandangan. Senja turun mengantar malam yang kan menjelang. Bulan bundar mulai mengintip separuh badan. Lama-kelamaan sosoknya yang putih pucat semakin nyata di antara pohon-pohon kelapa. Malam indah dengan taburan bintang, seakan turut menjaga bunga-bunga cengkeh.
Berabad-abad lampau, karena hasil tanah ini maka orang asing mau datang dan bertransaksi. Bahkan hingga Indonesia merdeka, Cengkeh tetap permata buat masyarakat Minahasa. Sayang kebodohan dan keserakahan telah merampas kesejahteraan hidup masyarakat Minahasa.
Di ruang tamu berukuran 3 x 5 meter, berisi seperangkat kursi dan satu meja kerja kecil di sudut ruang. Seperangkat peralatan komputer tertata apik di atasnya. Yah teknologi telah membantu meluruskan jalan perdagangan , memangkas habis semua bentuk percaloan. Laki-laki gagah itu, kerap menggunakan komputer usai berkebon. Dengan bantuan teknologi, kini ia tak lagi menatap miris, ijazah perguruan tinggi yang terbingkai rapi di dinding.
Ayahnya benar, ijazah itu hanya selembar kertas tak bermakna, usaha dan kerja kerasnya yang memberi makna pada
selembar ijazah. Namanya yang terukir indah di ijazah itu kini sebanding lurus dengan tetesan keringat yang membasahi kebon cengkehnya. Namanya akan berurat dan berakar bukan hanya di kebon cengkehnya. Tapi juga menjadi motivasi bagi pemuda-pemuda di kampungnya, untuk kembali menggarap tanah. Gelar-gelar sarjana kini menjadi sekedar gelar karena di tiap-tiap kebon yang di garap gelar sarjana tak ada arti, yang memberi arti adalah gerakan tangan saat membelai mesra batang cengkeh. Saat membabat habis semua benalu dan kebahagiaan bukanlah saat menerima gaji tapi kegembiraan menjadi nyata saat putik cengkeh berbunga. Memberi makna tak ada keringat yang sia-sia.
Janji leluhur sudah ditepati, tak ada tanah yang tak menghasilkan. Tinggal bagaimana kedua tangan dan kaki menari, diiringi musik alam, mencangkul dan memotong agar bisa membuat yang terbaik. Karena bumi selalu berterima kasih, sebanyak tangan dan kaki mengolah sebanyak itu pula kelak hasil yang akan di panen. (15 Juni 2007)
Sumber : http://www.sekolahkehidupan.com/new/index.php?option=com_content&task=view&id=725&Itemid=30
Bangsa kita adalah bangsa yang besar! Kata – kata itulah yang selama beberapa tahun saya dengar dari ibu bapak guru sejak saya SD. Betapa bangganya saya ketika itu. Saya merasa menjadi bagian dari sebuah bangsa yang besar, yang membawa pengaruh besar pada dunia. Namun, pemikiran itu lambat laun terkikis habis dari setiap sel – sel neuron saya. Bagaimana tidak, setiap hari terpapar dengan sangat jelas bagaimana keterpurukan bangsa ini di hadapan mata saya. Korupsi, kolusi, nepotisme dimana-mana. Seakan- akan telah menjadi agenda rutin bagi bangsa ini. Dan hal yang paling membuat saya miris adalah ketika saya melihat di sekeliling bagaimana kebobrokan perilaku pelajar-pelajar, tunas muda, penerus perjuangan bangsa ini. Mereka menjual harga diri bangsa hanya demi selembar ijazah baru di akhir tahun ajaran nanti.
Sungguh lucu negeri ini, semua hal yang ada di atas ranah Ibu Petiwi dinilai berdasarkan selembar ijazah. Semakin bagus isi ijazahmu dan semakin tinggi tingkatannya maka semakin sejahtera hidupmu nantinya. Dari selembar ijazah hidupmu di tentukan. pada selembar ijazahlah kerjamu, kehidupan sosialmu bahkan posisimu di dalam masyarakat digantungkan. Semuanya bertitik tumpu pada selembar ijazah. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi orientasi pelajar-pelajar Indonesia. Tak ada lagi jiwa-jiwa yang semangat menimba ilmu, tak ada lagi wajah-wajah yang haus akan pengetahuan. Hampir semua pelajar Indonesia mati. Mati karena sistem pendidikan yang berjalan. Sistem yang mengedepankan nilai akademis sehingga membuat siswa tidak bisa menikmati dunia pengetahuan.
Pemerintah Indonesia mencoba meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini dengan berbagai cara. Namun, sangat disayangkan sekali karena pada akhirnya cara-cara ini menjadi bumerang yang semakin menghancurkan moral pendidikan bangsa. Sebagai contoh dengan diadakannya ujian nasional, sistem mendidik siswa menjadi koruptor-koruptor kecil. Beribu-ribu kunci jawaban ujian beredar melalui jaringan telepon, kertas-kertas contekan berterbangan. Hal ini secara tidak langsung memberi pelejaran pada generasi muda bagaimana cara menjadi seorang koruptor yang handal. Kemudian, saat mereka berhasil bermetamorfosis menjadi tikus-tikus negara pemerintah menghabiskan dana besar-besaran untuk menghabisi mereka. Negeri ini, negeri kita, mendidik rakyatnya menjadi koruptor yang kelak akan ia musuhi mati-matian.
Demi selembar ijazah ini, harga diri bangsa kita sebagai bangsa yang beradab dijual. Pada penyelenggaraan ujian naisonal yang diadakan pada tahun 2010 kemarin pemerintah menemukan 900 kecurangan. Hal ini terjadi karena sistem mengharuskan siswa memiliki nilai bagus tanpa memperhatikan penguasaan ilmu itu sendiri, standar kompetisi yang tinggi dan berorientasikan pada nilai serta kurang maksimalnya pengajaran di dalam kelas turut mengembil peran atas peristiwa ini. Belum lagi iming-iming beasiswa dari pemerintah yang akan diberikan pada siswa yang memiliki nilai paling tinggi. Bukankah sangat ironis? Nilai-nilai siswa yang diperoleh entah dengan cara apa, mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Ijazah, tak hanya menjadi raja bagi para pelajar yang merupakan titik ukur kebehasilan dalam menempuh masa sekolah selama beberapa tahun. Namun ia juga merupakan dewa bagi para pemimpin bangsa. Sungguh memilukan ketika mendengar terdapat beberapa calon pemimpin bangsa yang menggunakan ijazah palsu sebagai bukti pendidikan mereka. Tak dapat dibayangkan jika seandainya terdapat manusia seperti ini yang memegang kemudi pemerintahan. Wajar jika korupsi sulit di brantas.
Entah bagaimana negeri ini kedepannya jika paradigma ini terus mengendap dalam rakyat Indonesia. Harga diri kita tentu akan dibantai habis-habisan. Lagi, hanya demi selembar ijazah. Apakah ini yang benar-benar kita inginkan? Bangsa yang harga dirinya selembar ijazah? Sementara pada kenyataanya, nilai akademis bukan merupakan penentu kecakapan seseorang. Saatnya mengubah orientasi pelajar dan pemerintah untuk tidak hanya menetapkan nilai sebagai standar kemampuan seseorang. Karena jika bukan kita yang mengubahnya, siapa lagi? Bukankah sudah saatnya membuktikan pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar?
Sumber : http://archiaichi.wordpress.com/2010/12/05/harga-diri-kami-berupa-selembar-ijazah/
Sungguh lucu negeri ini, semua hal yang ada di atas ranah Ibu Petiwi dinilai berdasarkan selembar ijazah. Semakin bagus isi ijazahmu dan semakin tinggi tingkatannya maka semakin sejahtera hidupmu nantinya. Dari selembar ijazah hidupmu di tentukan. pada selembar ijazahlah kerjamu, kehidupan sosialmu bahkan posisimu di dalam masyarakat digantungkan. Semuanya bertitik tumpu pada selembar ijazah. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi orientasi pelajar-pelajar Indonesia. Tak ada lagi jiwa-jiwa yang semangat menimba ilmu, tak ada lagi wajah-wajah yang haus akan pengetahuan. Hampir semua pelajar Indonesia mati. Mati karena sistem pendidikan yang berjalan. Sistem yang mengedepankan nilai akademis sehingga membuat siswa tidak bisa menikmati dunia pengetahuan.
Pemerintah Indonesia mencoba meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini dengan berbagai cara. Namun, sangat disayangkan sekali karena pada akhirnya cara-cara ini menjadi bumerang yang semakin menghancurkan moral pendidikan bangsa. Sebagai contoh dengan diadakannya ujian nasional, sistem mendidik siswa menjadi koruptor-koruptor kecil. Beribu-ribu kunci jawaban ujian beredar melalui jaringan telepon, kertas-kertas contekan berterbangan. Hal ini secara tidak langsung memberi pelejaran pada generasi muda bagaimana cara menjadi seorang koruptor yang handal. Kemudian, saat mereka berhasil bermetamorfosis menjadi tikus-tikus negara pemerintah menghabiskan dana besar-besaran untuk menghabisi mereka. Negeri ini, negeri kita, mendidik rakyatnya menjadi koruptor yang kelak akan ia musuhi mati-matian.
Demi selembar ijazah ini, harga diri bangsa kita sebagai bangsa yang beradab dijual. Pada penyelenggaraan ujian naisonal yang diadakan pada tahun 2010 kemarin pemerintah menemukan 900 kecurangan. Hal ini terjadi karena sistem mengharuskan siswa memiliki nilai bagus tanpa memperhatikan penguasaan ilmu itu sendiri, standar kompetisi yang tinggi dan berorientasikan pada nilai serta kurang maksimalnya pengajaran di dalam kelas turut mengembil peran atas peristiwa ini. Belum lagi iming-iming beasiswa dari pemerintah yang akan diberikan pada siswa yang memiliki nilai paling tinggi. Bukankah sangat ironis? Nilai-nilai siswa yang diperoleh entah dengan cara apa, mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Ijazah, tak hanya menjadi raja bagi para pelajar yang merupakan titik ukur kebehasilan dalam menempuh masa sekolah selama beberapa tahun. Namun ia juga merupakan dewa bagi para pemimpin bangsa. Sungguh memilukan ketika mendengar terdapat beberapa calon pemimpin bangsa yang menggunakan ijazah palsu sebagai bukti pendidikan mereka. Tak dapat dibayangkan jika seandainya terdapat manusia seperti ini yang memegang kemudi pemerintahan. Wajar jika korupsi sulit di brantas.
Entah bagaimana negeri ini kedepannya jika paradigma ini terus mengendap dalam rakyat Indonesia. Harga diri kita tentu akan dibantai habis-habisan. Lagi, hanya demi selembar ijazah. Apakah ini yang benar-benar kita inginkan? Bangsa yang harga dirinya selembar ijazah? Sementara pada kenyataanya, nilai akademis bukan merupakan penentu kecakapan seseorang. Saatnya mengubah orientasi pelajar dan pemerintah untuk tidak hanya menetapkan nilai sebagai standar kemampuan seseorang. Karena jika bukan kita yang mengubahnya, siapa lagi? Bukankah sudah saatnya membuktikan pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar?
Sumber : http://archiaichi.wordpress.com/2010/12/05/harga-diri-kami-berupa-selembar-ijazah/
Kurang lebih akhir tahun 2008, pas ada Expo di Lap. Rampal Malang...
Waktu itu saya n seorang temen sebut aja Rahmat, datang ke Expo tersebut...
Pas lagi keliling-keliling, lumayan capek kan...
NAh abis tu laper deh terasa,
maka kami putuskan cari warung makan di area Expo tersebut.
ada satu stan bakso n soto yang jadi tujuan kami..
Ketika kami menunggu pesanan kami datang,
Ada anak kecil kira-kira usianya 7 tahun menghampiri kami.
"Pak, minta duit pak..."katanya
teman saya bilang "Buat apa?"
"Lapar pak, buat makan.."jawabnya
Teman saya tanya lagi "kamu mau makan apa?, kita pesenin makan bareng dsni ya..."
"ga mau pak, bungkus aja.."
lalu temen saya menoleh ke arah saya n berkata "Pri, jgn dikasih klo minta bungkusan ntar bukan dia yang makan tapi orang lain."
dalam hati saya berkata "masa iya ya... tapi kasihan ni anak."
Saya : km sama siapa ke sini?
Anak kecil : sama ibu pak
saya : di mana ibumu?
anak kecil : ngemis pak di sana...(sambil menunjuk ke arah selatan)
Saya : Kamu sekolah di mana?
Anak kecil : Saya udah ga sekolah..
SAya : kenapa?
Anak kecil : ga punya uang...
saya : udah kamu makan dsni aja bareng kami ya...
anak kecil : ga mau pak, takut... ( matanya memerah sambil seakan menahan tangis dalam hati ) saat itu, emosi saya langsung meluap dalam hati.. siapa yang sungguh tega membuat anak kecil ini ketakutan seperti itu, hanya karena diajak makan orang lain...
saya : kenapa takut? dimarahi ibu?
anak kecil : nggak (sambil menggelengkan kepala), bungkus aja pak...
Rahmat : nanti klo km bungkus, diambil sama orang km ga jadi makan.
dia hanya diam aja... beberapa saat kemudian
Anak kecil : Saya panggil teman saya dulu pak...
Saya : iya panggil semua temenmu ksini tapi makan dsni semua ya,..
Dia pergi, tak berapa lama dia kembali (sendirian)
Saya : mana temanmu?
Anak kecil : ga ada pak...
SAya : ya udah klo gitu makan dsni aja ya...
Anak Kecil : ga mau takut...
saat itu juga saya keluar dari warung dan melihat sekeliling, siapa yang bikin anak ini ketakutan seperti ini. setelah saya lihat tidak ada orang yang mencurigakan,
saya mendatangi Rahmat " Aku kesel bgt, ni pasti ada yg nyuruh dia ngemis n' dia pasti diperbudak...! udah lapor polisi aja..."
Rahmat : ga usah kita kan ga tahu siapa yg nyuruh dia...
Saya : iya, tapi gmana? aku kesel banget ni, resek banget tuh orang!!!
akhirnya kami menawarkan anak itu lagi untuk ketiga kalinya, supaya dia mau makan bersama kami..
tapi, dia tetap menolaknya dan pergi begitu saja...
Dalam hati saya masih bertanya-tanya...
Kenapa ada orang yang begitu tega berbuat seperti itu kepada anak-anak ini?
Apa yang mereka lakukan pada anak-anak ini, sampai mereka tidak berani sedikitpun mengungkap identitas orang2 yang menyuruh mereka?
apa yang terjadi pada anak itu kalau malam ini dia tidak menghasilkan apa2 bagi penyuruh mereka?
Wallahu A'lam.......
Waktu itu saya n seorang temen sebut aja Rahmat, datang ke Expo tersebut...
Pas lagi keliling-keliling, lumayan capek kan...
NAh abis tu laper deh terasa,
maka kami putuskan cari warung makan di area Expo tersebut.
ada satu stan bakso n soto yang jadi tujuan kami..
Ketika kami menunggu pesanan kami datang,
Ada anak kecil kira-kira usianya 7 tahun menghampiri kami.
"Pak, minta duit pak..."katanya
teman saya bilang "Buat apa?"
"Lapar pak, buat makan.."jawabnya
Teman saya tanya lagi "kamu mau makan apa?, kita pesenin makan bareng dsni ya..."
"ga mau pak, bungkus aja.."
lalu temen saya menoleh ke arah saya n berkata "Pri, jgn dikasih klo minta bungkusan ntar bukan dia yang makan tapi orang lain."
dalam hati saya berkata "masa iya ya... tapi kasihan ni anak."
Saya : km sama siapa ke sini?
Anak kecil : sama ibu pak
saya : di mana ibumu?
anak kecil : ngemis pak di sana...(sambil menunjuk ke arah selatan)
Saya : Kamu sekolah di mana?
Anak kecil : Saya udah ga sekolah..
SAya : kenapa?
Anak kecil : ga punya uang...
saya : udah kamu makan dsni aja bareng kami ya...
anak kecil : ga mau pak, takut... ( matanya memerah sambil seakan menahan tangis dalam hati ) saat itu, emosi saya langsung meluap dalam hati.. siapa yang sungguh tega membuat anak kecil ini ketakutan seperti itu, hanya karena diajak makan orang lain...
saya : kenapa takut? dimarahi ibu?
anak kecil : nggak (sambil menggelengkan kepala), bungkus aja pak...
Rahmat : nanti klo km bungkus, diambil sama orang km ga jadi makan.
dia hanya diam aja... beberapa saat kemudian
Anak kecil : Saya panggil teman saya dulu pak...
Saya : iya panggil semua temenmu ksini tapi makan dsni semua ya,..
Dia pergi, tak berapa lama dia kembali (sendirian)
Saya : mana temanmu?
Anak kecil : ga ada pak...
SAya : ya udah klo gitu makan dsni aja ya...
Anak Kecil : ga mau takut...
saat itu juga saya keluar dari warung dan melihat sekeliling, siapa yang bikin anak ini ketakutan seperti ini. setelah saya lihat tidak ada orang yang mencurigakan,
saya mendatangi Rahmat " Aku kesel bgt, ni pasti ada yg nyuruh dia ngemis n' dia pasti diperbudak...! udah lapor polisi aja..."
Rahmat : ga usah kita kan ga tahu siapa yg nyuruh dia...
Saya : iya, tapi gmana? aku kesel banget ni, resek banget tuh orang!!!
akhirnya kami menawarkan anak itu lagi untuk ketiga kalinya, supaya dia mau makan bersama kami..
tapi, dia tetap menolaknya dan pergi begitu saja...
Dalam hati saya masih bertanya-tanya...
Kenapa ada orang yang begitu tega berbuat seperti itu kepada anak-anak ini?
Apa yang mereka lakukan pada anak-anak ini, sampai mereka tidak berani sedikitpun mengungkap identitas orang2 yang menyuruh mereka?
apa yang terjadi pada anak itu kalau malam ini dia tidak menghasilkan apa2 bagi penyuruh mereka?
Wallahu A'lam.......
Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=127535
Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siomay keliling. Namun, berkat penampilannya yang eksentrik, predikat miliarder itu tampaknya bakal kembali disandangnya.
Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.
Minggu lalu (16/1) INDOPOS menelusuri rute jualan Sriyono di kawasan kelas menengah ke atas di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan, tak ada orang yang tahu namanya. Tapi, ketika disebut nama Siomay Pink (barang dagangan Sriyono), kebanyakan warga yang ditemui mengenali. Mulai sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak.
Siomay Pink juga menjadi identitas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu di dunia maya. Mesin pencari Google menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling di atas sepeda pink.
Sriyono menjadi topik hangat di kalangan komunitas entrepreneur. Sebab, selain berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, kegigihannya dalam berwirausaha menjadi inspirasi tersendiri.
’’Mungkin karena saya dianggap nyentrik. Itu saja. Tapi, entahlah, saya nikmati saja momen-momen ini,’’ ujarnya sambil melayani pelanggan. Dia pun meracik bumbu siomay dari panci pink yang terikat di belakang sepeda pink yang telah dimodifikasi dengan sejumlah kotak kayu yang juga berwarna pink. Di depan sepeda itu terdapat dua keranjang pink dengan dua teddy bear pink terduduk di dalamnya.
Sriyono juga mengenakan kaus pink, bercelana pendek pink, topi pink, serta jam dan bahkan anting pink Namun, di balik penampilan nyentrik itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang cukup berliku.
Kisah sukses Sriyono dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954, tersebut merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka.
Dialah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.
Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil. Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat outlet di salah satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan.
Sriyono adalah pendiri dan pemilik outlet Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Sriyono mengenang, tinggal di ibu kota dengan duit melimpah ketika itu bagai hidup di surga.
Bahkan, bisnisnya sangat kuat sehingga ketika krisis 1998 menerpa modalnya tidak berkurang. Tapi, dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain. April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri seorang polisi.
Pernikahan yang tidak direstui orang tua sang istri itu kemudian menjadi bom waktu bagi kehidupan Sriyono. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.
Ketika itu, dia menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.
Namun, persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai pelan-pelan membuat manajemen bisnisnya kolaps. Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya pun gulung tikar. Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan dikarunia dua anak, yakni Peksi Safira Miradalita (kini 11 tahun) dan Pramesti Dewi Angelita (kini 10 tahun), sang istri menggugat cerai Sriyono. ’’Saya ingat. (Saat itu) hanya baju yang melekat di badan yang saya miliki,’’ kenangnya sambil menerawang.
Setelah perceraian, sang istri kemudian mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya. Dalam kondisi bangkrut, Sriyono sempat ditampung mantan rekan-rekan bisnisnya.
Dia pun sempat mendapat bantuan modal dan berusaha merintis lagi usaha siomay kelilingnya mulai nol dengan konsep awal, yakni belasan armada siomay keliling. Tapi, pada 2008, usaha itu lagi-lagi bangkrut. ’’Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan.
Dia pun memilih menjadi gelandangan dan tinggal di jalanan kotakota Jakarta. Tiap malam, dia tidur berpindah- pindah, dari halte bus ke kolong jembatan dan dari pinggir jalan ke masjidmasjid. Hingga 2009, Sriyono memilih menetap di Masjid Al Bina di kawasan Senayan.
Setelah beberapa minggu tinggal di sana, tiba-tiba dia mendapat bantuan modal dari seorang jamaah pengajian yang mengetahui latar belakang dirinya sebagai pengusaha siomay. ’’Waktu itu saya diberi modal Rp 1 juta untuk memulai bisnis lagi,’’ katanya.
Awal 2010, Sriyono pun sudah memiliki gerai siomay di mal Pasaraya Blok M yang bernama Siomay Maestro. Namun, lagi-lagi karena tinggal kesepian dan rindu kepada dua buah hatinya, konsentrasinya dalam berbisnis terganggu. Dia pun kembali bangkrut. Sampai saat ini, Sriyono masih berutang kepada manajemen Pasaraya Rp 13 juta.
Di ambang keputusasaan, sebulan menjelang bulan puasa 2010, dia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik.
Diharapkan, ketika dia menjadi eksentrik, sang anak akan mengetahui dan dirinya dapat bersua dua buah hatinya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar itu. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan. Pernak-pernik pink pun dikenakan untuk berdagang keliling.
Dia juga berusaha tampil di setiap momentum di mana publik Jakarta banyak yang berkumpul. Sriyono akhirnya dijuluki ’’maskot’’ dalam even Hari Bebas Kendaraan alias Car Free Day yang diberlakukan sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. ’’Semakin banyak orang yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin besar,’’ katanya.
Tapi, usaha tampil nyeleneh itu tidak semudah yang dia bayangkan. Setiap hari, bahkan sampai sekarang, Sriyono harus rela menjadi bahan ejekan orang-orang yang lewat. Tak jarang perkataan mereka sangat pedas dan menusuk hati. Tak sedikit yang mengira Sriyono adalah seorang waria yang nyambi berjualan siomay saat siang dan ’’berpraktik’’ saat malam.
Tapi, demi menemukan sang anak, hinaan dan cacian itu ditanggapi dengan se-nyum dan hati ikhlas. Bahkan, kini dia sudah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink, 3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan tiga pasang sepatu pink.
Upaya tampil eksentrik itu membuahkan hasil ketika dirinya muncul sebagai topik di Twitter dan BlackBerry Messenger. Popularitasnya menanjak ketika kisah usahanya dipublikasikan di situs kaskus.us.
Pertengahan Desember 2010, sebuah koran berbahasa Inggris di Jakarta memuat foto Sriyono dengan full aksesori pink. Hasilnya, pekan lalu, awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan sang anak.
’’Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya,’’ ujarnya, kali ini sambil terisak.
Tampil di televisi mendatangkan keuntungan bagi usaha Sriyono. Dalam dua pekan terakhir, omzet berjualan keliling yang biasanya hanya Rp 200 ribu per hari naik lima kali lipat menjadi Rp 1 juta per hari. Banyak pesanan dalam jumlah besar sehingga pendapatan berjualan berkeliling terdongkrak. Sejak pekan lalu, seorang pengusaha getol menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta.
Dia juga mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Rundown jadwal casting oleh sebuah rumah produksi juga sudah di tangannya. Lalu, apa yang akan dilakukan sekarang? Sriyono menyatakan, dirinya masih berencana meneruskan usaha berjualan dan akan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Dia fokus meraih sukses lagi dengan Siomay Yo Pink itu.
’’Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,’’ ujarnya lantas tersenyum.
Sumber : http://wawanwae.blogspot.com/2011/01/sriyono-mantan-miliarder-yang-kini-jadi.html



